Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain

Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain
kepergian Clara


"Thanks sudah mampir, hati hati!" Sandi menepuk pundak Pandu pelan dan menatap kepergian laki laki yang masih terlihat gagah di usianya yang hampir kepala empat.


"Kamu laki laki beruntung, Pandu!


Banyak perempuan cantik yang menginginkan dirimu, namun aku salut saat kamu tetap memilih bertahan dan memperbaiki hubungan kamu dengan Risma. Kamu sudah mengambil keputusan yang sangat tepat." lirih Sandi dengan tatapan nanar ke arah Pandu yang terus melangkah meninggalkan Sandi yang masih bergelut dengan perasaan yang tak menentu.


Setelah kepergian Pandu, Sandi langsung pulang dengan pikiran yang semakin membuatnya bersalah, karena sudah bersikap keliru pada Clara.


Dulu saat Sandi memutuskan untuk menjadikan Clara istrinya, Sandi sudah menerima apapun masa lalu Clara, bahkan Clara sudah mengatakan semua keburukannya di masa lalu. Namun dengan yakin Sandi menerimanya, tapi justru saat Sandi mengetahui siapa laki laki masa lalunya Clara, Sandi mendadak egois dan berubah dingin pada perempuan yang telah berusaha mengubur kisah kelamnya dan benar benar ingin memperbaiki diri dengan mencoba menerima pernikahan yang sama sekali belum tumbuh perasaan cinta diantara mereka.


"Maafkan aku Clara!


Semoga kamu bisa kembali membuka maaf dan keikhlasan kamu menerimaku yang sudah kejam dan tak memperdulikan perasaan kamu. Pandu hanyalah masa lalu kamu, dan kalian sudah sama sama menjauh dan memperbaiki kesalahan itu. Harusnya aku tak bersikap sedingin itu ke kamu." gumam Sandi dengan fokus menatap jalanan.


Sebelum pulang kerumah, Sandi ingin membeli bunga untuk permintaan maaf dan ingin memperbaiki hubungan rumah tangganya bersama Clara.


"Semoga kamu suka dengan bunga ini." gumam Sandi dengan bibir tersenyum, harinya sudah benar benar ingin menerima Clara seutuhnya, apa yang terjadi di masa lalu adalah bagian dari takdir yang tak mungkin di hindari. Yang terpenting adakah bagaimana kita menerima dan berubah menjadi lebih baik.


Hanya butuh waktu lima belas menit, Sandi sudah berada di halaman rumahnya yang sangat luas.


Rumah terlihat sepi, biasanya Clara akan menyambut dirinya di teras bersama Dania dalam gendongannya. Hingga Sandi turun dari mobilnya, Clara tak kunjung muncul dengan senyuman manisnya.


"Apa Dania tengah tidur, Clara tumben tidak menyambut ku pulang." Batin Sandi menerka nerka, namun perasaannya mendadak tidak enak.


"Asalamualaikum." Sandi mengucapkan salam saat memasuki rumahnya, langkahnya tegap menuju setiap ruang di dalam rumahnya, mencari Clara dengan bunga yang ada dalam genggamannya. Membayangkan senyuman indahnya saat Clara menerima bunga darinya. Namun Sandi tidak menemukan Clara dimanapun.


"Bi! Clara sama Dania ada dimana?" Sandi menemui Bi Marni, pembantunya! Menanyakan keberadaan istrinya.


"Bu Clara pergi, Pak!


Tadi naik taksi sama non Dania bawa tas.


Gak bilang apa apa, cuma tadi bibi tanya, katanya mau nginep dirumah ibunya, gitu!" sahut Bu Marni jujur dengan apa yang diketahuinya.


"Kok gak kasih kabar ke aku ya?


Perginya jam berapa, Bi?" balas Sandi terlihat kecewa, karena Clara tidak ada menghubunginya.


"Jam sebelas siang kalau bibi gak salah lihat.


Em itu, Bu Clara kelihatan sembab, habis nangis sepertinya." sambung Bi Marni dengan ekspresi yang mendadak sendu menatap Sandi yang terlihat terdiam menatap kosong kesembarang arah.


