Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain

Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain
Surabaya


Menjalani rumah tangga tanpa sentuhan, tanpa perasaan, hanya melakukan karena sebuah kewajiban dan keharusan, adalah sesuatu yang membuat dadanya kian sesak dan tersiksa.


Mengumpulkan kembali puzzle puzzle yang telah berantakan memang tidak mudah, butuh kesabaran dan juga ketelatenan.


Hingga hatinya benar benar yakin, jika pilihannya memang pantas untuk dia pertahankan.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


"Ma!" Pandu menatap istrinya yang tengah memakai krim malam di depan cermin meja riasnya.


Risma menoleh dan juga menatap Pandu yang tengah berbaring di atas kasur.


"Iya! ada apa?" sahut Risma dengan tatapan penuh ke arah suaminya.


"Aku mau ada dinas keluar kota selama dua minggu, kamu ikut?" Pandu akan ada dinas ke luar kota selama dua Minggu, tidak tega meninggalkan istrinya dirumah sendirian, takut kalau Erna datang mengusik kembali dan juga khawatir dengan kesehatan sang istri.


"Dua Minggu?


Kalau aku ikut gimana dengan anak anak?" Risma mengerutkan keningnya bingung, karena tidak mungkin meninggalkan anak anaknya dirumah sendirian bersama pembantu.


"Aku tidak tenang, meninggalkan kamu dirumah dalam kondisi saat ini. Aku khawatir Erna akan datang menemui kamu lagi dan bersikap lebih dari kemarin. Entahlah perasaan ku kok gak enak saja." Pandu dihinggapi perasaan khawatir, padahal dia juga sering pergi keluar kota untuk tugas, tapi perasaannya tidak secemas saat ini.


"Aku akan minta ibu sama ayah sementara tinggal disini, menemaniku dan anak anak, gimana?" sahut Risma hati hati.


"Kamu yakin?


Kalau ibu sama ayah tidak keberatan gak papa, aku akan tenang meninggalkan kalian. Coba kamu telepon mereka." balas Pandu dengan tersenyum lega dengan ide istrinya. Pasti orang tua Risma akan menjaga putri dan cucunya dengan sangat baik.


"Papa akan dinas kemana?" sambung Risma sambil mengambil ponselnya dan mulai mencari kontak ibunya.


"Surabaya, ada yang harus diselesaikan disana." sahut Pandu jujur dan tidak ingin menyembunyikan apapun dari istrinya. Risma hanya mengangguk dan kembali fokus pada sambungan telepon ke ibunya.


Tak butuh waktu lama, akhirnya telepon diangkat oleh ibunya, dan Risma mengatakan apa yang menjadi tujuannya menelpon ibunya, tanpa pikir panjang ibunya tapi sama pun langsung mengiyakan, justru sangat senang karena bisa dekat dan bermain dengan cucu cucunya.


"Mama mau dan beliau justru sangat senang, karena memang sudah sangat rindu sama cucu cucunya!" Risma memberitahu obrolannya pada Pandu yang mengangguk lega.


"Baiklah, besok aku berangkat jam sembilan pagi dengan mobil kantor. Kamu hati hati ya dirumah. Titip anak anak. Maaf kalau aku sering meninggalkan kalian seperti ini." Pandu merasa bersalah dengan kondisi Risma yang tengah hamil dan anak anak yang masih kecil, Pandu sering dapat tugas dinas keluar kota, meninggalkan istrinya mengurus semua sendiri. Namun Risma sama sekali tidak pernah mengeluh.


"Jangan merasa bersalah seperti itu, aku sangat paham dengan konsekuensi pekerjaan suamiku. Percayalah, aku selalu iklas dan menyertai langkah suamiku dengan doa. Kamu pahlawan kami, Pa!"


Risma mendekat ke arah Pandu, duduk di samping sang suami. Mata keduanya saling bertatapan dalam. Hingga tangan Pandu mulai merengkuh tubuh istrinya yang mulai berisi karena kehamilannya.


