
Sedangkan rasanya pada Clara, entah menguap kemana, tidak berkomunikasi dan tidak bertemu semenjak Clara memutuskan pergi, tak ada keinginan untuk menemuinya apa lagi menghubungi Clara memalui ibunya. Tapi Pandu merasa harus bicara dengan Clara, karena mereka masih terikat pernikahan yang tak bisa di abaikan begitu saja.
"Besok aku akan menemui Clara, aku harus bicara dengannya, apa yang dia mau dan inginkan dari pernikahan ini. Karena tidak mungkin aku bertahan, sedangkan yang ada hanya perselisihan saja." gumam Pandu memantapkan hatinya.
Karena bagaimanapun, Pandu masih punya tanggung jawab pada wanita yang dinikahinya secara siri, bicara baik baik dan menyelesaikan masalah yang ada dengan pikiran jernih dan hati yang tenang. Bagaimanapun Pandu masih suami yang memiliki rasa cinta untuk istri keduanya itu, meskipun perasaan cintanya tak lagi sebesar dulu.
Pandu merebahkan tubuhnya, pikirannya melayang ke masa lalu, masa saat dirinya dipertemukan dengan Risma atas perjodohan dari kedua orang tuanya. Pandu menurut karena percaya jika pilihan orang tuanya pasti yang terbaik. Meskipun belum tumbuh perasaan cinta dihatinya untuk Risma, Pandu selalu berusaha untuk memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang anak yang patuh pada orang tua, dan seorang suami yang baik untuk Risma nantinya.
Pernikahan akhirnya di sepakati oleh kedua belah pihak, dan Pandu sudah mengutarakan apa yang dirasakan pada Risma waktu itu, memintanya untuk memahami dan saling belajar untuk menerima satu sama lain diantara mereka. Pandu juga jujur kalau belum bisa mencintainya, dan Risma mau menerima dan belajar untuk mengerti keadaan hati Pandu.
Selama bertahun tahun, Pandu sudah sangat berusaha untuk membuka diri dan hati, belajar mencintai dan menerima Risma di hatinya, namun perasaan itu belum juga tumbuh. Meskipun rasa cinta belum ada, namun Pandu tak pernah sekalipun melepas tanggung jawabnya sebagai seorang suami. Pandu memperlakukan Risma dengan baik, mencukupi semua kebutuhannya dan tak pernah bersikap kasar meskipun dalam keadaan kesal. Tak sering Pandu bersikap datar dan dingin saat Risma ingin bermanja.
Hingga akhirnya, takdir mempertemukan Pandu dengan cinta di masa lalunya dalam acara reoni.
Getar cinta itu kembali tumbuh dan pada akhirnya Pandu memilih menikahi Clara tanpa sepengetahuan Risma istri pertamanya.
Dan ternyata, itulah awal kehancuran hidup Pandu, Risma yang berubah dingin dan tak perduli, Risma yang selalu cuek dan masa bodoh, Risma yang selalu menghindar dan Risma yang tak bisa ditebak alur pikirannya. Membuat Pandu gelisah dan pada akhirnya menyadari perasaan cinta yang mulai tumbuh. Namun kehadiran Clara sudah merusak segalanya dalam hubungannya dengan Risma yang semakin dingin dan kaku.
Pandu menghembuskan nafasnya dalam, menutup matanya dan merasakan sesak yang begitu menghimpit dadanya. Karena perasan cinta yang dikira akan membawa bahagia setelah kembali menemukan wanita yang selalu di ingatnya dalam setiap doa, justru kini menjadi bumerang dalam kisah rumah tangganya bersama sang istri yang terlambat ia sadari kalau begitu dicintainya.