Sandi menghirup nafasnya dalam, dan berusaha untuk tetap tenang, meraih ponsel di saku celananya. Mencari kontak Clara lalu menekan tombol telepon.


Clara tak kunjung mengangkatnya, bahkan saat Sandi mengirim pesan terlihat langsung terbaca namun tak ada balasan.


"Apa kamu lelah, Ra?


Kamu sudah sangat kecewa dengan sikapku. Maafkan aku, Clara!


Aku memang egois yang tidak pernah mau tau perasaan kamu, maaf!


Aku sudah jadi suami yang buruk dan tak tau diri!" lirih Sandi dengan nada parau, membuat Bi Marni menatap iba majikannya.


"Lebih baik, Pak Sandi temui Bu Clara dirumah ibunya. Bicarakan baik baik jika ada masalah.


Karena bibi sering lihat Bu Clara nangis diam diam, pak. Terus terang bibi kasihan dengan Bu Clara. Maaf, bukan maksud bibi ikut campur, tapi Bu Clare itu orangnya baik sekali. Setiap hari selalu sibuk menyiapkan makanan kesukaan pak Sandi. Katanya, agar Pak sandi senang jika dimanjakan dengan masakan yang diolah istrinya sendiri." sahut Bi Marni, dan membuat Sandi langsung mengerutkan keningnya menatap Bi Marni meminta penjelasan dari yang beru saja dia katakan.


"Maksud Bi Marni, Clara yang memasak tiap hari buatku?"


"Iya, Pak!


"Maafkan aku Clara!" lirih Sandi, dan langsung berdiri, berlari menuju mobilnya. Ingin menemui Clara kerumah ibunya. Meminta maaf dan membawa kembali istrinya pulang ke istananya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


"Clara!


Ada apa sama kamu, nak?


Apa kalian sedang ada masalah?" Bu Desmita menatap lekat pada putrinya.


"Tidak ada Bu!


Clara hanya rindu sama ibu, ingin menginap beberapa hari disini. Bolehkan?" sahut Clara tenang, menutupi hatinya yang terasa perih dengan sikap Sandi yang tak kunjung berubah.


"Apa kamu sudah ijin sama suami kamu?


Ibu senang kamu dan Dania disini, karena ibu tidak akan kesepian, tapi harus ada ijin dari suamimu, kamu sudah menikah Clara!" sahut Bu Desmita dengan tegas, matanya tak berpaling dari menatap anaknya yang terlihat gelisah. Seorang ibu pasti akan peka dengan apa yang terjadi dengan buah hatinya. Bu Desmita merasa, Clara sedang tidak baik baik saja tetapi berusaha untuk menutupi darinya.


"Iya, Bu! Clara sudah telepon Mas Sandi. Ibu tidak usah hawatir, Clara sama Mas Sandi baik baik saja kok!" Clara berusaha meyakinkan ibunya agar tidak mengkhawatirkan dirinya, Bu Desmita hanya bisa pasrah, tak mau memaksa untuk putrinya bercerita. Tidak mau terlalu ikut campur dengan masalah keluarga anak anaknya, karena hanya akan makin runyam kalau salah dalam mengambil keputusan.


"Ibu hanya ingin kamu bahagia, Clara!


Ibu harap, hubungan rumah tangga kamu dan Sandi baik baik saja, nak!


Ibu tau kamu sudah berusaha untuk berubah dan tak lagi mengingat masa lalu. Insyaallah semua pasti akan baik baik saja. Teruslah berdoa dan pasrahkan segalanya pada Alloh, semoga Sandi segera menyadari kesalahannya yang belum bisa menerima kamu seutuhnya. Bersabarlah, nak!" Bu Imah berusaha untuk membuat Clara tetap bersabar dan memasrahkan semua pada takdir.


Clara tertegun, mendengar ucapan sang ibu. Tak menyangka kalau apa yang berusaha dua tutupi ternyata ibunya ketahui. Clara hanya bisa terdiam, tertunduk malu dengan nasib rumah tangganya yang rumit. Tak terasa air matanya kembali berjatuhan seiring rasa sesak yang kembali terasa menghujam ulu hatinya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


New karya Hawa


#Negeri dongeng Alisia


#Kasih sayang yang salah


#Cinta berbalut Nafsu


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


Happy ending ❤️