
Risma semakin gemetar dengan jantung yang berdetak kencang, saat mobil yang dikendarai kakak iparnya berhenti di depan rumah minimalis yang terlihat mewah dari luar.
"Keterlaluan kamu, Mas!" batin Risma semakin meradang, kebencian dan amarah telah menumbuhkan kekuatan dirinya untuk melangkah tegap, menemui pasangan yang ada di dalam rumah tepat di hadapannya.
"Kamu siap?"
Permadi memastikan sekali lagi keyakinan Risma sebelum kakinya melangkah masuk ke dalam halaman rumah yang terlihat indah dan elegan.
Risma mengangguk mantap dengan terus melafazkan istighfar di dalam hatinya. Berusaha mengendalikan perasaan yang sudah tercabik. Sedangkan Permadi berjalan mendahului Risma, berada di depannya dan saat sudah ada di teras, Permadi memutar tubuhnya dan menatap Risma iba.
"Kuatkan hati kamu, Ris!
Kamu harus tegas dan buat Pandu tak berkutik dengan ketegasan kamu. Aku tau, Pandu adikku, saudara kandungku, tapi aku tidak suka dengan caranya yang berbuat sesuka hatinya terhadap istri sebaik kamu. Meskipun selama ini aku memilih diam, tapi aku tau semuanya, aku paham apa yang terjadi diantara kalian. Setelah ini terserah apa yang akan kamu putuskan, semua ada di tangan kamu. Pikirkan baik baik sebelum kamu memutuskan, ada anak anak yang harus dijaga mentalnya. Aku yakin kamu sangat memahami itu semua." Permadi mencoba memberikan nasehatnya dan seolah ingin menunjukkan jika dia ada di pihak adik iparnya.
Risma mengangguk dan membuang nafasnya kasar, menengadahkan pandangannya menatap gelapnya langit, tekadnya sudah bulat, pendiriannya teguh dan hatinya dipaksa kuat demi ingin melihat wajah panik sang suami dengan kedatangannya.
"Iya, Mas! Bismillah." sahut Risma pada akhirnya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sedangkan di dalam, Pandu dan Clara baru selesai melewati permainan panasnya, mereka saling berpelukan dengan tanpa sehelai kain pun yang menempel di tubuhnya.
"Makasih sayang, kalau sama kamu, aku selalu merasakan puas dan itu membuat aku lebih semangat." Pandu mengungkapkan pujiannya pada perempuan yang sedang bersandar di dada bidangnya.
"Sama, Mas! aku selalu merasakan jatuh cinta saat bersama kamu, nyaman dan bahagia. Makasih ya sayang. Semoga aku segera hamil, aku pingin punya anak dari kamu." sahut Clara manja dan terlihat wajahnya sudah merona menatap Pandu dengan begitu mesra.
Mereka berpelukan dan saling melempar senyum, saat Pandu ingin memulai aksinya kembali, terdengar pintu diketuk dan Clara juga Pandu saling bertatapan.
"Siapa yang bertamu malam malam gini sih, sayang? ganggu kesenangan orang saja!"
Sungut Pandu tak suka dan disambut tawa renyah oleh Clara yang langsung beranjak dari ranjang dan mulai memakai bajunya.
"Paling juga tetangga, atau ibu, Mas!
Istirahat dulu, kita juga sudah dari siang kan?
Masak kamu gak capek!
Aku ke depan dulu ya, mau lihat siapa yang datang." Sahut Clara menahan senyum dengan tingkah suaminya.
Terlihat Pandu menghempaskan tubuhnya ke kasur dan menatap punggung istri keduanya dengan senyuman.
Clara berjalan dengan santai menuju pintu, dan dengan senyuman Clara membuka pintunya, namun setelah pintu terbuka, senyum itu menghilang berganti gugup dan langsung salah tingkah, saat matanya melihat Risma istri pertama Pandu, ada dihadapannya, dengan kedua tangannya bersedekap dada, menatap tajam pada Clara dengan kebencian. Sedangkan Permadi berdiri di belakang Risma dengan wajah datarnya, diam dan menatap tak suka pada Clara yang langsung terlihat pucat.
"Asalamualaikum, mbak!
Apa suami saya ada disini?
Tolong panggilkan, karena ratu dirumahnya sudah menunggu disini!" Risma mengawali obrolan dengan sikap angkuh dan terkesan dingin, membuat Clara salah tingkah dan was was.
"Waalaikumsallm, silahkan duduk dulu, saya akan panggilkan suami saya." Sahut Clara tak mau kalah namun dengan suara yang sedikit bergetar menahan kesal dan juga malu.
"Suami?
Suami yang bagaimana?
Bukankah Mas Pandu tak berani membawa kamu di depan umum, memperkenalkan kamu pada dunia kalau kamu istrinya, gak berani kan?
