
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sedangkan di tempat lain, Clara sedang mondar mandir gelisah menunggu kabar dari Pandu. Pikirannya kacau saat membayangkan semua aset jatuh pada Risma dan tanpa menyisakan sedikitpun untuknya. Bayangan untuk menjadi ratu dan hidup bahagia dengan Pandu terkikis oleh rasa cemas yang begitu menakutkan.
"Jika Mas Pandu menuruti keinginan istri pertamanya, apa yang harus aku lakukan?
Apakah aku akan kembali bekerja lagi dan menerima begitu saja keputusan Mas Pandu?
Tapi aku juga istrinya, aku berhak dengan apa yang Mas Pandu punya. Argh kenapa harus serumit ini, hanya karena perempuan serakah itu. Benar benar menyebalkan!" Sungut Clara kesal dengan pikirannya sendiri.
Clara melewati malamnya dengan gelisah, sedetikpun tak bisa memejamkan mata. Pikirannya terus melayang dalam segala kemungkinan, perasaan cemas, benci, kecewa dan sakit hati terus mengusiknya sepanjang malam.
Hingga terdengar suara ketukan pintu yang membuat lamunannya buyar dan dengan langkah lesu, Clara beranjak dari ranjang empuknya untuk melihat siapa yang datang pagi pagi kerumah nya.
"Siapa pagi pagi sudah bertamu, apa mungkin itu Mas Pandu?" Batin Clara berbicara sendiri dan terus melangkah menuju pintu, namun saat pintu sudah terbuka harapannya runtuh, ternyata wajah dibalik pintu adalah ibunya yang datang membawakan masakan.
"Bu!" sapa Clara lesu dan Bu Desmita menatap anaknya dengan tatapan menyelidik.
"Asalamualaikum!" balas Bu Desmita dan langsung mengayunkan langkahnya menuju dapur, meletakkan makanan yang tadi dibawanya, Bu desmita hampir tiap hari melakukan itu.
"Ada apa sama kamu, Clara?
Kenapa wajahmu kok ditekuk gitu?
Bukankah Pandu kemarin habis dari sini?" Sambung Bu Desmita dengan berbagai pertanyaan yang dilontarkan dan memilih untuk duduk di salah satu kursi yang ada di dapur.
Clara mengikuti ibunya dan juga mendaratkan bokongnya untuk duduk tak jauh dari tempat ibunya duduk.
"Kemarin istri Mas pandu kesini, Bu!" sahut Clara lesu dengan mimik sendu.
Mendengar penuturan sang anak, Bu Desmita langsung terkejut dan menatap lekat Clara yang meletakkan kepalanya di atas meja dengan frustasi.
"Istri Pandu menemui kamu saat ada Pandu disini?
Apa yang terjadi Clara, apa kalian ribut dan terjadi.." Belum selesai Bu Desmita meneruskan kalimatnya, Clara sudah memotongnya duluan.
Clara juga istrinya, Clara harusnya juga berhak mendapatkan apa yang Mas Pandu punya, apa Clara salah kalau Clara berharap Mas Pandu adil dan berbagi sama rata?
Lha ini, semua ingin dikuasai istrinya, serakah sekali wanita itu!" Sungut Clara menumpahkan kekesalannya di depan sang ibu yang tak mampu berkata apa apa, hatinya sakit melihat anaknya yang menjadi keras hati, yang tidak lagi memiliki kepekaan terhadap hati wanita lain. Cinta dan ambisi sudah membuat Clara hilang kendali dan lupa caranya berpikir dengan akal sehat.
"Clara, Istighfar, nak!
Istighfar yang banyak, mohon ampun pada Alloh. Berpikirlah bijak dengan hati yang jernih.
Kamu tidak pantas bicara dan berpikir demikian pada wanita yang sudah kamu sakiti dan lukai hatinya. Kamu tau, betapa hancur hati istri Pandu dengan pernikahan diam diam kalian. coba tempat kan posisi kamu sebagai istri pertama Pandu. Kamu akan tau, seperti apa sakitnya, bagaimana kecewanya, dan seperti apa hancurnya. Suaminya menikahi wanita lain, berbagi cinta, hati dan raganya. Dan jika kamu menuntut harta yang Pandu punya saat ini, kamu salah nak, kamu salah besar!" Bu Desmita menjelaskan panjang lebar kesalahan anaknya, dan berusaha untuk memberi nasehat agar Clara tidak semakin memperumit keadaan dengan tuntutan yang tak seharusnya.
