Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain

Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain
Terusir


Erna langsung menegang mendengar penuturan Risma yang diluar dugaannya.


Matanya terus menatap dalam ke arah Risma yang nampak begitu tenang bahkan kini tersenyum meremehkan kearahnya.


"Impossible." gumam Erna lirih sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Impossible?" sahut Risma sambil mengerutkan keningnya menatap Erna geli. Tak menyangka kalau akan menghadapi manusia seperti Erna yang memiliki kepedean tingkat tinggi.


"Bagiku sih, tak perduli kamu percaya atau tidak. Karena tidak ada kewajiban bagiku menjelaskan pada kamu yang bukan siapa siapa untuk kami. Jadi ya up to you sih, mau percaya apa gak!


Yang jelas, Mas Pandu sudah menyerahkan seluruh asetnya atas nama istri dan anak anaknya, dan gajinya pun langsung masuk ke rekening milikku. Jadi ya seperti itulah suamiku yang membuktikan cintanya pada kami, anak dan istrinya.


Memang sih, sebagai perempuan, aku merasa sangat beruntung, dicintai sekaligus di percaya. Mendapatkan cinta dan juga seluruh hartanya. Padahal kan, ya begini aku biasa saja. Tapi sayangnya suamiku begitu jatuh cinta padaku yang sederhana ini.


Bagaimana mbak Erna, masih mau lanjut mengejar cinta suamiku?" balas Risma panjang lebar, yang sengaja memberikan terapi ringan pada Erna untuk dia bisa berpikir saat ingin mengejar cinta laki laki yang sudah menyerahkan seluruh hartanya untuk anak dan istrinya.


"Apa kamu pikir, aku percaya dengan omong kosong mu itu?


Enggak sama sekali! mana mungkin Pandu bisa sebodoh itu, menyerahkan seluruh asetnya hanya untuk perempuan seperti kamu.


Aku akan tetap meraih cintanya, tak perduli dengan omong kosong kamu!" sahut Erna kesal, bahkan dengan mulut pedasnya mencibir Risma yang menurutnya hanya perempuan biasa dan terkesan ndeso dengan penampilan nya yang syar'i. Padahal justru dari kesederhanaan Risma lah, Pandu bisa begitu jatuh cinta dan takut kehilangannya.


"Baiklah! silahkan kejar cinta suamiku. Karena dia akan tetap pulang kerumahnya, tempat yang memang jadi tujuannya. Selamat untuk persiapan sakit hatinya ya mbak, karena Mas pandu akan menolak mu mentah mentah. Kasihan!" sahut Risma tenang bahkan terkesan sangat meremehkan, Erna yang sadar diremehkan langsung emosi dan ingin menampar Risma dengan tangannya.


Tapi sebelum tangan itu mengenai pipi mulus Risma, ada tangan yang menangkisnya.


"Jangan pernah kurang ajar pada istriku!


Dan jangan rendahkan harga dirimu untuk mengejar ku, karena aku tidak akan pernah Sudi berhubungan dengan perempuan sepertimu. Paham?" bentak Pandu emosi. Pandu sudah gelisah sejak pagi dikantornya, perasaannya selalu menghawatirkan istrinya dirumah, sehingga Pandu memutuskan untuk pulang, melihat keadaan istrinya, namun saat memasuki halaman rumahnya, sudah ada mobil lain yang Pandu tidak mengenalnya, dan ternyata di dalam sudah ada Erna yang hendak menyakiti Risma.


Tak ada lagi sabar dan diam bagi Pandu, saat istrinya diperlakukan kurang baik oleh orang lain, apalagi orang seperti Erna yang tak punya hak sama sekali menyakiti Risma.


"Jangan sekali kali menyentuh istriku dengan tangan kotor mu itu. Pergi dari sini dan jangan pernah kembali. Pergi!" Pandu sudah tak bisa menahan kemarahannya oleh sikap Erna yang sudah keterlaluan.


"Pandu! Kamu tega usir aku?


Aku mencintai kamu, aku sayang banget sama kamu. Bahkan aku rela jika hanya jadi istri keduamu.


Aku jauh lebih cantik dan jauh lebih menggoda dari pada istrimu yang kampungan itu. Lihat cara dia berpakaian, apa kamu gak malu punya istri kampungan begitu?" sahut Erna yang meninggi dan tak mau kalah dari kemarahan Pandu.


"Tutup mulut kamu ja**ng!" teriak Pandu tak terima istrinya dihina oleh perempuan yang begitu dia benci saat ini.


"Mas!" Risma memegang lengan suaminya dan mengusapnya lembut, berusaha menenangkan Pandu dari amarahnya.


"Aku tidak terima kamu dihuni oleh perempuan tak berguna Ini, Ma! biar dia sadar jika dia bukan apa apa di mataku di bandingkan kamu!" sahut Pandu lirih menatap penuh cinta pada Risma yang tersenyum begitu tulusnya.


"Jaga mulutmu, jangan pernah berpikir kamu lebih baik dari istriku. Penampilan yang kamu anggap kampungan, adalah sebuah aku begitu mencintai dan menghargai istriku karena dia wanita yang terjaga, tau caranya menjaga kehormatannya dan menjaga harga diriku, suaminya.


