Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain

Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain
kepergian Risma juga Clara


"Pergilah, jika memang itu bisa membuat kamu bisa bernafas lega. Pikirkan lagi apa yang menjadi keputusan kamu, Ma! Aku pun juga akan merenung dan memikirkan semua ini. Doakan aku, semoga bisa memilih dan mengambil keputusan yang tak menyakiti hati siapapun.


Maafkan aku!


Aku tau, kesalahan ini terlalu besar, sehingga mungkin kamu sudah enggan untuk memaafkannya. Aku ridhoi setiap langkah kamu.


Karena aku percaya, istriku pasti akan menjaga dirinya dengan baik. Aku iklas, pergilah dan mari kita saling berpikir dan introspeksi diri masing masing dengan hati yang tenang." sahut Pandu sambil menatap lurus ke depan, berulang kali menghembuskan nafasnya dalam dan terus mengucap istighfar di dalam hatinya, agar selalu bisa mengendalikan dirinya tanpa menonjolkan egonya.


"Terimakasih, Mas!" Risma tersenyum tipis di wajah teduhnya. Pagi ini dia terlihat begitu cantik di mata Pandu Aditama. Tanpa polesan make up, Risma memiliki wajah yang bersih dan putih. Matanya sayu dengan bulu mata yang lentik, hidung mancung dengan bibir yang tipis, rambutnya tergerai indah dengan balutan baju gamis berwarna hitam, warna yang kini menjadi favoritnya. Pandu menatap tanpa kedip wanita yang sedang sibuk mempersiapkan kepergiannya. Risma berjalan pelan menuju meja riasnya, menyapu wajahnya dengan bedak tipis, lalu mulai menguncir rambut panjangnya dan memasang kerudung panjang nan lebarnya, sempurna, cantik, anggun dan begitu indah. Namun masih di sia siakan oleh Pandu Aditama hanya demi seorang Clara, yang bahkan tak perduli dengan perjuangan Pandu.


"Mas Pandu, mau dibawakan bekal lagi?" Setelah selesai bersiap, Risma menghampiri Pandu yang masih mematung menatapnya tanpa suara.


Pandu hanya mengangguk, menahan gejolak yang membuat dadanya kian sesak oleh penyesalannya.


"Ganti baju kamu, Mas! Dan keluarlah untuk sarapan bersama. Aku akan menyiapkan bekal untukmu!" sambung Risma kembali dengan tatapan teduh yang membuat Pandu kian merasa dilema.


Risma keluar dari kamar dan langsung menuju meja makan, disana sudah ada kedua orangtuanya dan kedua anaknya.


Lalu Pandu menyusul bergabung dengan sudah memakai pakaian dinasnya.


Tak ada obrolan selama di meja makan, fokus dengan piring masing masing, namun Pandu, seperti tak selera makan, nasi yang ada di piringnya hanya dia aduk aduk sejak tadi. Risma hanya melirik dan menggelengkan kepalanya.


"Papa gak makan?


Kok dari tadi cuma dilihatin nasinya?" tiba tiba Cinta bersuara mengomentari sikap papanya yang terlihat melamun dan tak baik baik saja. Semua hanya saling tatap tanpa ada yang ikut menimpali.


"Papa sakit ya? jadi gak enak makan gitu.


Wah, Cinta sama mama kan mau menginap dirumah kakek nenek, kalau papa sakit, gagal dong acara nginep nya!" sambung cinta dengan gaya khas anak anaknya.


Pandu tersenyum, berusaha untuk mengendalikan dirinya agar tetap bersikap biasa saja.


"Papa baik baik saja kok sayang, papa cuma lagi mikir saja, nanti pasti kangen sama Cinta juga dek Galang." balas Pandu memasang mimik sedih pada anaknya yang justru tertawa geli melihat tingkah lakunya.


