Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain

Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain
tak dapat di bantah


"Gak masalah, kamu kan memang sedang hamil.


Lebih baik kamu sehat begini, meskipun badan kamu jadi gemuk, anak kita juga ikut tumbuh dengan sehat di dalam sana.


Dari pada kamu sakit dan terlihat lemah, itu akan berbahaya untuk kesehatan calon bayi kita.


Jangan mikir aneh aneh lagi.


Fokus saja dengan kehamilan kamu." sahut Sandi jujur, yang memang tak perduli dengan perubahan bentuk tubuh istrinya, asal sehat dan calon bayinya bisa berkembang dengan baik, bagi Sandi sudah lebih dari cukup.


"Makasih ya mas!


Aku janji nanti setelah lahiran, akan merawat tubuhku lagi." balas Clara tersenyum dan kembali mengambil makanan nya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Sabtu pagi Sandi menelpon Risma kalau akan kerumahnya bersama Clara setelah dari rumah orang tuanya.


Risma mengatur nafasnya. Meyakinkan dirinya jika semua akan baik baik saja. Semua sudah berlalu meskipun perih itu kadang masih terasa.


Dengan langkah pelan, Risma menemui suaminya yang tengah duduk santai di teras belakang, mengawasi anak anaknya bermain.


"Mas!" Risma mengusap pundak panduk dengan lembut, lalu memilih duduk di kursi kosong sampingnya Pandu.


"Hay sayang!


Sudah bangun?


Aku sengaja membiarkan kamu tidur, sepertinya kamu lelah sekali." Pandu mengusap wajah istrinya lembut dengan tatapan mata yang begitu memuja.


"Iya, mas! Maaf ya, aku jadi malas begini!" sahut Risma tersenyum, malu dengan dirinya sendiri karena tidak biasanya dia tidur senyenyak hari ini, mungkin tubuhnya benar benar lelah, karena habis sholat subuh, Pandu meminta haknya untuk dilayani sang istri.


"Semua kan gara gara aku, jadi ya wajarlah kamu capek. Makasih ya sayang! Maaf sudah buat kamu lemas kayak gini." balas Pandu dengan tatapan jahilnya, membuatnya Risma malu dan mukanya mendadak bersemu merah.


"Mas Pandu sudah sarapan?" Risma mengalihkan pembicaraan, meskipun dengan suaminya sendiri, Risma masih suka malu kalau bicara masalah ranjang secara vulgar.


"Sudah!


Tadi bikin nasi goreng sama anak anak. Kan hari ini mbak Romlah ijin libur.


Aku sudah sisihkan satu piring buat kamu, spesial dengan telor mata sapi." balas Pandu santai dan kembali melihat ke arah anak anaknya yang anteng main air.


"Iya mas, makasih banyak ya. Habis ini aku akan makan nasi gorengnya!" sahut Risma tersenyum menatap sendu ke arah suaminya.


"Kenapa?


Aka ada yang kamu sedang pikirkan?" Pandu menatap lekat wajah Risma yang mendadak berubah sendu.


Pandu sangat hafal bagaimana sifat istrinya, jika ada yang mengganggu pikirannya, mata itu akan terlihat sendu dan sayu.


"Barusan Sandi telepon, Dian akan datang kesini nanti siang." sahut Risma dengan mimik yang tak bisa dijelaskan.


"Lalu?


Apa yang membuatmu cemas?" balas Pandu yang masih belum mengerti maksud ucapan Risma, karena Sandi terbiasa bertamu dan Risma tidak ada masalah, namun kenapa sekarang terlihat cemas, itulah yang membuat Pandu mendadak memiliki firasat buruk.


"Sandi akan datang bersama Clara." sahut Risma sambil menatap nduk dalam dengan kedua tangannya saling meremas.


Sekuat apapun seorang wanita menyembunyikan luka, dia akan tetap rapuh kala kenangan buruk itu kembali terlintas dan mengusik hatinya.


"Ya Tuhan! Apa lagi yang akan dilakukan mereka?


Bukankah semuanya sudah jelas?