Dan satu hal yang harus kamu tau, Erna! aku begitu jijik melihat penampilan kamu itu, apa kamu pikir dengan tampil seksi aku tergoda denganmu, tidak sama sekali, justru aku jijik melihatnya! puas kamu?" sambung Pandu yang mengalihkan pandangannya pada Erna yang langsung mematung. Tak menyangka jika Pandu akan begitu merendahkan dirinya.


"Sekali lagi, Pergi dari rumahku dan jangan pernah kembali lagi. Jangan usik ketenangan rumahtangga ku dengan sikap tak tau malumu itu. Pergilah, sebelum aku lupa kalau kamu itu perempuan. Pergiiii!" teriak Pandu yang sudah dikuasai emosi. Karena bicara baik baik dengan Erna percuma, perempuan nekad seperti dia harus diberi ketegasan dan pelajaran agar segera sadar dan tau diri.


"Bukan kami yang menghinamu, tapi kamu sendiri yang sudah membuat dirimu hina. Dengan datang menemui istriku dengan tujuan ingin bersamaku, itu sudah menunjukkan betapa rendahnya harga dirimu sebagai perempuan. Jadi jangan merasa dihinakan orang lain, kalau kamu sendiri tidak bisa menjaga martabat mu sendiri!" balas Pandu tajam dengan tatapan penuh intimidasi.


"Pergilah, jangan buat aku semakin muak denganmu!" sambung Pandu dingin dan tak lagi perduli dengan Erna yang menatapnya penuh kebencian.


Erna berlari keluar dengan menahan tangis dan tak sengaja menabrak Sandi yang baru saja datang dan akan mengetuk pintu rumah.


Mereka saling bertatapan, dan akhirnya Erna memilih pergi menuju mobilnya, sedangkan Sandi dibuat bingung dengan sikap wanita yang tidak dikenalnya itu.


"Siapa perempuan itu, kenapa seperti mau nangis gitu?


Apa di dalam sedang ada masalah?" Sandi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ragu saat akan kembali mengetuk pintu.


Memilih duduk di kursi depan rumahnya Risma. Menunggu beberapa saat sampai terdengar suara dari dalam.


"Mas, kenapa kamu semarah itu?" Risma mengusap lengan suaminya lembut dan menatap Pandu dengan perasaan yang dia sendiri tidak tau.


"Entahlah, Ma! Aku sangat marah saat melihat tangannya akan menampar kamu, lancang sekali dia, dia pikir dia itu siapa. Maaf kalau aku sudah kelepasan dan tidak bisa mengendalikan emosiku." sahut Pandu menatap lekat wajah istrinya yang begitu teduh dengan senyuman tipis dibibirnya. Pandu meraih Risma dalam pelukannya.


"Jangan bukakan pintu lagi untuk perempuan itu, dia itu nekad dan gila. Aku gak mau kamu kenapa kenapa, kalau tadi aku terlambat sedikit saja, pasti dia sudah menyakitimu. Maafkan aku, ma!" sambung Pandu dengan mengeratkan pelukannya dan mengecup pucuk kepala istrinya penuh cinta. Jiwa ingin melindungi dan menjaga begitu kuat dalam diri Pandu, menebus semua kesalahan masa lalu dengan memperlakukan istri juga anak anaknya dengan istimewa.


"Yang penting semua masih baik baik saja, bagiku kamu tetep setia dan menjaga perasaanku dan anak anak itu sudah lebih dari cukup. Sudah ya marahnya, mau makan atau minum kopi?" Risma berusaha memberi kenyamanan untuk suaminya dengan bersikap lemah lembut dan berusaha tetap tenang agar terlihat selalu baik-baik saja.


"Kopi saja, sedikit gulanya ya, karena minumnya mau sambil lihat kamu, biar sedap dan manis!" Pandu juga berusaha mencairkan suasana agar tidak tegang.


"Kamu ini, pa! bisa aja merayunya. Yasudah aku ke dapur dulu ya."


"Aku tunggu di teras depan saja, kita ngopi sambil lihat orang lewat." balas Pandu dengan senyuman dan melangkah menuju teras depan rumahnya. Sedangkan Risma pergi ke dapur untuk membuat kopi pesanan suaminya.


"Loh, sudah lama?


Kenapa tidak langsung masuk saja?" Pandu kaget saat melihat Sandi sudah duduk manis di kursi terasnya.


"Ingin santai dulu saja. Takut ganggu kemesraan kalian." Jawab Sandi terkekeh mencari alasan kenapa tidak langsung masuk dan memilih duduk saja di depan rumah. Mau bertanya soal ada perempuan yang keluar rumah dengan menangis sungkan, jadi Sandi pura pura tidak tau dan mencari jawaban yang lain.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Hay kak, haturnuhun sudah membaca karya Hawa.


Yuk baca juga novel terbaru Hawa yang berjudul:


#Cinta Berbalut Nafsu


#Kasih Sayang Yang Salah


#Negeri Dongeng Alisia


Yuk kak mampir disana juga ya, dan jangan lupa kasih love, like n komentarnya.


Haturnuhun semua, salam sayang dari jauh ❤️🔥