Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain

Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain
Cemas


"Kenapa kalian punya pikiran seperti itu. Pandu dan Risma berhak tau siapa Dania. Kasihan anak itu, bagaimanapun dia berhak mendapatkan pengakuan dan cinta ayah kandungnya. Apalagi Clara dan Pandu tidak berzina, mereka menikah sah secara agama. Dania bukan aib loh." Bu Rosa, ibunya Sandi berkomentar setelah mendengarkan penjelasan dari sang anak. Dan di iyakan oleh suaminya, pak Hilman yang setuju dengan pendapat istrinya.


Sandi menarik nafasnya dalam sebelum menjawab ucapan sang ibu.


"Ma! Aku dan Clara tidak menginginkan itu, kalau sampai Pandu dan Risma mengetahui siapa Dania, pasti akan ada masalah diantara kami. Tolong lah ma, pahami ini. Lagian aku juga terlanjur menyayangi anak itu seperti anak kandungku. Meskipun aku punya sedikit rasa kecewa pada Clara. Tapi itu sepenuhnya juga bukan salah dia. Dia sudah mengatakan siapa dirinya dan juga masa lalunya. Soal Pandu, Clara juga gak tau kalau kita punya ikatan keluarga dengan Risma.


Aku saja yang masih belum bisa berdamai dengan hatiku.


Setelah ini, aku akan menemui Risma dan ngobrol dengannya, karena dia dan pandu juga harus tau, kalau aku menikahi Clara. Semoga nanti semua baik baik saja." sahut Sandi mengutarakan isi hatinya, mama dan papanya hanya bisa menarik nafasnya dalam tak ingin lagi berdebat dengan sang anak yang memang sudah dewasa, sudah tau apa yang terbaik untuk dirinya.


"Kalau memang itu baik menurut kalian, mama sama papa juga bisa apa. Tapi satu hal yang harus kamu ingat, jangan lama lama menyembunyikan soal status Dania. Kasihan anak itu kalau sudah dewasa." sahut pak Hilman dengan ekspresi datarnya.


"Iya, Pa! Sandi paham. Terimakasih mama sama papa sudah mau mengerti dengan keputusan Sandi. Maafkan Sandi kalau membuat papa juga mama gak nyaman dengan masalah ini." Sandi menatap kedua orangtuanya dengan pandangan sayu, merasa bersalah dengan situasi yang sulit dan membuat tak nyaman dalam hubungan keluarganya.


"Sudahlah! Papa percaya, kamu bisa mengatasinya. Bersikaplah bijak dan dewasa dengan apa yang sudah jadi keputusanmu." sahut pak Hilman tegas dan menatap dalam ke arah sandi yang tengah tersenyum lega.


"Iya, Pa! doain sandi dan restui langkah Sandi." balas Sandi dengan menatap orangtuanya bergantian penuh rasa bangga. Bersyukur miliki orang tua yang begitu baik dan selalu bisa bersikap bijak dalam setiap masalah yang dihadapi.


"Kamu mau kerumah Risma jam berapa?" tanya Bu Rosa pada akhirnya setelah memilih diam menyimak obrolan antara suami dan anaknya.


"Satu jam lagi, ma! Sandi mau istirahat sebentar dulu disini. Bolehkah?" sahut Sandi sambil merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang tengah di dudukinya.


"Pertanyaan apa itu?


Ya pasti boleh, rumah ini selalu terbuka buat anak anak mama, istirahat di kamar saja, biar lebih leluasa. Lagian rumah Risma juga gak terlalu jauh dari sini." balas Bu Rosa gemas dengan jawaban anak laki lakinya yang begitu dia sayang.


Sandi hanya tertawa melihat sang mama gemas dengan ulahnya. "Disini saja, Ma! Nanti kalau dikamar ke enakan dan jadi malas bangun. Satu jam lagi, nanti tolong bangunin Sandi ya, Mah!" balas Sandi dengan mengerlingkan matanya pada sang ibu yang terlihat menatap lembut ke arahnya.


