Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain

Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain
Hanya luka masa lalu


"Maafkan aku, Ris! Demi Tuhan saat aku memutuskan menikahi Clara, aku tidak tau kalau dia mantan istri siri Pandu. Aku hanya tau dia seorang janda, itu saja.


Saat aku tau siapa mantan suaminya, jujur aku juga terpukul dan merasa tidak nyaman dengan keadaan yang ada. Maafkan aku kalau sudah membuka luka lama kamu, maaf!" sambung Sandi yang kini sudah berkaca kaca menatap Risma yang bahkan terlihat lebih tegar dan siap dengan berita yang Sandi sampaikan.


Pandu masih terdiam, entah kenapa tiba tiba hatinya merasakan nyeri, namun Pandu langsung berusaha menolak perasaannya itu. Memilih menguatkan istrinya, agar tidak larut dengan luka masa lalu.


"Ma! Kamu baik baik saja kan?" Pandu menatap dalam manik hitam milik istrinya, ada kepedihan yang berusaha mata itu simpan. Dan itu justru semakin membuat Pandu gelisah.


"Ma!" Sekali lagi Pandu memanggil lembut istrinya, menyadarkan nya dari lamunan yang mungkin membawa nya pada luka masa lalu.


"Ah iya!" Risma tersentak dan menolehkan wajahnya pada Pandu yang terlihat cemas.


"Insyaallah aku gak papa, hanya masih kaget saja.


Mungkin takdir yang membawanya masuk dalam keluarga besar kita. Agar membuatku semakin kuat dan menguji kesetiaan kamu lagi, Pa!" sahut Risma lirih, hatinya masih merasakan luka itu, luka dimana penghianatan yang begitu memporak porandakan hidupnya.


Sandi hanya bisa memejamkan matanya mendengar ucapan Risma, hatinya ikut merasakan sakit, sakit membayangkan betapa Pandu dan Clara sudah menghancurkan hati wanita selembut Risma, dan juga ada rasa yang menusuk saat Risma mengatakan tentang kesetiaan Pandu, disana Sandi membayangkan jika antara Pandu dan Clara masih saling menyimpan rasa, rasanya sungguh tak sanggup jika itu benar terjadi.


"Ma! Percayalah!


Aku sudah benar benar beranjak dari masa lalu, Clara hanya kenangan pahit yang tak mungkin terulang, aku sudah melupakan itu, fokus pada kamu dan anak anak. Jika takdir membawanya masuk dalam keluarga besar kita, itu tidak akan mengubah perasaan ku pada kamu. Dia hanya masa lalu, yang kini berstatus istri dari Sandi. Kita harus menghargai itu dan tidak lebih, percayalah! Hidupku untuk kalian, kamu dan anak anak!" Pandu menekan semua kalimatnya, agar Risma tak lagi terjebak dengan cerita masa lalu, karena memang, cinta untuk Clara telah memudar seiring berjalannya waktu, dan apa lagi mereka sudah putus komunikasi, semakin membuat Pandu mudah melupakan kenangan itu.


"Maafkan aku, Pa!


Iya, aku percaya sama kamu!


Maaf kalau aku sudah bersikap berlebihan soal ini." Sahut Risma yang berusaha untuk menerima fakta yang ada, dan meyakinkan dirinya jika suaminya sudah benar benar beranjak dari kisah masa lalunya.


"Maafkan aku, karena ketidaktahuan ku, menjadi bumerang dalam rumah tangga kalian. Itulah kenapa aku punya kewajiban untuk membicarakan ini pada kalian, maaf sekali lagi!" Sandi menimpali obrolan antara Risma dan Pandu dengan rasa bersalah dan tak enak.


"Tidak perlu minta maaf, Sand!


Kamu tidak salah apa apa, kamu juga tidak tau tentang masa lalu kami.


jika saat ini Clara jadi istrimu, itu adalah takdir.


Dan dia hanya kenangan dan cerita masa lalu dalam hubunganku dengan mas Pandu.


Dan insyaallah, Mas Pandu pun juga sudah beranjak dari cerita itu. Benar begitu kan, Pa?" Risma berusaha tegar, bersikap baik baik saja menerima kehadiran Clara dalam keluarganya, menoleh ke arah suaminya dengan senyuman yang terlihat begitu teduh dan menenangkan.