Lalu apa yang kamu pikirkan, Ma?" balas Pandu merasa terusik, dan cemas dengan perasaan istrinya.


"Insyaallah, aku siap jika harus bertemu dengan Clara, Pa!


Tidak selamanya kita terus menghindar karena memang kita disatukan dalam ikatan keluarga besar. Kita akan hadapi sama sama!


Insyaallah setelah ini semuanya akan jadi lebih baik!" sahut Risma mantap, berusaha menguatkan hatinya dan meyakinkan dirinya jika dia bisa melewati semuanya dengan iklas dan legowo.


"Tapi aku tidak akan menemui mereka, kalau Sandi tidak masalah, tapi Clara?


Aku akan keluar, biar anak anak denganku.


Temui Lah mereka." balas Pandu tegas, Pandu tidak mau Risma tersiksa dengan perasaannya karena melihat dirinya kembali bertemu dengan Clara, karena Pandu paham. Rasa cemburu dan sakit itu pasti akan terus membekas di hati istrinya.


"Tidak perlu, Pa! Tetaplah disini, temani aku menemui Clara!


Jika kamu pergi, justru aku akan berpikir jika kamu masih menyimpan perasaan kamu padanya.


Tapi jika kamu tetap disini, aku akan melihat kalau suamiku, sudah tidak lagi menyimpan perasaan pada wanita lain, karena sorot mata dan gerak tubuh tidak bisa berbohong." sahut Risma tak kalah tegasnya, dan membuat Pandu pasrah mengikuti kemauan istrinya, toh hatinya sudah benar benar tidak lagi menyimpan nama Clara.


Pandu sudah membuang masa lalunya dan benar benar fokus dengan istri dan anak anaknya.


Sebelum menjawab ucapan istrinya, Pandu menghirup udara sebanyak mungkin, lalu melepaskannya kasar.


"Baiklah, aku akan mengikuti maumu, Ma!


Semoga setelah ini, semua benar benar selesai, dan kamu yakin jika hatiku hanyalah milikmu, istriku juga anak anakku." sahut Pandu tegas dengan tatapan penuh di arahkan ke pada istrinya yang tengah tersenyum dengan kesungguhan Pandu.


"Baiklah, aku akan menyiapkan hidangan untuk mereka. Karena bagaimanapun, tamu harus dijamu dengan baik." sahut Risma, lalu meninggalkan Pandu begitu saja dengan perasaan kesalnya. Risma memang tidak bisa di tolak kalau sudah memutuskan sesuatu.


"Keras kepala, tapi aku sangat mencintaimu!" lirih Pandu mengiringi langkah isterinya.


Risma berusaha bersikap biasa, dan berusaha tenang dengan apa yang nanti terjadi.


Karena sesungguhnya Risma percaya, jika suaminya sudah benar benar berubah dan menyesali perbuatannya. Namun semua harus diselesaikan agar tidak ada lagi rasa yang mengganjal di hati masing masing.


Dengan cekatan Risma membuat bolu pandan yang di taburi keju di atasnya.


Risma juga menggoreng pisang krispi yang dibentuk kipas.


Tak lupa Risma juga memasak rendang daging dan urap urap.


Cari yang mudah dan cepat, agar saat Sandi datang semua sudah selesai. Risma akan tetap menjamu tamunya dengan baik, meskipun dia mantan pelakor dalam rumah tangganya.


Risma paham betul bagaimana dia harus bersikap, bertindak dan memutuskan sesuatu tanpa harus mengedepankan egonya.


Risma wanita lembut yang juga seorang pemikir sejati.


Hatinya begitu luas untuk memaafkan orang orang yang pernah bersalah padanya. Karena dia paham, tidak semua keburukan harus dibalas keburukan, karena akan mencipta keburukan keburukan yang lain. Risma bukan orang yang seperti itu, Risma memilih iklas dan membiarkan tangan Tuhan yang bekerja dalam membalas sebuah perbuatan.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


New karya Hawa


#Negeri dongeng Alisia


#Kasih sayang yang salah


#Cinta berbalut Nafsu


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


Happy ending ❤️