"Bu, aku ini anak ibu, tapi kenapa ibu seolah selalu menyalahkan aku?
Meskipun aku sama Mas Pandu menikah secara siri, pernikahan kita itu sah, dan aku ini istrinya yang berhak dia nafkahi secara layak dan Mas Pandu harus tetap bisa bersikap adil padaku dan Risma, bukan malah menyerahkan dan membiarkan istri pertamanya sesukanya seperti itu, menguasai seluruh harta Mas Pandu seolah dia satu satunya yang berhak menikmati kerja keras suami kami. Itu namanya gak adil Bu! Dzolim itu!" Teriak Clara tak terima dirinya terus disalahkan ibunya, dan bahkan ibunya selalu terkesan membela istri pertamanya Pandu.
"Clara!
Sadar kamu, iling nak, sudah ibu bilang, Istighfar!
Pandu memang mempunya kewajiban menafkahi kamu, tapi kamu tidak berhak menuntut harta yang Pandu punya saat harta itu dia dapatkan dengan hasil berjuang bersama istrinya.
Jika istrinya menuntut semua aset Pandu dialihkan pada kedua anaknya, itu wajar, dia punya hak untuk itu, karena Pandu mendapatkan harta itu sebelum kamu hadir di kehidupannya.
Biarkan, ikhlaskan karena memang disana tidak ada hak kamu! Hak kamu adalah kewajiban Pandu menafkahi kamu dan kamu juga harus mulai dari nol untuk berjuang sama Pandu agar bisa mendapatkan apa yang pernah Pandu hasilkan bersama istri pertamanya. Jangan terlalu menuntut Clara, karena bisa saja Pandu lelah dan bahkan akan meninggalkan kamu. Ingat kata kata ibu, Pahami!" sahut Bu Desmita tak kalah kerasnya, Bu Desmita tidak ingin Clara menjadi perempuan yang egois dengan hati yang buruk. Kesalahannya terlalu dibutakan oleh cinta sehingga mematikan logikanya dan tega menyakiti hati wanita lain, dan untuk itu, sebagai ibu, Bu Desmita tidak mau anaknya semakin salah dalam melangkah.
Clara terdiam dan mulai berpikir dengan apa yang ibunya ucapkan dengan hati yang perih.
Merasa menyesal karena tidak memikirkan akibat dari apa yang diputuskannya. Terlanjur cinta dan berharap banyak dari seorang Pandu yang memang terlihat sangat mapan di matanya. Impian membangun rumah tangga yang penuh cinta, kebahagiaan tanpa kekurangan materi kini surut dan berlahan terkikis. Nyatanya, Risma lah yang menjadi pemenang dan memegang seluruh kekuasaan dengan gelar istri sah dan diakui seluruh masyarakat. Sedangkan dirinya harus rela sembunyi dan menerima keadaan untuk diperlakukan sebagai yang kedua.
"Kenapa ini gak adil, Bu?
Kenapa Clara harus mengalami ini, sakit hati Clara!" Clara menangisi dirinya sendiri, karena sudah terlalu berharap dengan sesuatu yang ternyata tak sesuai dengan mimpi dan harapannya.
"Sudahlah Clara, Istighfar. Ini sudah jadi keputusan kamu kan? menikahi lelaki beristri, itu artinya kamu harus siap untuk mengalah dan iklas menerima semua konsekuensinya. Bicarakan baik baik sama Pandu dan minta maaflah pada istri Pandu dan berusahalah untuk bersikap baik padanya." Bu Desmita menatap lekat wajah putrinya yang sudah basah oleh air mata kekecewaan. Karena tidak mudah menjalani sesuatu yang diawali dengan kebohongan dan ketidak baikan dalam menjalin sebuah ikatan, akan ada konsekuensi yang harus ditanggung. Lalu sesak pasti akan datang menemani setiap waktu yang berjalan.