Aku menikah dengan cara terhormat, sedangkan kamu dinikahi secara sembunyi sembunyi. Memalukan!" Sahut Risma pedas dengan senyuman miring terukir di bibir tipisnya.
"Jaga bicara kamu, mbak!
Aku juga istrinya Mas Pandu!
Pantes saja, Mas Pandu tidak bisa mencintai kamu, perempuan kasar dan bermulut pedas." balas Clara tidak terima dan mulai menunjukkan sifat aslinya.
Plak! Plak!
"Lancang!" Risma menampar kedua pipi Clara dengan penuh kebencian, sudah salah merebut kebahagiaan wanita lain, tapi masih bisa menghina tanpa punya perasaan.
"Aku akan mengadukan ini pada Mas Pandu.
Agar dia tau, seperti apa kelakuan istrinya. Jahat kamu mbak!" Clara memutar langkah dan ingin memanggil Pandu yang sedang ada dikamar, namun langkahnya terhenti dengan kalimat yang terlontar dari mulut Risma.
"Adukan saja, kita lihat seperti apa Mas Pandu menyikapi semua ini. Karena aku sudah sangat ingin melihat kalian pucat menghadapi kekuatan seorang ibu Persit yang keberadaannya sangat dilindungi ini. Bagaimana?" sahut Risma tegas dengan tatapan meremehkan ditujukan pada Clara yang terlihat mulai mengepalkan kedua tangannya benci.
"Ada apa ini, kenapa ribut ribut?" Tiba tiba Pandu muncul dengan pakaian santainya, namun belum melihat keberadaan Risma dan kakaknya, karena terhalang dinding.
Saat Pandu sudah ada di dekat Clara, dan matanya tak sengaja melihat keberadaan istri pertamanya dan kakak kandungnya, Pandu langsung terlihat shock, dan diam terpaku dengan salah tingkah.
"Mas, Permadi!"
"Risma! Kalian!"
Suara Pandu tercekat, tidak tau harus bagaimana, apa lagi melihat Risma yang terlihat murka dengan tatapan bencinya.
"Kenapa, Mas?
Kaget ya, kenapa aku bisa ada disini?
Sekarang pilihan kamu ada dua, kita bercerai dan aku melaporkan kelakuan kamu ini pada atasan kamu, atau kamu menyerahkan aset tersembunyi kamu padaku dan anak anak. Oh dan satu lagi, rumah ini, dibeli dengan menggunakan uang kamu kan, mas? Aku ingin rumah ini berpindah nama menjadi milik Cinta. Karena saat aku masih sah jadi istri kamu, apa yang kamu punya adalah harta bersama, sedangkan perempuan ini, baru kamu nikahi kemarin, belum ada hartanya dari kamu, masak baru jadi istri beberapa hari sudah mau dapat banyak, enak saja!" sahut Risma santai dan bahkan terlihat begitu tegar dengan gayanya yang angkuh penuh kebencian.
"Cukup!
Cukup kataku, Kamu sudah Keterlaluan Risma!
Jangan kamu pikir aku diam dan menuruti mau kamu, kamu bisa seenaknya, Tidak!
Aku tidak akan menuruti mau kamu yang gila itu!" balas Pandu dengan amarah yang memuncak bahkan terlihat dadanya naik turun sangking emosinya, itu membuat Clara tersenyum sinis ke arah Risma yang bahkan masih terlihat sangat tenang dan santai.
"Baiklah!
Kita akan bertemu di sidang dan aku akan bawa masalah ini pada atasan kamu, Mas!
Kita lihat, siapa yang akan hancur setelah ini, pikirkan hati ibu kamu, sebelum kamu menunjukkan egomu hanya demi perempuan itu!" Sahut Risma penuh dengan penekanan dan menatap tajam pada dua manusia yang langsung mematung mendengar penuturannya.
"Pandu! Jangan buat malu keluarga, jika sampai ada apa apa sama mama, aku sendiri yang akan menghabisi kamu!
Ingat, Mama sangat bangga bisa membuat kamu menjadi seorang perwira yang terhormat, tapi kamu justru bertingkah hanya karena syahwat kamu itu. Memalukan!" Permadi ikut menimpali, karena sudah merasa geram dengan kelakuan adiknya.
"Aku tunggu kamu dirumah mama, pulang sekarang! kita harus bicara!" sambung Permadi dengan sikap tegasnya dan Pandu tidak bisa membantahnya, karena sangat paham siapa kakak laki lakinya itu. Meskipun bukan aparat, tapi Permadi adalah pebisnis yang sukses dan sangat disegani dikalangan pejabat. Memiliki sifat keras dan tegas, juga sangat menyayangi ibunya.
"Risma, kita pulang!" ajak Permadi dengan wajah datarnya dan langsung melangkah keluar tanpa menunggu jawaban dari adik iparnya itu.