
"Bukankah, kamu sendiri yang bilang kalau akan menunggu kesiapan dariku? apa kamu sudah ingin menyerah, Pa?" balas Risma yang sengaja ingin membuat Pandu tersiksa lahir dan batinnya, agar tau seperti apa menanggung rasa sakit diabaikan oleh orang yang dicintai.
"Iya, tapi aku sudah berusaha untuk memperbaiki rumah tangga kita. Dan aku pun juga sudah membuka hati ini hanya buat kamu, melupakan masa lalu yang buruk dan mari kita mulai semuanya dari awal. Aku ini laki laki normal, Ma!
Gak mungkin sanggup kalau terlalu lama di acuhkan begini, aku butuh pelepasan hormon. Aku masih suami kamu loh!" Sahut Pandu yang mulai sedikit kesal, merasa lelah karena usahanya belum juga mampu meluluhkan kekerasan hati sang istri.
Risma terdiam, tak perduli dengan kekesalan Pandu, hatinya masih belum bisa jika harus melakukan hubungan badan, karena bayangan Clara selalu memenuhi pikirannya.
Entahlah, perasaan yang dulu begitu memuja kini hambar tanpa rasa. Bermain peran seperti Pandu dulu, hanya melakukan tugas sebagai istri tanpa harus memenuhi hasrat sang suami. Meskipun Risma sadar, ini sebuah dosa besar, menolak hak Suami hanya karena alasan belum siap. Tapi hati sudah tak ingin lagi menanggung sakit hanya karena melakukan dengan terpaksa.
"Baiklah! Aku paham dan semoga aku selalu ridho dengan sikap kamu ini.
Aku berangkat, kamu jaga diri baik baik. Nanti kasih kabar kalau sudah dirumah sakit!
Asalamualaikum!" Pandu berlalu begitu saja, tanpa menghabiskan makanannya dan tanpa mencium kening istrinya seperti biasa. Pandu berusaha untuk menghindari amarah di hatinya dengan segera pergi dari hadapan wanita yang mulai ia cintai. Tak ingin mengeluarkan kata kata yang nanti justru memperkeruh keadaan dan menambah luka di hati istrinya.
Risma menatap punggung suaminya iba. Rasa bersalah itu ada, rasa cinta juga masih tersisa, namun jiwanya hampa, hati pun telah terlanjur terluka. Meskipun Risma selalu berusaha untuk kembali menyembuhkan luka dan ingin menerima Pandu dengan semua kesalahan masa lalunya.
Tak terasa air mata kembali membasahi pipi mulusnya, seiring sesak yang masih bermain di dadanya.
"Maafkan aku, Mas!
Semoga kamu benar benar melupakan perempuan itu di hati kamu dan benar benar menaruh namaku di hati kamu. Aku berharap hatiku bisa kembali menerima kamu tanpa harus mengingat semua luka yang pernah ada.
Tuhan, ampuni aku yang sudah membuat suamiku tersiksa. Kuatkan hatiku dan mampukan aku untuk kembali menjadi istri seutuhnya untuk suamiku." Risma bergumam lirih dengan segala gundah di dalam hatinya.
Melangkahkan kaki, menuju kamar pribadinya. Menatap foto pernikahan yang terpasang di dinding kamar. Berharap masih ada waktu menjalani kisah yang dulu di impikannya.
Risma membuka laci yang ada di lemari, mengeluarkan album foto pernikahan nya, melihat satu demi satu foto dirinya bersama Pandu.
Ingin kembali mengenang bagaimana pertama kali Risma jatuh cinta pada sosok Pandu Aditama yang memang sungguh menawan di mata semua wanita.
"Aku akan berusaha, Mas. Bismillah!
Semoga kamu benar benar menerimaku dan kita benar benar menjadi kita dalam menjalani rumah tangga ini. Alloh mampukan aku menjalani takdir dariMU ini." Risma berusaha menguatkan hatinya, belajar memaafkan dan menerima kembali Pandu dalam menjalani kisah rumah tangganya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sedangkan di lain tempat, Clara sedang terbaring lemah di kamarnya. Sudah dua hari Clara terus muntah muntah dan tidak mau makan sama sekali.