"Apa yang harus aku lakukan, tak mungkin aku tiba tiba menceraikan Clara begitu saja, akan sangat berdosa jika aku meninggalkan nya tanpa kesalahan yang fatal, pernikahan bukanlah sebuah permainan. Aku akan sangat buruk jika memperlakukan Clara tak ubahnya sebagai pelampiasan rasa cintaku yang nyatanya hanya sekedar rasa penasaran. Ah kenapa aku bisa berbuat sebodoh ini?" gumam Pandu yang merasa kesal dengan dirinya sendiri. Memaksa memejamkan matanya agar segera terlelap dalam gelapnya malam.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Pukul tiga sore Pandu keluar dari kantornya dan langsung menuju Kediri, untuk bertemu dengan Clara, karena tidak mungkin Pandu membiarkan masalah nya bersama Clara menggantung begitu saja.
Pandu menatap rumah mewah yang diberikan sebagai mahar untuk Clara waktu itu, sepi seperti tak berpenghuni. Padahal hari masih terlihat sore.
Pandu memarkirkan mobilnya, membuka pintu namun masih terkunci.
Pandu mengambil kunci cadangan yang ada padanya. Membuka pintu dan berjalan memasuki rumah minimalis namun terlihat mewah nan elegan.
Mencari Clara di setiap ruangan dan sudut rumah, namun tak juga Pandu menemukan keberadaan Clara. "Apa sebenarnya mau kamu, Clara?" Pandu mengacak rambutnya frustasi.
Kembali meninggalkan rumahnya dan pergi ke tempat ibunya Clara yang tak jauh dari komplek dia tinggal. Bermaksud agar Clara bisa nyaman sering sering bersama ibunya.
Bu Desmita bahkan terlihat langsung menitikkan air matanya dengan kedatangan Pandu yang sudah ditunggu anaknya di beberapa hari ini.
"Waalaikumsallm." sahut Bu Desmita sendu yang langsung merasakan kelegaan sekaligus cemas dengan kedatangan Pandu.
Bu Desmita menatap kedatangan Pandu dengan tatapan tak biasa. Lalu mempersilahkan Pandu masuk dengan tanpa ekspresi dan basa basi lagi.
"Clara ada di sini, Bu?" Pandu membuka obrolan dengan menanyakan keberadaan istrinya saat ini.
"Bu Desmita tersenyum dan terlihat menganggukkan kepalanya.
"Iya, Clara pulang kerumah dari dua hari yang lalu.
Selesaikan masalah kalian dengan kepala dingin, Clara sangat terpukul dengan keadaan ini. Bersikaplah bijak dan adil, Nak Pandu. Sekarang temui Clara dikamar nya, karena dia selalu menghabiskan waktunya hanya untuk meratapi dan menangisi pernikahan diam diam kalian. Maafkan anak ibu, dia masih hanya belum menerima saja." Bu Desmita bicara dengan Pandu yang terlihat memperhatikan setiap kalimat yang diucapkannya dengan sopan.
"Saya kesini, berniat untuk membicarakan masalah kami dari hati ke hati, Bu! Balas Pandu segan. Saya ingin bertemu dengan Clara, apakah di ijinkan?" sahut Pandu dengan sikap yang begitu sopan dan tenang.
"Clara ada di kamarnya, temui lah dan bicarakan dengan kepala dingin." Balas bu Desmita dengan mimik yang terlihat kecewa namun tak bisa berbuat apa apa untuk sang putri.
Pandu mengangguk, dan beranjak dari tempat duduknya untuk menemui Clara yang tengah berbaring di kamarnya.
"Mas! Apa benar itu kamu?" tanya Clara saat matanya menangkap wajah Pandu yang muncul dari balik pintu kamarnya.
Pandu berjalan mendekat, dan tersenyum hangat menatap Clara dengan tubuhnya yang terlihat sedikit kurus.
"Iya, ini aku!
Aku minta maaf, kalau baru bisa menemui kamu, hari ini, Clara! karena aku harus menghormati kehadiran orang tua Risma dirumah kami.
Aku harap kamu mau memahaminya." sahut Pandu dengan wajah yang terlihat tertekan.
"Iya, Mas! aku sudah siapkan mental ku, jika nanti kamu benar benar mau meninggal kan aku dan lebih memilih keluarga kamu." Sahut Clara datar meskipun air matanya kembali lagi berjatuhan membasahi pipinya, seiring luka yang kian menghujam ulu hatinya.