
"Baiklah semua sudah setuju, untuk menentukan tanggal pernikahan sebaiknya kita serahkan pada kedua orang tua kalian.
Dan Erna bisa hubungi keluarganya ya, bicarakan niat baik ini." Umi Zara ikut angkat bicara dan langsung di iyakan oleh Dokter Abas dan juga Erna.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Persiapan pernikahan yang tinggal satu Minggu membuat dua keluarga besar Erna dan Abas terlihat begitu sibuk.
Erna minta melakukan akad di pondok saja, agar anak anak dan seluruh penghuni pondok bisa ikut menikmati hidangan lezat juga ikut bahagia dengan pernikahan nya.
Namun resepsi di lakukan di gedung yang disewa keluarga Abas, karena keluarga Abas adalah pengusaha yang mana memiliki kolega yang cukup banyak di bidang yang sama.
"Apa ku tidak ingin memberi kabar, Risma?" tanya pak Danu pada anak lelakinya.
Abas terdiam, lalu tersenyum kecut.
"Tidak usah, Pa!
Abas tidak ingin melihat Risma saat Abas masih belum bisa sempurna melupakannya. Tapi insyaallah, Abas akan terus berusaha untuk mencintai istri Abas. Untuk itu, lebih baik Risma tidak perlu di kasih tau." sahut dokter Abas tegas dan langsung dibenarkan oleh mamanya.
"Mama setuju dengan Abas, Pa!
Lebih baik memang Risma tidak perlu kita kasih tau.
Lagian kasihan, pasti akan sangat merepotkan.
Nikahnya kan di Bandung, sedang mereka di Madiun." Sahut Bu Santi yang ikut angkat bicara.
Mendengar jawaban dari anak dan istrinya, pak Danu hanya mengangguk paham dan setuju setuju saja dengan pikiran mereka. Karena memang itulah yang lebih baik.
Sedangkan orang tua dan keluarga Erna sudah mulai berdatangan di Bandung.
Mereka sebagian ada yang menginap di rumah Bu Ranti, dan ada juga yang tidur di hotel.
Sedangkan Erna mulai terlihat nggak di rumah budhenya lagi.
Waktu begitu cepat berlalu, hari yang ditunggu pun tiba, Abas dan Erna melangsungkan pernikahan dengan pesta cukup mewah. Meskipun awalnya Erna menolak dan inginkan yang sederhana saja. Tapi keluarga dari dokter Abas ingin yang terbaik untuk anak pertama nya.
Apalagi mereka adalah keluarga terpandang dan dari pengusaha, pasti tamunya juga dari kalangan pengusaha dan pejabat.
Malam pertama dilalui Erna dan Abas dengan saking diam, lalu sekedar saling tatap.
Akhirnya, dokter Abas lebih memilih mengajak istrinya untuk mengobrol tentang anatomi tubuh, memancing respon sang istri.
Erna yang awalnya malu dan takut memulai. Sedikit berani dan sifat centilnya pun mulai terlihat Kala suaminya mengingatkan kalau mereka sudah halal dan sah melakukan apapun sebagai pasangan suami istri.
Cinta tumbuh setelah pernikahan itu memang indah.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Clara yang masih sering sakit karena kehamilannya, membuatnya membatasi aktifitasnya.
Takut jika akan keguguran lagi, apalagi akhir akhir ini, sering bermimpi buruk.
Namun Clara tetap berusaha terlihat baik baik saja, walaupun hatinya sangatlah cemas.
Clara sering menangis sendiri.
Tersiksa dengan beban tentang nasib Dania. Tak bisa dipungkiri, jika Clara juga ingin Pandu mengakui Dania anaknya, dan Dania tahu jika Pandu lah ayah kandungnya. Namun Clara tak berani dan takut untuk mengungkapkan kebenaran itu, karena pasti banyak hati yang tersakiti. Risma yang mungkin akan terluka dan semakin kecewa, belum lagi anak anak Pandu yang mungkin akan shock dengan kehadiran Dania.
