
"Ikhlas, nduk! Insyaallah Alloh akan ada ganti yang lebih baik. Satu lagi, jangan simpan dendam di hatimu lantaran rasa sakit dan kecewamu. Semua sudah jadi garis takdir yang harus di jalani.
Pandu bukan jodoh mu, anggap saja begitu. Luka dan rasa sakit di hatimu, akan sembuh seiring waktu yang berjalan. Cukup perbaiki diri dan jadikan pelajaran untuk menjalani hidup yang lebih baik. Ibu percaya, anak ibu pasti bisa!" Bu Desmita meraih Clara dalam pelukannya, menyalurkan kekuatan melalui kasih sayangnya. Tidak perlu menghakimi kesalahan sang anak, cukup di ingatkan dan di rangkul dengan cinta dan kasih sayang, insyaallah yang terjadi akan memberinya banyak pelajaran dalam dia menjalani hidupnya setelah ini.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Pandu memasuki rumah dengan langkah gontai, sepi dan serasa asing dirumahnya sendiri. Tidak ada sambutan ceria dari sang anak, tidak ada senyuman hangat dari sang istri.
Pandu tidak langsung memasuki rumah, namun memilih duduk di kursi teras depan.
Menatap kosong lurus ke depan.
Memikirkan kesalahan yang sudah di lakukan nya.
"Ris, aku tau. Ini berat untuk kamu bahkan untuk kita. Namun aku harap, kamu mau membuka hati untuk memaafkan aku, dan kita jalani semua dari awal. Aku tidak akan memaksa kamu untuk lagi bisa bersikap seperti dulu. Cukup tetaplah bertahan di sisiku dan anak anak. Aku memang mencinta Clara, tapi Aku sangat menyayangi kamu melebihi cintaku pada Clara.
Pulanglah! aku merindukan mu dan anak anak!"
Pandu bergelut dengan perasaan nya sendiri.
Terdiam dalam keterasingan oleh keadaan yang sudah ia ciptakan karena keegoisan nya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sedangkan di lain tempat, Risma sedang menatap anak anaknya bermain di halaman belakang rumah orang tuanya yang luas dan nyaman, taman yang di hiasi dengan bunga bunga anggrek kesukaan sang ibu. Cinta maupun Galang tengah asik bermain dengan sepedanya, tertawa dan saling mengejar.
"Nduk, gimana?
Kamu betah disini?" tiba tiba pak Damar muncul, sudah berdiri tak jauh dibelakang Risma. Risma menoleh dan menatap sang ayah dengan senyuman.
"Alhamdulillah, Risma merasa nyaman dan menemukan hati Risma kembali. Terimakasih ayah, maafkan Risma kalau sudah buat ayah sama ibu cemas karena masalah Risma ini." balas Risma lembut dan terus mengukir senyum fi bibirnya yang tipis.
"Kamu masih kewajiban ayah, Nak!
Tidak ada orang tua yang rela melihat anaknya disakiti.
Kalau kemarin bukan karena Mamanya Pandu yang cerita, mungkin ayah sama ibu kamu, akan tetap jadi orang yang bodoh yang tidak tau anaknya sedang menderita. Kamu beruntung punya mertua yang begitu baik, tapi suami kamu!" Pak Damar bicara panjang lebar, mengutarakan isi hatinya, dan menghembuskan nafasnya kasar, saat menyebut nama Pandu yang sudah membuatnya kecewa.
Risma tetap masih dengan senyumannya, menatap lembut pada laki laki yang sudah jadi cinta pertamanya itu.
"Ayah, jangan bilang seperti itu. Risma memang sengaja tidak membicarakan sama ayah dan ibu, karena Risma tidak mau ayah sama ibu jadi kepikiran. Dan karena Risma yakin, Risma masih bisa mengatasinya sendiri. Ayah tau kan anak ayah ini, tidak mudah menyerah dan pemikir sejati.!" Risma tersenyum dan berusaha membuat ayahnya tidak menyalahkan dirinya sendiri.
