
"Aku mencintai kamu, Mas! Bahkan sangat mencintai, tapi aku tak bisa kamu perlakukan seperti ini, kehadiranku yang tak dianggap, keberadaan ku yang tak diakui, membuatku terluka dan menderita lahir maupun batin, biarlah semua harus seperti ini, jika kamu masih mencintai dan menginginkan rumah tangga kita kembali baik baik saja, pasti kamu akan datang menemui ku dan meminta maaf atas kelalaian kamu itu. Aku pasti akan memaafkan mu dan menerima kamu kembali dengan penuh cinta, kita akan memulai lagi dari awal dan saling merubah kesalahan diri agar tidak terulang kembali kesalahan yang sama. Aku percaya, kamu akan menemui aku suatu hari nanti."
Clara melamun dan masih berharap akan cinta Pandu dan memulai semua dari awal lagi.
Meskipun kini hatinya sudah terluka dan kecewa oleh sikap Pandu yang tak lagi seperti biasa.
Tak ingin terpuruk oleh keadaan, hanya karena mencintai pria yang bahkan kini seolah enggan mengejarnya lagi. Clara mulai mengemasi barang barangnya, ingin tinggal di rumah ibunya lagi. Tak sanggup jika tetap berada dirumah yang meninggalkan kenangan dan mimpi indah bersama Pandu.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sudah tiga hari, Clara berada dirumah ibunya, Pandu juga tak kunjung mencarinya. Bahkan tak ada sedikitpun tanda tanda Pandu berusaha untuk menghubunginya lewat ponsel milik ibunya, padahal Pandu juga memegang nomor ponsel Bu Desmita, ibu mertuanya.
Clara semakin dibuat tertekan, dengan sikap cuek Pandu, membuatnya selalu murung dan jadi lebih pendiam, badannya terlihat lebih kurus dan tak ada semangat menjalani hari harinya.
Bu Desmita semakin cemas dengan perubahan Clara yang tak seceria biasanya.
"Clara, makan dulu, Nak!
Dari pulang kerja kamu belum makan apa apa, nanti kamu sakit. Ibu juga yang repot. Jangan siksa tubuhmu dengan menangisi orang yang bahkan mungkin mengingat kamu saja tidak. Kalau Pandu masih ingin mempertahankan pernikahan kalian, pasti dia akan datang menemui kamu, tapi jika memang semua harus berakhir, selesaikan masalah kalian baik baik, pisah dengan cara yang baik. Kamu harus bisa menerima dengan lapang dada, Nak!" Bu Desmita menasehati Clara yang hanya diam menatap kosong ke arah jendela kamarnya.
"Ibu ambilkan nasinya ya, makan di kamar saja. Jangan siksa tubuhmu, banyak berdoa dan pasrahkan pada yang kuasa. Percayalah, Alloh tidak akan mengambil sesuatu tanpa mempersiapkan gantinya dengan yang lebih baik. Saat ini kamu sedang di uji kesabaran dan kedewasaan kamu." Bu Desmita memeluk tubuh Clara yang lunglai, di usapnya ujung kepala anak perempuannya dengan penuh kasih sayang.
"Sudah, jangan terus meratapi sesuatu yang akan hanya menyiksa batin kamu, Nak!
Ibu akan ambilkan nasi dulu ya, kamu harus makan!" sambung Bu Desmita dan melepaskan pelukannya pada Clara yang masih terdiam.
"Bu!" Clara memanggil ibunya lirih, tersenyum dan ikut beranjak dari tempatnya duduk dan melamun.
"Clara makan di meja makan saja, tapi ibu temani Clara makan ya?" sambung Clara yang memutuskan untuk mendengarkan perkataan ibunya, tubuhnya juga butuh tenaga dan tak perlu terlalu dalam menangisi kepergian yang justru akan menghancurkan hidup dan kebahagiaan nya.
Sedangkan di lain tempat. Risma nampak bahagia dengan kebersamaannya bersama kedua orang tuanya, ayah dan ibunya mencurahkan banyak cinta dan perhatian. Risma tidak di ijinkan sama sekali menyentuh pekerjaan rumah, semua harus dilakukan ART kepercayaan sang ibu. Risma cukup menikmati waktunya untuk bersantai dan harus bahagia.
