Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain

Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain
sulit di atur


"Ah sialan, kenapa juga Clara bisa keras kepala seperti ini." Pandu memaki dalam hatinya, dan meninggalkan dokter Abas, lalu berjalan menuju ke dekat Risma yang tengah berbaring dengan tidur pulas nya.


"Maafkan aku, aku harus pergi karena ada urusan yang harus aku selesaikan, hanya sebentar. Nanti aku akan kembali menemani kamu di sini." Pandu menatap dalam wajah pucat sang istri, mengelus pucuk kepalanya, lalu mengecupnya dan pergi meninggalkan ruangan tanpa menoleh pada dokter Abas yang sedari tadi menatap tingkahnya.


Dengan tergesa Pandu menuju parkiran, pikiran dan hatinya sangat kecewa dengan apa yang dilakukan istri keduanya, yang tak memikirkan akibat dari sikapnya itu. Pandu benar benar kecewa pada Clara yang keras kepala.


"Keterlaluan kamu Clara, harusnya kamu dengar kata kataku dan pahami posisi kita. Harusnya kamu bisa mengendalikan dirimu agar tidak berbuat nekad seperti ini, dengan sikap kamu yang seperti ini, sudah membuatku kecewa dan aah. Keterlaluan!" teriak Pandu saat sudah di dalam mobilnya.


Melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, agar bisa segera menemui Clara yang katanya sudah ada di depan kantornya.


Dan benar saja, saat Pandu sudah sampai, Clara terlihat duduk tak jauh dari toko yang ada di dekat kantor Pandu.


"Masuk!" tegas, marah dan dengan wajah memerah, Pandu memerintahkan Clara untuk masuk ke dalam mobilnya dengan membuka sedikit jendelanya.


Clara langsung mengikuti perintah Pandu. Sedikit berlari dan masuk kedalam mobil, duduk disebelah Pandu yang terlihat begitu marah.


Pandu kembali menjalankan mobilnya menyusuri jalanan kota Madiun. Bungkam, Pandu sedikitpun enggan menatap apalagi bicara pada wanita yang duduk disampingnya. Tak perduli Clara sedang bicara menumpahkan kekesalannya, bersikap cuek dan terkesan dingin. Hingga membuat Clara semakin kesal dan bicara kasar.


"Kamu dengar gak sih, Mas? Aku lagi bicara loh!


Kamu itu, sudah kena pengaruh istri kamu itu, padahal dulu kamu bilang tidak cinta sama dia, tapi sekarang kamu justru lebih memperdulikannya dari pada aku. Keterlaluan kamu, Mas!" Sungut Clara tak terima, dan terus saja bicara memojokkan Pandu.


Pandu menghentikan mobilnya di pinggir jalan dengan kasar. Matanya menatap tajam pada Clara yang justru terlihat tak bersalah dalam setiap ucapannya.


"Cukup, Clara! Cukup!


Jangan buat aku membencimu karena sikap kasar kamu ini. Jangan pernah bawa bawa Risma dalam masalah kita. Saat aku menikahi kamu, bukankah kamu sudah tau kalau aku sudah memiliki anak istri. Jadi cukup, kamu menuntut ini itu, pahami posisi kamu! Paham?" Sahut Pandu kesal dan masih berusaha menekan emosinya.


"Apa aku salah, mas? aku ingin kamu juga menganggap aku ini istri kamu, aku juga ingin semua orang tau aku istri Pandu Aditama, agar istri kamu tidak terus meremehkan keberadaan ku dan tidak lagi menjatuhkan harga diriku.


Kamu tau gak sih, kalau Risma itu jahat banget sama aku?" Isak Clara dengan penuh emosi.


Dan membuat Pandu semakin frustasi menghadapi sikap istri keduanya yang ternyata sangat susah untuk diatur.


Pandu menghembuskan nafasnya dalam. Menatap lekat wajah Clara yang sudah penuh air mata.


"Kamu bisa gak sih pahami posisi kita?


Kamu bisa gak sih mengerti amarahnya Risma?


Kita itu sudah melakukan kesalahan, Clara. Kita itu salah!


Pahami itu, kita salah!" tekan Pandu dengan tatapan tak mengerti pada Clara yang susah untuk dinasehati.


