
"Aku sudah memutuskan, antara Clara dan aku sudah tidak ada apa apa. Kami sudah bercerai, tapi aku masih punya kewajiban untuk memberikan nafkah selama masa Iddah nya." Pandu kembali membuka obrolan dan mengatakan soal hubungannya dengan Clara.
Risma menatapnya dengan ekspresi tak biasa, lalu hanya mengangguk sebagai jawaban atas ucapan Pandu barusan.
"Semoga kamu bisa kembali seperti dulu, Ris!
Sungguh aku sangat tersiksa dengan diam mu, ini!" batin Pandu menatap lekat wajah Risma yang tanpa ekspresi.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Selepas magrib, Pandu membawa anak istrinya kembali pulang kerumah mereka, setelah berpamitan pada kedua mertuanya, Pandu melangkah tegap menuju mobilnya dan di ikuti oleh Risma dan anak anaknya. Senyum ceria terus terukir di wajah kedua bocah yang sangat di sayangi Pandu. Melajukan mobilnya dengan berlahan, Pandu di dampingi Cinta putri kesayangan yang selalu memilih duduk di dekat sang papa, sedangkan Risma dan Galang ada di kursi tengah.
Perjalanan yang menyenangkan, karena celoteh kedua anaknya kini kembali Pandu dengar, menatap binar bahagia di kedua bola mata anak anaknya, membuat Pandu semakin yakin jika keputusan yang diambil sudah sangat tepat.
"Ada yang mau mampir beli oleh oleh gak nih?
Mbak Cinta?
Dek Galang?
Mama barangkali juga mau beli sesuatu dulu?"
Pandu berusaha mencairkan suasana yang sedikit kaku antara dirinya dan Risma. Meskipun Pandu selalu berusaha menyadari sikap dingin sang Istri.
"Cinta mau beli martabak manis, Pa!" Cinta mengutarakan keinginannya dengan sangat antusias.
"Galang maunya martabak telur saja, deh Pa!"
Galang pun juga ikut menimpali.
Pandu tersenyum senang, karena memang kedua anaknya penyuka martabak.
"Kalau mama, mau apa?" sambung Pandu menatap Risma sebentar, lalu kembali fokus pada jalanan di depannya.
"Gak usah, Pa! Biar anak anak saja!" sahut Risma biasa saja.
Pandu mengangguk dan memperlihatkan senyuman di balik kaca dengan matanya yang sering kali mencuri pandang pada istri nya dengan gemas.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
"Akhirnya sampai juga, anak anak sudah tidur." Pandu berbicara sama Risma dan tersenyum menatap kedua anaknya yang sudah terlelap, padahal baru saja heboh di dalam mobil dengan semua celotehannya, berebut makan martabak dengan tingkah lucunya.
"Biar aku saja yang angkat mereka. Kamu tolong buka pintu nya, Ma!" sambung Pandu dan langsung turun dari mobil, mengangkat Cinta yang sudah terlelap.
Setelah menidurkan Cinta, Pandu kembali ke mobil dan membawa Gilang yang juga sudah terlelap. Membopongnya dan menidurkan di kamar berbeda yang memang kusus untuk jagoan kecilnya. "Semoga saat kalian terbangun, kalian akan menyukai kamar kalian masing masing, dan betah ya!" Pandu menatap lekat wajah polos anaknya.
Menutup pintu dan akan kembali mengangkat barang barang yang ada di dalam mobil, tapi Risma sudah melakukannya terlebih dulu.
"Ma, sudah biar aku saja. Kamu masuk dan istirahat, capek nanti." Pandu mengambil alih barang barang yang ada ditangan Risma, dan meminta istrinya untuk istirahat saja. Risma menurut dengan wajah yang masih terlihat datar. Pergi meninggalkan Pandu tanpa sepatah kata apapun.
Pandu hanya berusaha menguatkan hatinya, berusaha memahami dan menerima sikap dingin sang istri saat ini.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sudah satu bulan, Pandu berusaha memperbaiki hubungannya dengan Risma, pun dengan Risma yang telah mati matian mengubur lukanya dan berusaha menerima Pandu, meskipun dalam konteks yang berbeda dalam versi hatinya.
Pandu tidak pernah sekalipun menghubungi Clara, semua kontak sudah dibuang nya, dan kalaupun mengirimkan uang nafkah selama masa Iddah masih berjalan, Pandu langsung mentransfer ke rekening Clara tanpa memberitahunya.
Keputusan yang sudah diambil, benar benar Pandu jalani, tak ingin kehilangan istri dan anak anaknya lagi, hanya fokus meraih kembali cinta dari sang istri tercinta, yang bahkan semakin kelihatan aura kecantikannya dan semakin terlihat seksi dimata Pandu.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
"Ma! hari ini jadwal kamu ke rumah sakit kan?
Aku temani ya?" Pandu memulai obrolannya saat sedang menikmati sarapan paginya.
'Gak usah, Pa! Hanya sebentar kok, biar aku naik mobil sendiri." sahut Risma lirih, entahlah kenapa hatinya begitu sulit untuk bisa bersikap biasa saja pada laki laki di hadapannya ini. Mungkin karena luka yang di goreskan nya terlalu dalam.
"Baiklah! Tapi kamu hati hati ya, dan kalau sudah selesai langsung pulang! Tidak ada acara ngobrol dengan dokter genit itu, aku gak suka! jujur aku cemburu!" Pandu menatap dalam sang istri, berharap dia mau mengerti betapa sangat cemburu melihatnya bersama dokter Abas yang bahkan dengan sangat terang terangan menginginkan Risma untuk dimiliki.
Risma membalas tatapan Pandu dengan mengerutkan keningnya, mencari kesungguhan ucapannya di kedua bola mata milik Pandu, dan Risma menemukan kejujuran disana.
"Kamu gak usah khawatir, Pa!
Aku bukan wanita yang mudah membuka hati pada sembarang pria, sekalipun pada suamiku sendiri." sahut Risma datar dan membuat Pandu langsung tersedak mendengarnya.
"Ma! ayolah, sudahi sikap dingin kamu ini. Sudah satu bulan lebih aku kamu anggurin kayak gini. Tersiksa loh, papa!" balas Pandu mengutarakan isi hatinya yang memang benar benar tersiksa, setiap hari melihat wanita cantik dan seksi tapi tak bisa diraihnya. Namun Pandu sudah terlanjur berjanji kalau tidak akan pernah memaksa Risma, menunggunya agar benar benar siap dulu.
"Bukankah, kamu sendiri yang bilang kalau akan menunggu kesiapan dariku? apa kamu sudah ingin menyerah, Pa?" balas Risma yang sengaja ingin membuat Pandu tersiksa lahir dan batinnya, agar tau seperti apa menanggung rasa sakit diabaikan oleh orang yang dicintai.
"Iya, tapi aku sudah berusaha untuk memperbaiki rumah tangga kita. Dan aku pun juga sudah membuka hati ini hanya buat kamu, melupakan masa lalu yang buruk dan mari kita mulai semuanya dari awal. Aku ini laki laki normal, Ma!
Gak mungkin sanggup kalau terlalu lama di acuhkan begini, aku butuh pelepasan hormon. Aku masih suami kamu loh!" Sahut Pandu yang mulai sedikit kesal, merasa lelah karena usahanya belum juga mampu meluluhkan kekerasan hati sang istri.