Hari ini adalah jadwal Risma kerumah sakit , melakukan terapi bersama dokter Abas. Semua berjalan sesuai harapan, harapan untuk sembuh sudah hampir tujuh puluh persen. Semoga bisa kembali merasakan sehat yang benar benar sehat. Agar bisa menikmati waktu, melihat anak anaknya tumbuh dewasa dan menikah.
Sepulang dari rumah sakit, Risma memutuskan untuk istirahat di kamar, memulihkan tenaganya kembali, agar esok hari kembali fresh dan bisa menemani anak anaknya bermain.
Saat Risma merebahkan tubuhnya di atas ranjang, ponselnya berdering, nama Pandu terlihat memenuhi layar datar miliknya.
"Hallo, asalamualaikum, Mas!" sapa Risma mengawali obrolan.
"Waalaikumsallm, hari ini jadwal kamu ke rumah sakit, bagaimana perkembangannya? aku khawatir banget memikirkan mu, tapi sudah janji sama ayah untuk tidak menemui kalian sebelum dua Minggu ke depan. Padahal aku juga sangat rindu sama anak-anak." sahut Pandu lirih, dirinya benar benar merindukan suasana rumahnya yang selalu ceria dengan tingkah lucu kedua anaknya, baru ditinggal tiga hari, rumahnya sepi seperti tak berpenghuni, kosong dan mampu membuatnya berada di antara kegelisahan yang begitu hebatnya, bahkan tak jarang Pandu menangis sendirian saat rindu di hatinya tak bisa tersampaikan. Cinta terhadap anak anaknya begitu besar buat seorang Pandu Aditama.
"Alhamdulillah, semua semakin membaik, Mas. Mohon doanya ya, dan ridhoi setiap langkahku. Anak anak juga merindukan kamu, tapi ini harus kita jalani, cari hatimu ingin berlabuh kemana? selama dua Minggu waktu yang harus kamu lalui tanpa kami, tanyakan pada diri juga hatimu, sepenting apa kami dalam hidup kamu, Mas?
Lalu tentukan pilihan kamu!
Maaf, aku harus istirahat, kepalaku masih terasa pusing. Kamu jaga kesehatan, jangan sampai telat makan ya, Asalamualaikum!" sahut Risma dan langsung menutup sambungan telponnya tanpa menunggu jawaban terlebih dulu dari Pandu.
Risma sengaja menghindari Pandu, karena tak ingin larut dengan perasaan nya yang akan membuka luka lamanya.
"Waalaikumsallm." Pandu tertegun, menatap kosong kearah pintu kamarnya, benar benar merasakan perih kehilangan sosok Risma yang dulu begitu memujanya. Rindu dengan kehebohan anak anaknya selepas dari penatnya urusan kantor. Pandu merasa tak bisa jika harus kehilangan Risma juga kedua anaknya, mereka memiliki tempat istimewa di hatinya.
Sedangkan rasanya pada Clara, entah menguap kemana, tidak berkomunikasi dan tidak bertemu semenjak Clara memutuskan pergi, tak ada keinginan untuk menemuinya apa lagi menghubungi Clara memalui ibunya. Tapi Pandu merasa harus bicara dengan Clara, karena mereka masih terikat pernikahan yang tak bisa di abaikan begitu saja.
"Besok aku akan menemui Clara, aku harus bicara dengannya, apa yang dia mau dan inginkan dari pernikahan ini. Karena tidak mungkin aku bertahan, sedangkan yang ada hanya perselisihan saja." gumam Pandu memantapkan hatinya.
Karena bagaimanapun, Pandu masih punya tanggung jawab pada wanita yang dinikahinya secara siri, bicara baik baik dan menyelesaikan masalah yang ada dengan pikiran jernih dan hati yang tenang. Bagaimanapun Pandu masih suami yang memiliki rasa cinta untuk istri keduanya itu, meskipun perasaan cintanya tak lagi sebesar dulu.