Pandu menarik nafasnya kasar. Menatap dalam wajah sang istri yang masih menyimpan luka itu namun tetap berusaha untuk menyembunyikan nya.


"Iya, itu hanya masa lalu yang tidak perlu di usik kembali, aku sudah menyadari jika itu sebuah kesalahanku dan tidak ingin terulang lagi, aku hanya ingin fokus pada istri dan anak anakku. Menjalani rumah tangga kami dengan tenang dan saling memaafkan.


Mungkin aku akan menghindari pertemuan keluarga jika itu diperlukan, demi menjaga hati istriku dan mungkin juga menjaga perasaan kamu, Sand!" Pandu mengalihkan pandangannya pada Sandi yang terlihat lesu, tatapannya kosong meskipun bibirnya berusaha untuk tersenyum. Pandu menyadari kekalutan yang Sandi rasakan saat ini.


"Sand, bersikaplah sewajarnya sebagai seorang suami, jangan ulangi kesalahan ku dulu, yang terlambat menyadari perasaan pada istri kita sendiri.


Kamu sudah menikahi Clara, terima dia apapun masa lalunya. Jangan kamu larut dengan masa lalu kami, karena semua itu sudah berakhir.


"Iya, aku percaya. Semoga aku mampu dan sanggup bersikap biasa saja agar bisa menerima Clara seutuhnya." Sahut Sandi dengan wajah yang masih terlihat kalut.


"Sand, dia adalah keputusan yang kamu ambil.


Pasti sebelum kamu mengetahui kebenaran masa lalunya, kamu sangat mencintai dan menginginkan Clara bukan?


Jangan sia siakan dia, Clara saat ini istrimu, kewajiban bagimu untuk menjaga dan melindunginya. Insyaallah, antara aku dan mas Pandu sudah saling menerima dan memaafkan, kami sama sama ingin beranjak dari masa lalu itu, untuk meraih impian kami, menatap masa depan bersama anak anak kami.


Jadi, jangan ada pikiran macam macam lagi soal bagaimana kami menerima fakta ini. Kami paham dan insyaallah bisa menempatkan diri oleh keadaan yang ada." jelas Risma panjang lebar dengan sikap tenangnya, membuat Pandu terpana dengan kebijaksanaan sang istri, kelembutan hati Risma semakin membuat Pandu jatuh cinta untuk sekian kalinya.


Sandi kembali menarik nafasnya dalam, terlihat kebimbangan dalam dirinya untuk menentukan pikirannya. Namun semua yang dikatakan Risma mampu membuatnya sadar, jika memang Clara dipilihnya karena sebuah kekaguman dan keterpikatan nya akan sosok wanita tegar dan tangguh dalam menghadapi kemelut hidupnya.


"Insyaallah, doa kan aku bisa mengembalikan rasa itu lagi, rasa dimana aku memutuskan untuk menikahinya. Maaf kalau ada kecewa yang membuatku terusik sebagai laki laki, istriku mantan istri dari suami sepupu ku, terkadang aku insecure dengan kenyataan itu. Entahlah!" sahut Sandi jujur, mengatakan apa yang menjadi keresahannya. Dan Pandu hanya bisa menggeleng bingung dengan pikiran Sandi yang dirasa sangat egois itu.


"Jika kamu terus melihat keburukan masa lalunya, maka rasa yang hadir hanyalah sebuah kekecewaan yang lama lama melahirkan kebencian, Sand!


Rubah cara berpikir mu, Clara sudah jadi istri kamu, masa lalunya adalah kenangan pahitnya yang tak harus kamu ungkit lagi. Berdamai Lah dengan keadaan, toh antara aku ataupun dia, sudah tidak ada lagi perasaan apapun. Kami sudah lama tidak saling berkomunikasi, karena sadar, aku maupun Clara ingin menjalani hidup masing masing dan berbenah diri dari kebodohan masa lalu." Pandu menatap lekat pada Sandi yang tengah menunduk dalam, mencerna semua kalimat yang dilontarkan Pandu.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


New karya Hawa


#Negeri dongeng Alisia


#Kasih sayang yang salah


#Cinta berbalut Nafsu


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


Happy ending ❤️