
Dan yang terakhir Risma mengunggah foto kebersamaan mereka dengan pose ceria dan harmonis yang diberinya caption " Keluarga penuh cinta meskipun sedang ada badai yang menimpa tetap cinta kami utuh."
Risma tersenyum dan melanjutkan acara makan makannya, dan tak lupa meminta untuk berfoto bersama lalu kembali dia memposting tanpa disertai caption.
"Kita lihat, Mas!
Istri kedua kamu pasti akan meraung merasa tersakiti melihat status yang aku kirim di story watshap kamu. Ah indahnya!" batin Risma bahagia.
"Ma, kamu dari tadi senyum senyum kenapa?" tiba tiba suara Pandu membuat Risma mengalihkan pandangannya ke arah sang suami yang tengah mengernyit heran.
"Gak papa, lagi seneng saja. Kita gak pernah seharmonis ini kan sebelumnya?" Sahut Risma sambil tersenyum dan menatap Pandu lekat.
"Tapi kita juga sering jalan jalan kan, Ma? Dan akhir akhir ini kita sedang sibuk dengan pekerjaan kita masing masing, jadi gak ada waktu untuk menghabiskan waktu bersama. Tapi aku janji, setelah ini akan meluangkan waktu seminggu satu kali untuk quality time dengan kalian." Sahut Pandu serius, dan di balas senyuman lebar oleh Risma. Kembali pikiran cerdasnya ingin membuat sesuatu yang lebih menantang untuk membalas sang istri simpanan suaminya. Jika Pandu menggunakan waktu liburnya untuk anak anak, artinya waktu bersama Clara akan hanya sedikit saja, waktu sisa, dan itupun juga hasil dari sembunyi sembunyi. Pasti hubungan mereka akan dihiasi perselisihan terus menerus nantinya. "Ah pasti seru." batin Risma tertawa miris.
"Aku pegang ucapan anda, Pak Pandu Aditama!" balas Risma tegas dan membuat Pandu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Hapenya sudah, Ma?
Sini aku mau lihat foto foto yang tadi." sambung Pandu yang memang ingin melihat hasil foto dan vidio yang sudah Risma simpan.
"Nanti saja kalau sudah dirumah, ponsel baru dibawa istri sebentar sudah bingung di minta, emangnya mau menghubungi siapa sih?" sahut Risma ketus dan pura pura cemberut, agar Pandu tidak lagi memaksa meminta ponselnya. Karena Risma masih penataan dengan reaksi Clara setelah melihat postingannya.
Pandu menghembuskan nafasnya kasar, dan memilih diam dari pada nanti berbuntut panjang.
Setelah puas menghabiskan waktu bersama, Pandu dan keluarga kecilnya memutuskan untuk kembali pulang ke rumah dengan membawa banyak paper bag dengan bermacam-macam isi nya. Baju, sepatu, sandal, jilbab, belum lagi mainan anak anak dan berbagai macam buah dan Snack.
"Aku tinggal ke toilet sebentar ya, Mama sama anak anak, mau nunggu disini apa langsung ke mobil?" tanya Pandu pada Risma yang langsung meminta untuk tetap menunggu di restoran dan Galang memilih ikut bersama papanya ke toilet.
Sambil menunggu Pandu dari toilet, Risma membuka kembali story di ponsel milik Pandu, dan ternyata Clara sudah melihat postingan tersebut.
Bahkan sudah masuk satu notifikasi dari nomornya Clara.
"Tega kamu, Mas!
"Aku juga istri kamu, tapi kamu tidak pernah mengajakku sebahagia itu saat diluar. Jahat kamu, Mas!"
"Aku tunggu penjelasan kamu, Mas!
Kamu bilang tidak mencintainya, tapi tatapan mata kamu begitu dalam dan mesra padanya, pembohong!"
"Aku mau belanja dan senang senang seperti anak dan istri kamu. Kamu harus adil, Mas! Jangan jadi suami dzolim yang berat sebelah, ingat dosa!"