"Gak papakan, aku ingin melihat Dede di dalam sana?" bisik Pandu dengan nafas yang sudah tidak teratur. Meluapkan rasa rindunya dan meminta haknya sebelum pergi meninggalkan istrinya demi tugas.


Risma tersipu, dan mengangguk pasrah saat tangan suaminya mulai bermain di setiap inci tubuhnya. "Hati hati, Mas!" lirih Risma sambil menikmati setiap sentuhan dari Pandu.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Pandu berangkat dengan senyuman hangat, menatap istrinya sayang dengan perut yang sudah mulai terlihat besar. Anak anak sudah berangkat ke sekolah. Sedangkan mertuanya akan datang agak siang.


"Aku berangkat ya, salam sama anak anak dan ibu juga ayah. Kamu hati hati dirumah, jangan bukakan pintu kalau tidak kenal siapa yang bertamu. Asalamualaikum sayang!" Pandu mencium kening istrinya lama, enggan meninggalkan wanita tercintanya, namun tugas sudah menantinya.


"Waalaikumsallm, hati hati, Pa!


Nanti kalau sampai kasih kabar ya, biar aku gak cemas!" sahut Risma dengan tersenyum manis dan mencium punggung tangan suaminya takzim.


Pandu memasuki mobil dinasnya, sudah ada ajudannya yang ada dibalik kemudi.


Mobil mulai melaju meninggalkan halaman rumah. Risma melepas kepergian suaminya dengan senyuman dan doa, berharap Pandu selalu dalam perlindungan Tuhan Yang Maha Esa.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Namun Erna seolah enggan meninggalkan kota Surabaya, mungkin sudah ada Clara yang membuatnya merasa nyaman di kota itu.


"Aku ingin tinggal di Surabaya saja, meninggalkan kehidupanku di Jakarta. Tapi bagaimana dengan karierku?" Erna termenung sendirian di dalam kamar hotelnya. Membuka buku tabungannya yang sudah hampir lebih dua milyar.


Memikirkan akan membuka usaha di Surabaya dan membeli hunian sederhana dengan uang tabungannya.


"Apa aku jual apartemen saja, lalu uangnya bisa buat membeli rumah di sini, aku ingin membuka lembaran baru. Mencari kehidupanku di kota ini. Mungkin Clara bisa membantuku, usaha apa yang cocok aku jalani setelah ini. Jika ada yang mau memakai jasaku di dunia modelling di sini akan tetap aku jalani, tapi aku akan fokus ke usaha, tapi apa?" Erna terus berpikir dengan keras, saat ini dia sudah tidak terikat kontrak dengan pihak manapun, jadi dia bebas mau memilih apa yang ingin dia lakukan setelah ini.


Erna mengambil ponselnya dan menekan nomor Clara, dalam hitungan detik, Clara sudah menjawab panggilan dari Erna dengan sumringah.


"Asalamualaikum, Erna! Apa kabarnya kamu, dua hari ilang gitu aja, sibuk banget ya?" sambut Clara saat mengawali obrolannya dengan Erna.


"Waalaikumsallm! Maaf, Ra!


Aku dua hari ini sedang fokus dengan pemotretan, menyelesaikan kontrakku. Hari ini sudah terakhir kali aku aku terikat dengan mereka.


Lusa harus kembali ke Jakarta, tapi kenapa aku kok merasa berat meninggalkan kota ini ya?" Sahut Erna jujur, mengatakan yang sebenarnya pada Clara.


"Berati kamu betah di Surabaya!


Tinggal saja di Surabaya, biar kita juga sering ketemuan." sahut Clara dengan tawa lirihnya, karena tak mungkin meminta sesuatu yang tidak harus dilakukan oleh sahabatnya.


"Aku juga inginnya seperti itu, tapi aku harus siap kehilangan pekerjaan yang di Jakarta.


Tapi aku berniat buka usaha di Surabaya, tapi apa ya, kamu ada ide, Ra?"Erna membalas ucapan Clara serius, yakin kalau ingin tatap berada di Surabaya dan punya usaha sendiri.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


New karya Hawa


#Negeri dongeng Alisia


#Kasih sayang yang salah


#Cinta berbalut Nafsu


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


Happy ending ❤️