
Bu Desmita menatap Clara dengan wajah sendu, selalu merasa iba acap kali melihat Clara yang selalu duduk melamun di jendela kamarnya.
"Makan dulu, nduk!
Ibu sudah buatkan sayur SOP kesukaan kamu."
Bu Desmita menghampiri putrinya yang tengah duduk di kursi depan jendela kamarnya dengan tatapan kosong.
Clara langsung menoleh pada sang ibu, dan tersenyum tipis ke arahnya. "Iya, Bu!" Clara bangkit dan beranjak untuk segera mengisi perutnya, meskipun mulutnya terasa hambar saat terisi makanan.
"Clara!" panggil Bu Desmita dan suaranya menghentikan langkah sang putri.
'Iya, Bu!" Clara menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah ibunya.
"Apa kamu benar benar yakin untuk tidak memberitahu Pandu, soal kehamilan kamu ini?" Bu Desmita mengulang untuk kesekian kali dengan pertanyaan yang sama pada sang anak.
Clara menghembuskan nafasnya dalam-dalam. Menatap lekat pada sang ibu yang tengah menunggu jawaban darinya dengan wajah sendunya.
"Clara tidak akan pernah memberitahu mas Pandu soal anak ini, Bu! Biarlah Clara yang menjalani semuanya sendiri, Insyaallah Clara sanggup dan yakin mampu membesarkan dan mendidik anak ini kelak. Percayalah, Bu!" Sahut Clara tegas , berharap ibunya tidak lagi mengulang pertanyaan sang sama, karena jawabannya juga akan tetap sama.
"Tapi anak itu juga butuh ayahnya, Nak!
Dan Pandu juga harus tau." balas Bu Desmita menatap lekat Clara yang terlihat tersenyum kecut.
"Iya, Clara tau, Bu!
Biarkan takdir yang akan mempertemukan mereka. Dan Clara tidak akan mendahului takdir dengan akan mengatakan kehamilan ini.
Biarlah Clara jalani ini sendiri, dan Biar Mas Pandu juga menjalani kehidupan sendiri bersama keluarganya.
Sudah lah, Bu. Percaya sama Clara.
Yuk kita makan, gak usah bahas tentang ini lagi ya, Clara harap, ibu mau memahami dan mengerti keputusan yang Clara ambil ini." Clara membalas dengan panjang lebar, mengutarakan semua isi hati dan pikirannya, berharap jika ibunya bisa mengerti dengan keputusan yang sudah diambil.
Bu Desmita membuang nafasnya kasar. "Yasudah jika memang itu mau kamu. Dan jangan pernah menyesalinya nanti." balas Bu Desmita lemah.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sedang di lain tempat, Risma sedang menemani anak anaknya bermain, sambil menunggu kepulangan suaminya.
"Hore, papa pulang!
Yei main lagi sama papa, hore!"
Teriak kebahagiaan dari Galang dan Cinta menyambut kedatangan Pandu.
Pandu tersenyum dan langsung menyambut pelukan rindu kedua buah hatinya, menatap Risma yang terlihat cantik dengan gamis hitamnya yang juga tengah menatap ke arahnya dengan senyuman hangat.
Luka penghianatan memang tidak bisa sembuh dengan mudah, namun memaafkan dan memilih memberi kesempatan kedua jauh lebih menenangkan, apa lagi Risma melihat Pandu begitu mati matian berusaha untuk berubah dan menunjukkan cintanya.
"Ma! besok jadwal kerumah sakit kan?" sapa Pandu saat sudah ada di depan istrinya yang tengah mencium tangannya takzim.
"Iya, Pa! besok jam sembilan." balas Risma menatap ke arah suaminya yang tersenyum, dan mereka berdua melangkah beriringan masuk ke dalam rumah, sedang kedua anaknya sudah lebih dulu berlarian masuk kedalam.
"Besok aku antar, sekalian kita konsultasi sial nambah momongan, semoga gak papa ya Ma?
Karena kesehatan kamu juga sudah jauh lebih baik. Sehat sehat terus ya sayang, kita akan dampingi anak anak sampai mereka dewasa dan menikah." sambung Pandu yang menggenggam tangan sang istri dan memasuki kamarnya.
"Aamiin, Makasih Mas!
Kamu mau disiapin makan nanti, apa sekarang?" balas Risma menatap Pandu dan tersenyum dengan wajah teduhnya.