"Papa ih, Cinta kan cuma sebentar kerumah kakek, lagian Papa juga mau ada dinas ke luar kota kan? nanti kita bisa Vidio call kan, jadi papa gak usah khawatir. Cinta, mama, sama dek Galang itu sayang banget sama papa, kita pergi karena kangen saja sama kakek sama nenek, gitu loh, Pa!" sambung Cinta panjang lebar dan membuat Pandu semakin teriris oleh ucapan sang anak, apa lagi Risma, yang langsung memilih berdiri dan pura pura menyibukkan diri dengan menyiapkan bekal untuk Pandu, padahal hatinya sudah tak karuan mendengar kalimat yang Cinta lontarkan dengan pikiran polosnya.


"Siap, laksanakan. Papa!" sahut Galang hormat, menirukan gaya papanya. Menggemaskan!


"Ini Mas, kotak bekalnya, jangan sampai lupa." Risma menyodorkan kotak makan pada Pandu dengan senyuman tipis dan mata yang mulai menampakkan mendung.


Pandu menerimanya dengan tatapan dalam. "Terimakasih, Ma!" sahut Pandu tersenyum, dan mengambil kotak makan yang ada ditangan istrinya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Risma, kedua anaknya, dan kedua orang tuanya memasuki mobil milik pak Damar. Pajero sport warna hitam yang terparkir di depan halaman rumah, dan sopir pribadi pak Damar sudah setia menunggu sejak tadi pagi.


Pandu mengantarkan kepergian istri, anak anaknya dan kedua mertuanya dengan perasaan yang berat.


Memandangi mobil yang berlahan meninggalkan halaman rumahnya dan mulai hilang dari pandangan nya, Pandu mulai menyadari, arti dari sebuah kesetiaan dan kepekaan dalam sebuah rumah tangga.


Tak ingin larut dengan keadaan, Pandu memutuskan untuk berangkat ke kantor, banyak pekerjaan yang harus segera di urus.


Kepergian anak istrinya, akan Pandu jadikan nasehat dan cambuk untuk dirinya agar bisa berubah jadi lebih baik. Dan mencari jalan keluar agar masalahnya dengan kedua istrinya menemukan titik terang tanpa menyakiti salah satunya.


Melajukan mobilnya berlahan, menata hati dan menjaga pikirannya agar tetap baik baik saja tanpa menganggu pekerjaannya.


Namun sebelum menuju kantornya, Pandu terlebih dulu akan menjemput Clara, karena sudah berjanji akan mengantarkan kembali pulang ke Kediri.


"Aku akan menghubungi Clara, untuk bersiap, agar nanti aku tidak perlu masuk ke dalam hotel dan segera bisa mengantarkan kembali pulang ke Kediri. Huftt, Clara sudah benar benar menguji kesabaran ku." Pandu bergumam sendirian di dalam mobil dan mulai mengambil ponselnya, menghubungi nomor Clara, namun tidak aktif.


"Kenapa tidak aktif?


Clara! Clara! apa sebenarnya yang ada di pikiran kamu itu, jangan menguji kesabaran ku terus menerus." sungut Pandu kesal dan menambah laju kendaraannya agar cepat sampai ke hotel dimana Clara menginap.


Mobil Pandu memasuki pelataran hotel, dan dengan tergesa turun setelah mengulangi panggilan telepon yang masih tetap tidak terhubung, Pandu sedikit cemas, melangkah masuk dan segera menuju kamar yang kemarin Pandu pesan untuk istri keduanya.


Pandu mengetuk pintu berulang, namun tak juga ada tanggapan, dan mencoba membukanya ternyata tidak terkunci, Kosong! saat Pandu sudah memasuki kamar, tak ada tanda tanda Clara ada disana, dan tas yang dibawa Clara juga sudah tidak ada di tempat.


"Kamu memang keras kepala, Clara! Selalu bertindak sesuka kamu tanpa mau mendengarkan aku suamimu!" Pandu kecewa dengan sikap istri keduanya, kembali keluar dari kamar dan menemui petugas untuk menyerahkan kunci kamarnya, cek out. Berjalan tegap dengan pikiran yang semakin kacau, Clara benar benar menguras emosinya.