Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain

Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain
Kecewa


"Habisin sarapannya, terus minum susunya. Habis itu temui mama, pamit ya!


Papa mau ke kamar ganti baju dulu!" Sandi meninggalkan Dania di meja makan bersama susternya.


Berganti pakaian ke kamarnya dan bersiap siap pergi ke kantor. Sedangkan Clara masih terbaring lemah di tempat tidur, kehamilannya memang sangat lemah, dokter memintanya untuk istirahat total.


"Mas!" sebut Clara lirih, menatap sendu pada suaminya yang tengah bersiap siap pergi ke kantor.


"Iya! kamu perlu sesuatu?" sahut Sandi lembut dan berjalan mendekat pada istrinya yang tengah berbaring di ranjang.


"Maafin aku ya!


Aku masih belum jadi istri yang sempurna untukmu.


Aku selalu menyusahkan seperti ini. Maaf!" Clara merasa sangat bersalah dan sedih dengan apa yang dilaluinya selama ini. Clara sudah mengalami dua kali keguguran, kandungannya selalu lemah saat mengandung anak dari buah cintanya bersama Sandi. Dan ini adalah kehamilannya yang ke tiga, namun keadaannya tak jauh berbeda dari yang sebelumnya, lemah dan rentan keguguran.


"Sudahlah! Jangan banyak pikiran dulu.


Kamu harus jaga calon anak kita. Kamu gak boleh stres, berjuanglah untuk nyawa baru yang ada di rahimmu, Ra!


Karena sungguh, aku begitu merindukan tangis bayi dalam rumah ini!" sahut Sandi lirih, menahan rasa sesak di hatinya. Dia juga selalu merasakan kekhawatiran dengan nasib kehamilan istrinya, karena jika harus keguguran lagi, Sandi pun juga tidak akan sanggup, sudah sangat merindukan tangis bayi dari darah dagingnya sendiri.


"Aku ke kantor dulu ya, mungkin aku akan pulang terlambat, ada meeting diluar dengan perusahaan dari cabang Bandung. Kamu gak usah banyak pikiran. Harus sehat agar anak kita juga sehat dan tumbuh dengan baik di dalam sana!


Asalamualaikum!" Sandi mengecup lembut kening istrinya dan mengusap perut Clara yang terlihat sedikit membuncit, lalu berjalan keluar untuk mencari Dania.


"Papa! mama sudah bangun?" sambut Dania saat Sandi keluar dari kamar.


"Sudah sayang! Sana pamit sama mama dulu.


Papa tunggu di mobil ya?" balas Sandi dengan mengusap kepala Dania lalu pergi meninggalkan nya dan langsung berjalan keluar memasuki mobilnya.


"Kenapa rasanya sangat berat sekali. Aku sangat merindukan tangis bayi di rumah ini. Tapi Clara selalu lemah saat mengandung. Ada apa ini ya Alloh?


Maafkan aku jika aku merasa kecewa dengan apa yang terjadi, aku juga ingin anak dari darah daging ku sendiri." Sandi meremas rambutnya frustasi, merasa lelah dan kecewa dengan apa yang dialami istrinya. Terkadang Sandi berpikir ini adalah akibat dari kesalahan di masa lalu yang istrinya lakukan, seolah Tuhan, enggan memberikan keturunan dari rahimnya lagi.


"Papa, ayo berangkat!" Dania tiba tiba muncul dan duduk disampingnya. Mengagetkan Sandi yang tengah bergelut dengan pikirannya sendiri.


"Iya sayang. Sudah pamit sama mama?"


"Sudah!


Kasihan mama, wajahnya pucat dan tubuhnya lemas. Apa dulu pas aku masih di dalam perut mama, mama juga sering sakit kayak sekarang, Pa?" celoteh Dania yang membuat Sandi langsung tercekat.


"Em, gak kok. Mungkin mama harus butuh istirahat yang banyak saja. Doain mama dan dede bayi ya, semoga terus sehat dan kuat." sahut Sandi yang sedikit gelagapan dengan pertanyaan Dania.


"Sudah siap?


Kita berangkat ya?" sambung Sandi dan menyalakan mesin mobilnya lalu berlahan meninggalkan halaman rumah nya."