Tekanan tekanan itu membuat tubuh Clara semakin lemah. Kondisi kesehatan yang semakin tidak stabil. Namun Clara berusaha bertahan untuk menyelamatkan bayi yang ada di kandungannya.
Karena tau, jika suaminya begitu berharap anak itu lahir dan tumbuh dengan sehat.
"Clara! Ibu perhatikan tubuhmu semakin kurus.
Kenapa? Apa yang membuatmu tertekan?
Jangan bilang kamu baik baik saja.
Ibu tau karena kamu anak ibu, jadi jangan tutupi apapun pada ibumu ini!" Bu Desmita menemui Clara yang tengah duduk di kursi ruang tamu. Menemani Dania yang tengah fokus dengan hobi menggambarnya.
"Clara baik baik saja, Bu! Ibu tidak usah khawatir!" sahut Clara yang memaksakan untuk tetap tersenyum dan terlihat kuat. Namun hati seorang ibu memang tidak bisa dibohongi.
"Jangan bohongi, ibu!
Katakan sama ibu, apa yang sedang kamu pikirkan?" sahut Bu Desmita dengan tatapan yang begitu lekat pada sang anak.
Clara sendiri juga bingung, Clara tidak tau apa yang harus Clara lakukan.
Akhir akhir ini, Clara sering mimpi buruk.
Clara takut itu sebuah firasat yang tidak baik. Astagfirullah!" Terang Clara dengan wajah yang sudah basah dengan air mata.
"Istighfar, nduk!
Yakinlah semua akan baik baik saja.
Jangan terlalu banyak berpikiran buruk, kasihan bayimu yang ada di dalam sana. Kuatlah untuknya dan juga buat Dania!" Bu Desmita memeluk tubuh ringkih Clara. Dan membiarkan anak perempuannya melepaskan semua beban nya di pundaknya.
Perasaan Bu Desmita pun juga memiliki firasat buruk, karena perubahan Clara yang sering murung dan tubuhnya yang semakin kurus.
"Mama nangis?" Dania mendekati mamanya, saat menoleh Dania melihat namanya tengah menangis di peluk neneknya.
"Mama matanya kena debu, perih! Mama jadi nangis!" sahut Bu Desmita dengan lembut pada Dania.
"Biar Dania tiup Mata mama, nanti pasti sembuh!" sahut Dania dengan polosnya, dan mulai naik ke atas kursi, lalu meniup mata Clara.
"Makasih sayang!" Clara mengecup pipi Dania gemas, saat melihat mata Dania, Clara selalu teringat dengan mata milik Pandu. Yang seketika menghadirkan rasa perih di hatinya.
Clara mengusap air matanya, berusaha untuk tidak lagi menangis. Ada Dania yang harus dia jaga hatinya.
Perut yang sudah mulai membuncit membuat Clara sedikit kesusahan untuk bergerak.
Namun Clara selalu memaksakan untuk melakukan aktifitas agar tubuhnya tidak semakin terasa lemas.
Saat minggu lalu, Clara memeriksakan kehamilannya tanpa ditemani Sandi.
Karena Sandi tengah berada di luar kota.
Dan dokter meminta Clara untuk istirahat total, kandungannya yang lemah membuatnya semakin cemas.
Bahkan dokter pun sudah menyarankan untuk melakukan operasi demi keselamatan sang ibu.
Namun Clara dengan tegas menolaknya.
Clara memilih mempertahankan bayinya, meskipun nanti taruhannya adalah nyawanya sendiri.
Clara menyembunyikan semua itu kepada semua orang, termasuk ibunya.
Clara tidak mau, semuanya cemas hanya karena dirinya. Dan Clara juga ingin memberikan anak untuk Sandi.
Untuk hidup dan matinya, Clara sudah pasrahkan pada takdir.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Kasih sayang yang salah
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
Happy ending ❤️