"Iya nanti mama bangunin. Mama mau bikin kue buat anak anak Risma. Nanti kamu bawakan ya buat mereka, mereka itu anak anak yang lucu dan pintar. Kamu kapan kasih mama cucu?" sahut Bu Rosa yang membuat Sandi langsung kesedak dengan pertanyaan mamanya soal anak.


'gimana punya anak, bikin aja belum.' batin Sandi meringis sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ditanyain anak kok malah meringis kayak gitu, emang kamu belum mau punya anak, kasih nama cucu gitu?" Bu Rosa menatap lekat ke arah Sandi yang mendadak salah tingkah.


"Sudahlah Ma, nanti kalau sudah waktunya pasti mama dapat cucu dari Sandi. Sandi nikah kan belum ada satu bulan, masak sudah nanyain cucu sih." sahut Sandi pura pura kesal dengan pertanyaan mamanya, padahal dalam hati mengutuk dirinya sendiri karena belum bisa melakukan kewajibannya sebagai seorang suami.


"Gitu saja kok sewot kamu, Le! yasudah mama mau ke dapur dulu, buat oleh oleh untuk anak anak Risma." sahut Bu Rosa yang langsung meneruskan langkahnya ke arah dapur. Dan itu membuat pak Hilman hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan perdebatan istri dan anaknya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Erna sudah siap dengan dandanan yang sangat cantik, rambutnya yang berwarna coklat digerai begitu indah, memakai dress sepanjang lutut tanpa lengan dengan sepatu tingginya. Sempurna untuk ukuran kecantikan seorang wanita.


Berjalan keluar menuju parkiran dengan langkah gemulai khas seorang model, dan menjadi tatapan pria untuk mengagumi kecantikan nya.


"Aku akan menemui istri kamu, Pandu!


Kita lihat, apa yang akan terjadi. Akan aku pastikan istrimu akan meraung menangis karena luka cemburu, dia akan percaya kalau aku perempuan selingkuhan suaminya." hahahaha Erna tertawa bahagia karena akan menjalankan misinya untuk mempengaruhi Risma kalau Pandu berselingkuh dengannya. "Permainan dimulai." Erna bergumam sambil menjalankan mobilnya keluar dari parkiran untuk menuju alamat rumah Pandu yang kemarin sudah dia kantongi hasil dari membuntuti mobilnya Pandu.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Risma yang tengah duduk santai sambil membaca buku, dikagetkan dengan ponselnya yang tengah berdering. Ternyata telepon dari Pandu yang tertulis di layar ponselnya.


"Asalamualaikum, Pa!" sahut Risma saat menjawab telepon dari suaminya.


"Waalaikumsallm,Ma!


Lagi apa?" terdengar nada khawatir di ujung sana dari Pandu yang memang gelisah dengan pikirannya, karena takut Erna membuat ulah pada istrinya.


"Lagi baca buku di teras belakang, ada apa, Pa?


Kok tumben hawatir gitu, ada apa?" sahut Risma yang tengah mengernyitkan dahinya dengan sikap suaminya yang tak biasanya.


"Iya, kepikiran kamu saja. Entahlah seperti ada yang mengganjal di hati ini. Kamu baik baik saja kan?" sahut Pandu mengungkapkan rasa khawatirnya.


"Iya, Pa! Aku baik baik saja kok, gak usah hawatir begitu ah." sahut Risma santai dengan seulas senyum yang tentu gak terlihat oleh Pandu.


"Kalau ada apa apa kasih tau aku ya, langsung telpon saja. Baik baik dirumah. I love you sayang." Pandu mengakhiri obrolannya dan melanjutkan kembali bekerja meskipun hatinya masih merasakan cemas yang dia sendiri tidak tau apa yang tengah dicemaskannya.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Hay kak, haturnuhun sudah membaca karya Hawa.


Yuk baca juga novel terbaru Hawa yang berjudul:


#Cinta Berbalut Nafsu


#Kasih Sayang Yang Salah


#Negeri Dongeng Alisia


Yuk kak mampir disana juga ya, dan jangan lupa kasih love, like n komentarnya.


Haturnuhun semua, salam sayang dari jauh ❤️🔥