"Aku tau apa yang harus aku lakukan, untuk kamu, untuk Risma juga anak anakku. Tapi untuk saat ini, mengalah dan bersabarlah sedikit. Sampai Risma benar benar bisa menerima hubungan kita. Apa lagi dia sedang melawan penyakitnya. Kamu harus paham itu." sambung Pandu dengan masih ekspresi yang sama, kecewa.


"Aku tau Risma, dia tidak akan melakukan hal serendah itu, bahkan dia sampai sekarang belum mau aku sentuh. Jangan mengada Ngada kamu, Clara. Aku gak suka!" balas Pandu tak percaya, karena tau kalau Risma bukan tipe wanita yang memiliki hati buruk dan mampu melakukan sesuatu yang dibatas kewajaran.


"Kamu gak percaya, Mas?


Aku gak bohong, istri kamu sudah mengirim foto foto kalian pas bermesraan. Dan aku belum buta loh, hingga tak mengenali siapa yang ada di dalam foto tersebut." sahut Clara kecewa dengan sorot tajam menatap Pandu yang justru membuang muka.


"Coba lihat, mana fotonya?


Karena aku tidak merasa melakukan itu dengan Risma, bahkan dia selalu bersikap acuh dan dingin padaku." balas Pandu dengan masih tak percaya.


Dan Clara langsung membuka ponselnya, berniat untuk menunjukkan foto yang pernah dikirim Risma ke ponselnya, namun Clara lupa, kalau sudah menghapus semua foto foto itu karena emosi dan cemburu.


"Aku lupa, aku sudah menghapusnya langsung waktu itu, aku gak kuat lihat pose kalian yang menyakiti hatiku." sahut Clara lirih dan menyesali kebodohannya yang langsung menghapus foto foto tersebut.


"Sudahlah, jangan memperkeruh keadaan dan jangan mengada Ngada. Tolong, bersikap lah dewasa dan pahami posisi kita, jika kamu masih ingin kita bertahan dalam pernikahan ini." Balas Pandu tajam dengan mimik tak terbaca.


"Kamu masih menuduh aku mengada ada, Mas?


Keterlaluan kamu!


Apa kalau aku bilang, istri kamu sudah membuat stori kebersamaan kalian di watshap kamu, kamu juga bilang aku mengada ada?" balas Clara kesal dan tak percaya jika Pandu akan bersikap abai pada perasaannya saat ini.


"Gak! Kalau masalah itu aku tau, dan itu masih dalam hal yang wajar, kami suami istri." Sahut Pandu berusaha tenang dan berusaha mengontrol emosinya.


"Wajar kata kamu?


Aku cemburu mas, aku sakit hati, aku iri melihat kalian tertawa dan bersenang senang, sedangkan aku menangis sendirian dirumah, meratapi suamiku yang tak mengingat keberadaan ku. Kamu berubah, Mas! Kamu keterlaluan! Aku benci sama kamu, kamu jahat!" Clara semakin terisak dan merasakan nyeri luar biasa di hatinya, Pandu yang dikira lebih mencintai dirinya, justru menjatuhkan hatinya sedemikan hebatnya.


Pandu menatap lurus ke depan, mengusap wajahnya kasar. Menghadapi dua wanita tak semudah yang ada dalam bayangannya. Apalagi dengan sifat Clara yang tak mau mendengar nasehatnya.


"Mau kamu apa, kita harus gimana?" sahut Pandu setelah beberapa saat terdiam.


"Aku mau, kamu memilih antara aku dan Risma?


Karena aku tak sanggup, kalau harus terus menahan sakitnya cemburu." balas Clara dengan mata yang basah dengan air mata.


"Jangan bicara aneh aneh Clara, aku tidak bisa memilih salah satu diantara kalian, aku tidak mungkin melepaskan Risma, dia istriku yang menemaniku hingga aku bisa seperti ini, dan pasti ada hati anak anak yang akan dipertaruhkan.


Kamu, kamu juga istriku, dan aku sayang dan cinta sama kamu. Tolong pahami dan belajarlah bersabar menerima ini semua." sahut Pandu tegas dengan sorot menatap lekat pada istri keduanya.


"Baiklah, aku mundur!


Aku akan berhenti sampai disini. Tapi sebelum itu, aku ingin semua orang tau, kalau aku juga istri dari Pandu Aditama!"