Wajahnya pucat dan rasa mual juga pusing terus menyerangnya. Hingga Clara harus ijin tidak masuk bekerja karena kondisinya yang mendadak lemas dan menahan sakit luar biasa.
"Aku antar kamu ke dokter ya, aku sudah ijin kantor kalau datang terlambat, dan Alhamdulillah di ijinkan. Kamu harus cek ke dokter, kamu sakit apa, agar cepat dapat obat dan kembali sehat." Maya, teman sekantor Clara dan juga tinggal dalam satu rumah yang memang disediakan oleh kantornya. Mereka jadi dekat karena memang setiap hari bersama, jadi teman ngobrol dan juga teman dalam segala hal, tak jarang Maya juga sering curhat tentang masalahnya, Maya seorang janda yang ditinggal mati suaminya, dan memiliki satu anak yang masih berusia enam tahun, terpaksa di tinggal bekerja keluar kota demi untuk bisa mencukupi semua kebutuhan, dan menitipkan anaknya untuk diasuh oleh kedua orang tuanya.
"Jangan jangan kamu hamil?
"Aku ganti baju dulu, maaf kalau sudah merepotkan, may!" balas Clara lirih dan merasa sungkan pada temannya itu. Dan hatinya tiba tiba merasa cemas, kalau memang dia benar hamil, pasti akan jadi bumerang dalam kehidupan Pandu. Clara tak ingin lagi berurusan dengan seorang Pandu Aditama. Kalaupun benar saat ini sedang mengandung benihnya, Clara berniat untuk menyembunyikan dari Pandu, dan ingin merawatnya seorang diri.
Clara di papah Maya memasuki taksi yang sudah menunggu di depan gerbang. Menuju klinik terdekat dan berharap hanya sakit biasa karena kecapekan dan makan gak teratur, ingin menolak fakta tentang kehamilan yang mungkin saja benar terjadi.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
"Selamat, Bu. Usia kandungannya sudah memasuki usia tiga Minggu, masih rentan dan harus dijaga baik baik. Karena sepertinya kandungan Bu Clara lemah, harus banyak istirahat dan minum vitamin rutin ya. Asupan gizinya juga harus diperhatikan." Jelas dokter yakin dan tersenyum pada Clara yang berubah menjadi cemas.
"Baik, Dok!
Terimakasih!" balas Maya mewakili Clara yang mendadak diam dengan tatapan kosong.
"Kita pulang, tapi antri dulu buat ambil obatnya. Insya Allah kamu kuat, Clara. Bismillah kamu bisa!"
Maya seolah memahami apa yang dicemaskan Clara saat ini, karena memang Clara sudah banyak cerita tentang hubungan pernikahan nya dengan Pandu yang hanya menjadi istri kedua.
Clara mengangguk lemah, tersenyum tipis pada dokter yang menatapnya heran. Clara berusaha tak perduli dengan apa yang nanti dipikirkan orang lain tentang kehamilan nya, yang pasti dia hamil dari pernikahan yang sah menurut agama. Namun Clara harus menyiapkan mentalnya, karena memutuskan untuk merawat anaknya seorang diri dan menyembunyikan kehamilannya dari Pandu Aditama. Pasti akan banyak komentar komentar miring tentangnya.
"Alloh, ujian apa lagi yang KAU hadirkan padaku?
Saat aku benar benar berbenah dan ingin menjauh dan melupakan laki laki itu, tiba tiba KAU hadirkan dia buah cinta kami di rahim ini. Kuatkan dan mampukan aku, menjalani ujianMU kali ini.
Aku akan merawat anak ini, dengan kedua tanganku, dan juga cintaku seorang diri. Biarlah dia nanti hanya akan tau, nama ayahnya saja tanpa harus bertemu dan merasakan kasih sayangnya. Cukup aku, ya aku saja yang menjadi cinta bagi anakku." Clara berucap lirih dalam hatinya, benar benar tak ingin lagi berurusan dengan Pandu dan berharap mampu merawat anaknya dengan kedua tangannya sendirian.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Pembalasan Istri Yang Terhina (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️