
"Insyaallah, mas!
Aku akan berusaha sekuat tenagaku untuk mempertahankan bayi kita, semoga dia lahir sehat dan selamat. Aamiin!" sahut Clara dengan menanamkan kepercayaan di hatinya, jika semua akan baik baik saja.
"Aamiin! Insyaallah! Semoga yang akan selalu aku semogakan!" balas Sandi serius dengan wajah penuh harap.
Karena sudah begitu merindukan kehadiran bayi yang langsung dari benihnya sendiri.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
"Dania tertidur setelah lelah bermain. Dari tadi nanyain kalian!" sambut Bu Rosa saat melihat Clara dan Sandi memasuki rumah.
"Maaf, kalau sudah membuat mama repot!" balas Clara dengan mencium punggung tangan ibu mertuanya takzim, dan dikuti oleh Sandi kemudian.
"Tidak!
Dania anak yang pintar dan juga nurut. Yang ada dia itu menggemaskan dan lucu.
Mama merasa senang karena Dania pintar sekali diajak bermain." balas Bu Rosa dengan senyuman lebar.
"Duduklah, kalian harus istirahat dulu.
Biar mama bikin teh hangat buat kalian." sambung Bu Rosa yang langsung melangkah ke arah dapur rumahnya.
"Tidak perlu repot-repot, ma!" Clara merasa sungkan dengan ibu mertuanya, namun Bu Rosa merasa tak masalah, justru senang jika mereka mau datang dan menjenguknya.
Dua cangkir teh hangat, diletakkan di atas meja.
"Minumlah selagi hangat.
Bagaimana pertemuan kalian dengan Risma?" Bu Rosa mengambil tempat duduk berhadapan dengan Sandi, anak laki lakinya.
"Alhamdulillah semua berjalan lancar, dan kita sudah saling memaafkan." sahut Sandi dengan senyuman tipis di bibirnya.
"Lalu bagaimana dengan Dania?
Apakah Pandu sudah mengetahui kalau dia darah dagingnya?" Bu Rosa menatap penuh arti pada sang menantu yang memilih menunduk tajam. Bingung harus mengatakan apa pada ibu mertuanya.
"Belum!
Biarlah Dania tetap menjadi putriku.
Karena jika kebenaran Dania terungkap yang menderita pasti Risma. Aku tidak akan melakukan itu." sahut Sandi dengan mimik tegas dan membuat Bu Rosa mengangguk ringan.
"Jika itu keputusan kalian, mama juga bisa apa?
Mama hanya ingin mengingatkan, Dania berhak tau ayah kandungnya siapa, dan pandu juga harus tau kalau punya anak dari wanita lain.
Jangan sampai, dengan kalian mengulur ngulur waktu, akan menjadi bumerang dikemudian hari." balas Bu Rosa dengan wajah tegas, namun terdengar sangat bijak. Clara dan Sandi terdiam dengan celoteh sang mama yang memang ada benarnya juga.
"Untuk sementara biarkan semua seperti ini dulu, ma!
Dania anakku, Dania putriku. Biarkan dia taunya begitu." balas Sandi dengan nafas yang mulai berdesakan, sesak di ulu hatinya.
"Baiklah, mama akan menghormati keputusan kalian.
Kalian sudah dewasa, pasti tau apa yang terbaik untuk kalian." balas Bu Rosa kecewa, namun tak bisa memaksa agar anaknya mengikuti keinginannya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Dokter Abas datang ke pondok untuk menemui Abah Faisal atas undangannya.
Abah Faisal ingin Erna dan dokter Abas bicara, agar apa yang jadi ganjalan di hati bisa diselesaikan secepatnya.
Pertemuan dokter Abas dan Erna ditemani umi Zara dan Abah Faizal.
Orang tua dokter Abas sudah menyerahkan sepenuhnya perjodohan itu pada Abah Faisal. Mereka percaya, Abah Faisal pasti tau mana yang baik untuk Abas.
"Kalian bicaralah, keluarkan apa yang ingin kalian tanyakan, dan apa yang tengah mengganjal di pikiran kalian. Agar bisa saling mengetahui satu sama lain." Abah Faizal bicara dengan nada lembut. Sedangkan Erna terus menundukkan kepalanya. Malu mau melihat wajah calon suaminya, namun tidak dengan dokter Abas.