Pak Damar tertawa dengan jawaban sang anak. Dari dulu Risma selalu ingin terlihat mandiri dan tidak mau merepotkan siapapun.
"Bagaimana perasaan kamu sama Pandu?
Apakah kamu akan tetap bertahan dengan apa yang sudah dia lakukan sama kamu?
Terus terang ayah sangat kecewa dengan nya." Sambung pak Damar menatap lekat sang anak yang terlihat menyenderkan punggungnya di kursi dan kembali menatap lurus ke depan dengan senyuman yang masih melekat di bibirnya.
"Risma akan memilih bertahan, Yah!
semua Risma lakukan demi mereka." Risma menunjuk kedua anaknya yang sedang asik bermain.
"Risma tau, tidak mudah menjalani ini, tapi Risma juga tidak mau egois dan mengorbankan kebahagiaan anak anak. Mereka sangat dekat dengan papanya terutama Cinta.
Perpisahan hanya akan membuat mereka terluka.
Lagi pula, Mas Pandu juga tidak pernah berbuat kasar, kesalahannya hanya satu mencintai wanita lain, dan belum bisa mencintaiku. Meskipun itu bukanlah sebuah kesalahan, karena perasan memang tidak bisa di paksakan." Risma menjawab pertanyaan sang ayah dengan santai dan yakin dengan keputusan yang diambil.
"Kamu yakin?
Kalaupun kamu sudah tidak mampu, lepaskan Nak. Ayah dan ibu akan tetap ada untuk kamu dan anak anak, jangan siksa hatimu untuk tetap bertahan pada laki-laki yang tidak menempatkan kamu di hatinya. Karena itu tidak mudah, kamu akan terus terluka." Sahut pak Damar tegas, baginya kebahagiaan anaknya lebih utama dari pada status dan kehormatannya. Sebagai mantan seorang perwira angkatan darat, Pak Danar juga paham seperti apa rumitnya proses perceraian, namun mungkin dengan sedikit campur tangannya dan karena Pandu juga memiliki jabatan yang baik. Proses bisa dilakukan dengan cepat. Namun sebagai orang tua, Pak Damar juga tak ingin memaksakan kehendak anaknya. Tetap menghargai keputusannya tapi akan terus mendampingi dan memberinya kekuatan dengan kasih sayang dan cintanya sebagai seorang ayah yang begitu mencintai putri satu satunya itu.
"Risma akan berusaha untuk tetap bertahan, ayah tidak usah hawatir ya! Insyaallah Risma akan tetap baik baik saja. Dan akhir akhir ini, Risma melihat kesungguhan Mas Pandu untuk merubah sikap dinginnya itu, bahkan Risma selalu melihat kecemburuan di matanya pada Mas Abas. Mungkin mas Pandu sudah menyadari perasaannya. Namun Risma juga tak bisa begitu saja kembali menjatuhkan hati padanya lagi. Biarlah dia tersiksa dengan perasaannya sendiri. Risma hanya ingin membuatnya benar benar sadar jika tak selamanya cinta itu benar. Karena terkadang logika pun juga harus dipake agar hati tidak di perbudak oleh yang namanya cinta.
Mungkin saat ini, Mas Pandu sedang khilaf, dan Risma percaya Mas Pandu akan segera menyadari kesalahannya. Karena dia juga sangat menyayangi anak anak. Ayah, percaya kan sama Risma?"
Risma menatap dalam sang ayah dengan senyumannya, berusaha meyakinkan kalau dirinya baik baik saja. Karena rumah tangga butuh pemahaman yang luas, bukan hanya karena nafsu dan keegoisan begitu mudah menghancurkan kesuciannya. Ada banyak hati yang harus tetap di jaga dan percaya jika semua doa akan terdengar dan satu persatu terkabul.