"Aku mau mandi dulu, kamu sama anak anak siap siap saja. Kita makan diluar!" balas Pandu lembut dan mengecup kening istrinya sayang. Merasa sangat mencintai wanita yang ada di hadapannya, dan tak pernah berhenti merasa bersalah karena dulu pernah menggoreskan luka di hati perempuan lembut dan begitu baik seperti Risma.
"Yakin, Mas?
Mbak Romlah tadi udah masak loh!" sahut Risma cemberut karena Pandu selalu dadakan tiap kali mau mengajaknya keluar.
"Gak papa sayang! Bilang sama mbak Romlah untuk bawa pulang saja masakannya.
Kita makan diluar, anak anak juga pasti senang." sahut Pandu lembut menatap dalam manik legam sang istri yang mulai tersenyum manis.
"Oke! aku mandi dulu." sahut Pandu melepaskan tangannya dari pinggang sang istri dan melangkah ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.
"Cinta, Galang! Yuk ganti baju, papa mau ajak jalan jalan." Risma menghampiri kedua anaknya yang tengah asik menonton acara kartun kesukaannya.
"Wah, asik. Nanti aku mau es krim!" sahut cinta girang. "Aku juga." Galang juga ikut menimpali dan langsung berdiri berlari ke arah mamanya.
"Yuk ganti bajunya dulu, siap siap gih." balas Risma tersenyum, bahagia melihat kedua anaknya yang selalu ceria. Karena mental dan hati mereka masih terjaga dari kemelut rumah tangga yang hampir saja meluluh lantakkan segalanya.
"Mbak, bawa saja semua masakannya pulang ya. Mas Pandu ingin makan diluar soalnya." Risma menoleh pada mbak Romlah yang terlihat sedang membereskan mainan anak anak.
"Iya, Bu! terimakasih banyak!" sahut mbak Romlah senang dan terlihat sumringah.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
"Sudah siap?" Pandu menatap kedua anaknya yang sudah berpakaian rapi.
"Sudah dong, pa!" balas mereka bersamaan dengan ceria dan terlihat menggemaskan.
"Pa, nanti cinta sama adik mau es krim ya?" Cinta menatap papanya penuh harap, karena memang Pandu selalu membatasi anak anaknya agar tidak terlalu sering makan es krim.
"Boleh! tapi secukupnya ya, karena gak baik kalau banyak makan es krim, nanti giginya rusak!" balas Pandu gemas menatap anak perempuannya yang sudah terlihat tumbuh besar denfan wajah cantiknya.
"Siap, Papa!" sahut keduanya senang.
"Yuk, berangkat. Itu mama sudah selesai dandanannya. Tuh cantik banget, makanya lama. Iya gak?" Pandu berbisik pada kedua anaknya yang tertawa dengan tidak tingkahnya.
"Kenapa bisik bisik gitu?" Risma mengernyitkan mukanya menatap Pandu yang menahan senyum dan kedua anaknya yang langsung membekap mulutnya.
"Lagi omongin mama ya?
Kalau gak jawab, mama gak jadi ikut nih!" sambung Risma yang oura pura cemberut menatap bergantian wajah wajah yang ada di depannya.
"Gak papa kok, Mah!
Tadi papa cuma bilang mama itu cantik!" sahut Cinta dengan gaya lugunya.
"Iya, Ma!
Papa cuma bilang mama cantik kok. Kata papa, itu mama sudah selesai, cantik kan? makanya dandannya lama, gitu!" Galang menimpali ucapan sang kakak, dan membuat Risma menatap Pandu yang terlihat menahan tawa.
"Pa!" kata. Risma sambil mengerutkan wajah ke arah suaminya.
"Iya, iya. Perempuan kan mesti lama dandannya. Tapi kamu cantik banget kok, iya kan?
Mama cantik ya?" Pandu bertanya pada kedua anaknya dengan memainkan kedua alisnya, Cinta dan Galang mengangguk dengan senyuman lebar di bibir keduanya.
"Yuk berangkat, biar nanti gak kemalaman." sambung Pandu yang langsung berdiri, menggandeng kedua anaknya berjalan keluar rumah yang di ikuti Risma di belakangnya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Pembalasan Istri Yang Terhina (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
Happy ending ❤️🔥