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Sedangkan di Madiun, Pandu yang tengah libur sedang membersihkan tanaman yang ada di halaman depan rumah nya.


Anak anak sudah berangkat ke sekolah, tinggal si kecil Hamzah yang sedang aktif aktifnya, Hamzah yang baru bisa berjalan, selalu saja ingin meraih sesuatu apa yang dilihatnya menarik, Risma harus ekstra menjaganya.


Hamzah berlari lari kecil ke arah Pandu, meskipun sering terjatuh karena belum bisa berjalan dengan benar.


Pandu tertawa melihat tingkah anak bungsunya.


"Biarkan saja, Ma! biar dia terbiasa dan tumbuh jadi anak yang kuat." Pandu meminta Risma untuk tidak langsung membangunkan Hamzah berdiri, membiarkan Hamzah berusaha sendiri dan kembali melangkahkan kakinya meskipun dengan terseok khas anak yang baru bisa belajar berjalan.


"Papa, mau dibikinin jus?" sahut Risma sambil menatap Hamzah yang berjalan ke arah papanya.


"Boleh! Biar Hamzah sama aku disini. Dia harus tumbuh jadi anak yang kuat. Iya kan sayang?


Sini anak papa!" Pandu merentangkan tangan pada Hamzah yang langsung terlihat kegirangan. Menggemaskan.


Hamzah yang menggemaskan dan lucu, membuat Galang juga Cinta begitu menyayangi adiknya, dan berebut untuk menjaganya dengan kejailan mereka. Rumah selalu rame dengan kehebohan yang dibuat ketiga anaknya.


Risma memberikan jus mangga pada Pandu dan segelas jus buah naga yang di taruh di botol dan diberikan pada Hamzah yang langsung meminumnya.


"Duh kok sampai keringetan kayak gini, emangnya Hamzah lagi bantuin papa?" tanya Risma ke anaknya yang sudah mulai bisa di ajak bicara.


Pandu tertawa melihat istri dan anaknya yang saling berkomunikasi dengan bahasa planet.


"Hanya kamu dan Hamzah yang paham, kalian sama sama menggemaskan!" Pandu mengusap kepala anaknya gemas, meneguk jus mangga yang langsung tandas. Dan melanjutkan aktifitasnya membersihkan taman.


"Hamzah mandi sama mama gih, biar wangi.


Sebentar lagi mas Galang pulang, nanti biar gak di ejek bau. Papa sudah selesai, tinggal buang ini ke sampah!" Pandu menatap putranya yang asik minum jus dalam botolnya.


Risma mengajak Hamzah mandi di air kran yang ada di depan, Hamzah sangat senang dan terus bermain air, Pandu yang sudah selesai bersih bersih menyusul anaknya dan ikut bermain air sebelum mandi. Risma hanya geleng geleng melihat keseruan ayah dan anak yang selalu membuatnya bahagia menikmati perannya sebagai seorang ibu dan istri.


Setelah puas bermain main, Pandu yang sudah berganti pakaian dan Hamzah yang tertidur karena kelelahan. "Ma, masak apa untuk makan siang?" tanya Pandu yang sudah merasa lapar padahal masih jam sebelas siang.


"Papa lapar?" sahut Risma menatap suaminya dengan senyuman.


"Iya, laparnya pakai banget!" sahut Pandu manja dengan mata yang di kedip kedipkan. Risma tertawa melihat tingkah suaminya.


"Ada sayur lodeh, Pa. Sama goreng ikan dan tahu.


Juga ada urap urap kesukaan kamu." balas Risma dengan sambil mengambil piring dan menyendok nasi untuk suaminya.


"Aku mau sama urap saja, Ma!


Tahu juga tempe!" sahut Pandu dengan meneguk ludahnya, karena urap urap adalah menu kesukaannya.


"Mbak Romlah lagi goreng apa?" Pandu mengalihkan pandangannya ke mbak Romlah yang masih sibuk di depan kompor.


"Goreng ayam sama telor, Pak! Buat anak anak!" sahut mbak Romlah sopan, dan Pandu hanya mengangguk lalu menikmati makanan di dalam piringnya dengan sangat lahap.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


New karya Hawa


#Negeri dongeng Alisia


#Kasih sayang yang salah


#Cinta berbalut Nafsu


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


Happy ending ❤️