Dari pertama melihat Erna, ada sesuatu yang menarik hatinya, kecantikan dan sikap pemalunya membuat dokter Abas ingin mengenal lebih dalam.
Meskipun Dokter Abas sudah mengetahui siapa Erna di masa lalunya.
Tak masalah untuknya, asal Erna sudah benar benar berubah dan memperbaiki diri.
"Sekarang bicaralah, jangan diem dieman terus.
Nanti gak tau loh siapa calon istri dan suaminya.
"Abas, tanyalah lebih dulu, apa yang ingin kamu tanyakan!" sambung Abah Faisal memberi kesempatan Abas untuk mengawali obrolan.
Dokter Abas terlihat menarik nafasnya dalam lalu mengeluarkan nya perlahan.
"Bismillah.
Em apa kamu keberatan dengan perjodohan ini?" tanya dokter Abas kaku, bingung harus memulai dari mana.
Erna langsung mengangkat wajahnya, memberanikan diri melihat ke arah calon suaminya, namun kembali langsung menunduk karena jantungnya sudah tak beraturan.
Lelaki tampan yang terlihat begitu sempurna telah mencuri hatinya untuk pertama kali di pertemuan pertama.
"Saya....Saya!
Insyaallah tidak, tapi saya harus memastikan sesuatu sebelum perjodohan ini berjalan lebih jauh.'' sahut Erna lirih, berusaha untuk menenangkan dirinya dan belajar pasrah dengan apapun nanti hasilnya.
"Maksudnya?
Bisa dijelaskan, agar saya paham?" sahut Dokter Abas yang juga tengah berusaha untuk bersikap biasa.
"Apa dokter sudah tau siapa saya, dan masa lalu saya bagaimana?" sahut Erna dengan menatap dokter Abas yang terlihat lebih santai dari pertama kali dia datang.
"Iya saya tau, dan apa yang ingin kamu pastikan?" balas dokter Abas tetap dengan gayanya yang santai, meskipun sebenarnya jantungnya mulai berdetak tak beraturan.
"Saya punya masa lalu yang buruk dan saya pernah jatuh di jalan yang salah. Saya mantan model majalah dewasa, dan tentu dokter tau seperti apa penampilan saya waktu itu.
Apa semua itu tidak mengganggu kenyamanan dokter?
Karena saya hanya perempuan yang banyak sekali melakukan dosa." Erna menguatkan dirinya untuk berkata jujur siapa dirinya di masa lalu.
Dan itu semakin membuat dokter Abas yakin, jika Erna memiliki sifat yang baik yang tidak ingin berlindung dari kesalahan dan dosanya, dia berani jujur apa adanya.
"Iya saya tau semuanya dan saya juga sudah menelusuri masa lalu kamu.
Sekarang yang penting bagi saya, kamu mau berbenah dan berubah jadi lebih baik. Meninggalkan dunia kamu yang kelam.
Insyaallah saya akan menerima semua kekurangan dan kelebihan kamu. Asal kita sama sama saling belajar untuk memperbaiki diri." balas dokter Abas yakin, dan membuat Erna tersenyum tipis juga merasa lega dengan apa yang di dengarnya dari bibir dokter Abas.
Selama satu jam mereka berdiskusi, tak lupa umi Zara dan Abah Faisal memberi nasehat dan petuahnya.
Abas menerima perjodohannya dengan Erna, karena merasa Erna perempuan yang mau berubah dan bisa di nasehati untuk menuju hidup yang lebih baik. Dan Erna juga sudah benar benar berubah dengan meninggalkan karirnya sebagai model.
"Baiklah semua sudah setuju, untuk menentukan tanggal pernikahan sebaiknya kita serahkan pada kedua orang tua kalian.
Dan Erna bisa hubungi keluarganya ya, bicarakan niat baik ini." Umi Zara ikut angkat bicara dan langsung di iyakan oleh Dokter Abas dan juga Erna.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Kasih sayang yang salah
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
Happy ending ❤️