Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain

Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain
Pengakuan Sandi


"Loh, sudah lama?


Kenapa tidak langsung masuk saja?" Pandu kaget saat melihat Sandi sudah duduk manis di kursi terasnya.


"Ingin santai dulu saja. Takut ganggu kemesraan kalian." Jawab Sandi terkekeh mencari alasan kenapa tidak langsung masuk dan memilih duduk saja di depan rumah. Mau bertanya soal ada perempuan yang keluar rumah dengan menangis sungkan, jadi Sandi pura pura tidak tau dan mencari jawaban yang lain.


"Ah gak juga kok, kami juga ngobrol saja tadi.


Oh iya, selamat ya untuk pernikahannya.


Maaf tidak bisa datang kemarin, pas ada tugas ke luar kota. Maaf sekali lagi!" Pandu meminta maaf, karena tidak bisa hadir di pernikahannya Sandi waktu itu.


"Gak papa, its oke kok!


Aku paham dan mengerti kesibukan kalian. Doa nya saja sudah cukup!" sahut Sandi tenang meskipun dadanya sudah berdebar hebat sedari tadi saat berhadapan dengan Pandu.


"Risma dimana?" Sandi berusaha untuk mengalihkan pembicaraan soal pernikahan nya dulu, dengan menanyakan keberadaan sepupunya.


"Masih di dapur, tadi aku minta dibuatkan kopi.


Oh iya, ngopi juga kan?


Biar dibuatkan sekalian." sahut Pandu ramah dan berusaha akrab dengan saudara dari istrinya.


"Boleh." balas Sandi singkat dan masih terus berusaha berdamai dengan hatinya saat ini.


"Yuk masuk, kita teruskan ngobrolnya di dalam saja." Pandu mengajak Sandi masuk dan meneruskan obrolannya di dalam saja.


"Aku tinggal dulu ya, mau bilang ke istri untuk buatkan satu kopi lagi. Duduk saja, anggap rumah sendiri." Pandu bicara dengan ramah dan masih terlihat dengan pakaian dinasnya.


"Oh iya, hampir lupa!


Ini ada oleh oleh titipan dari mama, katanya buat cucu cucunya, mama sendiri yang buat kue nya." sebelum Pandu melangkahkan kakinya ke dapur, Sandi menyodorkan oleh oleh dari mamanya untuk Risma sekeluarga. Kue bikinan tangan Bu Rosa sendiri.


"Wah, pasti spesial! Thankyou ya!


Risma pasti senang dapat oleh oleh dari budhenya." Pandu menerima oleh oleh dari Sandi dengan sumringah, bukan oleh olehnya, tapi niat baik saudaranya itulah yang membuat hati bahagia.


Pandu melangkahkan kakinya menuju dapur, terlihat Risma sudah akan pergi meninggalkan dapur dengan membawa dua cangkir di nampan, satu cangkir teh hangat dan satu cangkir kopi dengan sedikit gula.


"Ma, tunggu dulu. Kopinya masih kurang satu. Di luar ada Sandi. Barusan tiba!" Pandu membawa dua kantong di tangannya dan meletakkan kantong di atas meja makan.


"Ini oleh oleh dari mamanya Sandi, katanya hasil buatannya sendiri." Pandu menatap sang istri dengan senyuman.


"Kalau begitu aku buatkan kopi dulu buat Sandi.


Minta tolong, Pa! Tolong sebagian kuenya taruh di piring atau apa gitu buat suguhan , biar sandi juga merasakan kue buatan mamanya." balas Risma yang kembali menyalakan kompor dan membuatkan kopi untuk Sandi. Sedangkan Pandu sibuk memindahkan kue ke dalam wadah.


"Aku temani Sandi dulu ya, Ma!


Kuenya aku bawa sekalian ke depan!" Pandu kembali menemui Sandi yang tengah duduk sendirian di ruang tamu dengan membawa dua toples kecil kue dari mamanya Sandi, dan juga membawa irisan kue Bulo kukus di piring untuk disuguhkan pada Sandi.


"Wah kok repot repot." Sandi menggeleng dengan senyuman saat melihat Pandu keluar dengan nampan yang membawakan suguhan untuknya.


"Gak repot, kebetulan Risma juga selalu buat cemilan untuk anak anak setiap hari. Ini bolu kukusnya enak banget, ayo cobain!" Pandu meletakkan kue yang di bawanya di atas meja dan mempersilahkan Sandi untuk mencicipinya.


Risma datang dengan minuman yang dibawa dengan nampannya.


"Pa kabar Sand?


