Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain

Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain
uang hasil panen


Pandu terdiam, berharap Risma memohon dan meminta cintanya lagi seperti dulu, namun justru Risma mengatakan sesuatu yang menusuk jantungnya.


"Tak ada lagi perasaan itu di hatimu untukku, Ris?" sahut Pandu lemah, seiring kecewa yang berhasil mencabik dadanya.


"Semua sudah berbeda, Mas!


Maaf, rasa itu sudah benar benar aku kubur bersama penghianatan yang kamu lakukan." Balas Risma dingin dengan senyuman miris dibibir tipisnya.


"Lebih baik urusi saja istri kedua kamu, biarkan aku menjalani hidupku sendiri dan menyembuhkan sakit ini. Dan aku berharap masih diberi umur panjang untuk bisa menemani dan menjaga anak anak kita. Tolong jika suatu saat nanti, aku menemukan laki laki yang mencintai dan akupun juga mencintainya, lepaskan aku. Untuk saat ini biarlah semua berjalan seperti ini.


Tapi jangan pernah berharap, aku akan bisa seperti dulu, aku hanya akan sekedar menjalankan peran sebagai istri untuk menyiapkan kebutuhan kamu, itu saja. Untuk hasrat, datangi istri kedua kamu. Karena aku sudah tak menginginkan itu lagi.


Membayangkan kamu membagi raga sudah membuatku hilang selera, maaf kalau aku mengatakan ini, agar kamu tau. Tak selamanya mencintai itu membuat diri terus bodoh, saat sudah ada di titik paling dalam, cinta bisa berubah dengan kebencian karena luka yang sering di goreskan.


Nanti sore, aku akan kembali ke Madiun!" balas Risma panjang lebar dengan nada yang terdengar dingin oleh sorot mata yang begitu tajam di arahkan pada Pandu yang tak bisa berucap apa apa.


"Kita akan pulang sama sama, mobil kamu biar di bawa mbak Romlah sama ponakannya." sahut Pandu lemah dengan mata yang berembun. Baru kali ini, Risma bicara sedikit kasar padanya, bahkan tak perduli sama sekali dengan perasaannya, membuat Pandu menjadi laki laki yang sangat terlukai harga dirinya.


"Ya!" jawab Risma singkat dan berlaku ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Sedangkan di lain tempat, Clara sudah mondar mandir menunggu kedatangan Pandu kembali.


Matahari sudah meninggi namun belum juga ada bayangan Pandu muncul. Gelisah dan kesal membuat Clara ingin menyusul Pandu ke rumah orang tuanya, namun membayangkan penolakan keluarga Pandu dan belum lagi keberadaan Risma. Membuat Clara enggan beranjak, hanya mondar mandir tak jelas dengan dada yang bergemuruh hebat.


"Katanya mau kembali, tapi sudah jam segini belum juga datang. Ada apa sih kamu, Mas?


Harusnya kamu mengajakku kerumah orang tua kamu, membela dan mempertahankan aku di hadapan keluarga kamu, karena saat ini aku juga istri kamu.


Kalau begini, itu sama saja kamu membenarkan ucapan Risma, aku hanya istri yang tersembunyi, yang tak diakui keberadaannya.


Jahat kamu, Mas!" Clara bicara sendiri dan terus menerus mencari pembenaran dalam versinya.


Mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Pandu, namun tak terangkat juga.


Clara makin dibuat meradang dengan pemikirannya sendiri.


Setelah bosan menghubungi Pandu tapi tak ada jawaban, Clara membuka laptopnya dan mulai membuat lamaran pekerjaan di beberapa perusahaan. Yakin jika Pandu tak bisa mempertahankan hartanya karena kalah dengan ancaman Risma yang akan membawa masalah penghianatan Pandu ke atasannya.


"Aku harus bekerja lagi, setidaknya untuk mencukupi kebutuhanku sendiri. Akan aku buktikan kalau aku juga bisa jadi lebih baik dari Risma. Aku juga bisa membantu suamiku memulihkan ekonominya, karena aku bukan perempuan bodoh dalam karir. Bahkan aku bisa mendapatkan gaji yang lebih besar dari Risma dulu, yang hanya seorang perawat.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Pandu menatap ponselnya, terlihat beberapa panggilan tak terjawab dari Clara, dan beberapa pesan masuk dari istri keduanya, menanyakan kedatangan nya kembali kerumah.


Pandu menghembuskan nafasnya dalam. Bingung harus berbuat apa. Jika dia nekad kembali kerumah Clara sekarang, Pasti semakin membuat Risma kecewa dan mematik kemarahan sang kakak.


Tapi jika tidak menemui Clara, yang ada Clara akan semakin salah paham dan merajuk.


Pandu benar benar dibuat pusing oleh masalah yang ada.


"Pa! di panggil sama nenek. Ada Mbah Sawal di luar!" tiba tiba Cinta muncul dibalik pintu kamar, dan mengatakan ada Mbah Sawal yang selama ini Pandu pasrahi untuk mengurus sawahnya.


"Iya, nak. Papa akan kesana sebentar lagi." sahut Pandu tersenyum ke arah anaknya yang terlihat langsung berlari setelah mendengar jawaban darinya.


"Tumben, jam segini Mbah Sawal sudah datang.


Biasanya sore." Pandu bergumam dan langsung beranjak keluar kamar, meletakkan begitu saja ponselnya di atas nakas, tanpa membalas pesan dari Clara satupun.


Saat Pandu datang, Mbah Sawal sudah ditemani mama, Permadi dan juga Risma. Pandu melangkahkan kakinya mendekat dan mengambil tempat duduk di samping istrinya di kursi panjang.


"Sudah selesai Mbah? tumben kok cepet!" sapa Pandu pada Mbah Sawal setelah menyalaminya hormat.


"Iya le, panennya kan dari kemarin sore. Ini coba kamu cek hasilnya, ada dua puluh delapan juta yang bagian kamu, yang sepuluh juta sudah Mbah ambil buat beli bibit dan pupuknya. Itu rinciannya sudah Mbah tulis di kertas itu." sahut Mbah Sawal tegas dan menyerahkan uang dalam kantong kresek ke arah Pandu.


"Iya Mbah, terimakasih. Nanti biar aku hitung lagi.


Mbah Sawal gimana, sehat sehat Mbah?" sahut Pandu ramah dengan senyum tipis di bibirnya.


"Alhamdulillah, masih diberi seger waras. Bukan ini padi nya bagus, makanya bisa dapat uang lebih. Bagian Mbah, bisa buat beli kambing ini." Sahut Mbah Sawal lugu dan terlihat santai menghadapi permasalahan hidupnya yang pas Pasan.


Pandu tersenyum dan menoleh ke arah Risma lalu menyerahkan uang hasil panen ke istrinya.


"Kamu hitung lagi, sisihkan yang tiga juta buat beli sembako, biar dibagikan buat warga yang kurang mampu, sisanya sudah jadi hak kamu dan anak anak.!" Pandu menatap Risma dan dibalas anggukan ringan oleh Risma yang tak menyangka kalau Pandu akan langsung menyerahkan uangnya tanpa ada drama apapun.


"Wah, beruntung sekali kamu, nduk. Punya suami yang sangat loyal kayak Pandu ini. Sudah ganteng, baik, sayang istri dan juga Sholeh." sahut Mbah Sawal dengan senyuman mengambang.


Membuat Risma dan Pandu saling bertatapan dalam diam.