Sederet pesan dari Clara yang mengungkap kekecewaan dan kecemburuannya. Risma tersenyum dan langsung menghapus pesan pesan yang dikirim oleh Clara, agar Pandu tidak membacanya dan lebih baik tidak tau. Agar Clara semakin kepanasan karena merasa diabaikan dan tidak dipedulikan.
"Ini akan sangat menarik, Clara. Mari bermain main dengan Risma yang katanya tidak dicintai oleh Pandu Aditama!
Akan aku tunjukkan sama kamu, Jika Risma adalah pemenang dari hubungan ini. Pandu tidak akan bisa pergi dan meninggalkan aku dan anak anak. Dan sebab itu, aku akan membuat hidup kalian berantakan dengan masalah yang sering timbul oleh pertengkaran pertengkaran diantara kalian. Pasti ini sangat seru sekali! Aku sudah tidak sabar untuk melihat kalian saling lempar kesalahan." Risma tersenyum sinis dan kembali menutup ponsel saat melihat dari kejauhan Pandu yang sudah melangkah kearahnya bersama Galang dalam gendongannya.
"Mbak Cinta, yuk kita pulang. Itu papa sama dek Galang sudah selesai." Risma mengajak Cinta untuk segera beranjak dan membawa belanjaannya menyusul langkah Pandu menuju parkiran.
Melihat Risma kewalahan membawa barang belanjaannya, Pandu meminta Galang turun dari gendongannya dan mengambil alih seluruh belanjaan dari tangan istrinya. Risma tersenyum dan melangkah pelan mengikuti suaminya dari belakang, dan tak lupa memotret nya dari belakang, Lalu kembali mengirimnya ke story watshap milik Pandu.
"Biar makin panas dingin. Begini saja aku sudah bahagia. Tak perlu teriak dan merendahkan diri dalam berebut hati seorang pria. Lakukan yang terbaik dan tetap terlihat tenang namun bertindak sesuai dengan peran. Karena apa yang kita lakukan akan menunjukkan kualitas diri kita yang sesungguhnya. Dan aku suka dengan permainan ini." Gumam Risma dalam hati dan terus melangkah mengikuti suaminya dari belakang.
Ponsel yang digenggamnya berkali kali bergetar dan menampilkan nama Clara yang sedang melakukan panggilan telepon. Namun berulangkali juga Risma menolak panggilan tersebut.
"Silahkan nikmati rasa pedihmu saat ini, rasa sakit hati kamu dan rasa kecewa kamu. Karena luka yang aku tanggung tidaklah tipis tapi berlapis. Dan mulai hari ini kamu pun juga akan mengalaminya bahkan akan lebih sadis. Bertahanlah bila memang kamu benar benar mencintai suamiku, tapi siapkan mental dan hati kamu menghadapi permainan ku." Risma terus berbicara pada dirinya sendiri dengan segala kemungkinan dan rencana di otaknya yang cerdas. Karena tenang setengah menang.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Hanya butuh waktu dua puluh menit, Pandu sudah memarkirkan mobilnya ke dalam garasi rumahnya. Sedikit lelah namun juga merasa bahagia, bisa melihat Risma dan anak anaknya tersenyum gembira. Hingga Pandu melupakan nasib Clara yang sedang menunggu kabar darinya.
"Ya Tuhan, aku belum memberi kabar Clara kalau tidak bisa menemuinya tadi. Pasti dia akan sangat marah padaku. Ponselku juga sedang di bawa Risma, kalau aku memintanya paksa, pasti Risma akan semakin marah dan membenciku. Semoga Clara mau mengerti posisiku saat ini. Nanti saja aku hubungi dia saat Risma sudah mengembalikan ponselku dengan sendirinya, agar sikap dinginnya tidak terus berlanjut, karena bisa gila aku menghadapi sikap Risma yang berbeda itu.
Clara, maafkan aku. Semoga kamu memahami semua ini." batin Pandu berbicara sendiri dan mulai melangkahkan kakinya memasuki rumah masih dengan perasaan ambyaar.