Kok sendirian saja, kenapa gak ajak istrimu?" Risma langsung menodong pertanyaan pada Sandi setelah ikut duduk berdekatan dengan Pandu.


"Kan sudah bilang kemarin, ada yang ingin aku bicarakan sama kamu, dan kebetulan ada Pandu juga. Jadi biar langsung saja dan semoga tidak ada salah paham nantinya." sahut Sandi yang langsung pada pokok tujuannya datang berkunjung.


Pandu dan Risma saling melempar pandang, tak mengerti dengan maksud ucapan Sandi tentang salah paham yang disebutkan Sandi.


Salah paham bagaimana?" Risma mengutarakan rasa penasarannya dan justru Sandi memilih mengambil kue bolu buatannya tanpa ingin menjawab pertanyaan yang Risma lontarkan.


"Aku ingin menikmati bolu bikinan kamu, takutnya setelah aku katakan maksud kedatanganku, tak ada lagi selera untuk makan. Jadi biarkan aku menikmati suguhan kalian dulu, ya?" balas Sandi yang berusaha bersikap tenang tapi tidak dengan Risma yang justru mulai merasa cemas dengan sikap aneh Sandi.


"Jangan buat aku makin penasaran, Sand! sebenarnya ada masalah apa?


Gak biasanya kamu kayak gini loh!" Risma berusaha mencari sesuatu di mata Sandi yang bahkan selalu menyembunyikan wajahnya dari Risma dengan cara menunduk.


"Minum dulu kopinya, Ndu!


Habis ini kamu akan mendengar hal yang mungkin tidak pernah ada di pikiran kita semua.


Kita santai dulu dan tenangkan hati. Karena dari tadi aku sudah berdebar tidak karuan." Sahut Sandi yang mulai terlihat gelisah tapi tetap berusaha untuk tenang.


"Sebenarnya ada masalah apa? kelihatannya serius sekali!" Pandu ikut berkomentar dan menatap Sandi dengan tatapan penuh selidik.


"Baiklah! sepertinya kalian sudah tak sabar dan sangat penasaran.


Sebelumnya aku minta maaf, kalau berita yang akan aku sampaikan membuat kalian tidak nyaman nantinya.


Tapi aku punya kewajiban untuk menyampaikan demi kebaikan kita semua dikemudian hari."


Sandi menarik nafasnya dalam lalu menghembuskan nya dengan kasar. Mencoba menetralkan detak jantungnya yang sudah tak karuan.


"Saat pernikahanku, kalian memang tidak datang karena sesuatu hal.


Dan karena itu, kalian tidak tau siapa istriku, wanita yang aku nikahi.


Jujur sebenarnya aku menikahi seorang janda.


Dia asli dari Kediri, aku mengenalnya karena kita ada dalam satu kantor, tidak pernah berkomunikasi tapi aku selalu memperhatikannya.


Hingga pada akhirnya aku beranikan diri untuk meminangnya.


Dan diapun jujur mengatakan tentang semua masa lalunya, yang pernah menikah dan jadi istri siri dari laki laki yang sudah beristri.


Namanya Clara Prameswari, mantan istri dari Pandu, suami dari Risma sepupu ku." Sandi tak lagi kuasa meneruskan kalimatnya. Bibirnya kelu saat mengatakan hubungan istrinya dengan suami sepupunya.


Risma terpaku tak mampu berucap sepatah katapun, begitu juga dengan Pandu yang terlihat kaget dengan pengakuan Sandi.


Pandu langsung meraih tangan Risma dan digenggamnya erat. Berharap Risma tidak lagi berpikir macam macam, karena Clara hanya masa lalu baginya.


"Maafkan aku, Ris! Demi Tuhan saat aku memutuskan menikahi Clara, aku tidak tau kalau dia mantan istri siri Pandu. Aku hanya tau dia seorang janda, itu saja.


Saat aku tau siapa mantan suaminya, jujur aku juga terpukul dan merasa tidak nyaman dengan keadaan yang ada. Maafkan aku kalau sudah membuka luka lama kamu, maaf!" sambung Sandi yang kini sudah berkaca kaca menatap Risma yang bahkan terlihat lebih tegar dan siap dengan berita yang Sandi sampaikan.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Hay kak, haturnuhun sudah membaca karya Hawa.


Yuk baca juga novel terbaru Hawa yang berjudul:


#Cinta Berbalut Nafsu


#Kasih Sayang Yang Salah


#Negeri Dongeng Alisia


Yuk kak mampir disana juga ya, dan jangan lupa kasih love, like n komentarnya.


Haturnuhun semua, salam sayang dari jauh ❤️🔥