Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain

Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain
Kamu tega, aku akan jauh lebih tega


"Gak papa mbak, bukan salah mbak Romlah.


Dikatakan atau tidak, rumah tangga ku dengan Mas Pandu sudah sakit sedari dulu, akunya saja yang bodoh yang tetap memilih diam diperlakukan dingin oleh suami sendiri.


Biarlah untuk kali ini saya menangis, menangisi nasib yang sudah begitu mengumbang ambingkan hati ini. Insyaallah setelah ini aku akan kuat tanpa ada lagi air mata." Sahut Risma datar dengan air mata yang menetes membasahi wajah mulusnya.


"Sing kuat, sing sabar ya, Bu!


Insyaallah, Alloh akan berikan balasan yang setimpal untuk semua perbuatan." balas mbak Romlah dengan mata yang sudah berkaca kaca.


Risma mengangguk dengan senyuman tipis yang ia paksakan. Ditahan sekuat apapun untuk tidak menangis, air matanya akan tetap jatuh dikala perasaannya kembali rapuh, rasa sakit hatinya atas semua luka yang Pandu torehkan benar benar membuat Risma berada hidup dalam siksaan yang terbalut oleh senyuman palsu.


Dengan sisa tenaganya, Risma berusaha bangkit dan ingin memberikan luka yang sama, pada laki laki yang pernah sangat ia cintai, Pandu Aditama.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Tak seperti biasanya, malam ini Risma bisa istirahat begitu nyaman, tidur lelap tanpa himpitan beban perasaan. Ternyata melepaskan luka lebih menenangkan dari pada terus menumpuk luka tersebut. Risma memang sudah berniat untuk tidak menempatkan nama Pandu di hatinya, ingin membebaskan dirinya dari belenggu cinta yang justru membuatnya hancur.


Malam ini, untuk pertama kalinya, Risma memejamkan matanya dengan begitu tenang dengan melepas perasaannya terhadap Pandu.


Pukul sepuluh malam, Pandu sudah berada dirumah, malam ini Pandu bicara jujur, menepati waktu untuk pulang sesuai dengan janjinya.


Saat memasuki rumah, di dalam sudah terlihat sepi, anak anak tertidur di tempat biasa yang ditemani mbak Romlah yang juga sudah terlihat terlelap.


Pandu meneruskan langkah, memasuki kamar utama, dan terlihat Risma juga sudah tertidur lelap dibalik selimut tebalnya. Pandu tersenyum menatap istrinya yang kini mulai dia cintai.


"Maafkan aku, Risma! Maafkan jika rasaku terlambat untukmu, namun aku janji, tidak akan lagi aku mengabaikan kamu. Mulai saat ini dan untuk seterusnya." gumam Pandu lirih dengan sebelah tangannya mengusap lembut rambut sang istri yang sudah tertidur lelap, hingga tidak terasa dengan perlakuan manisnya.


Pandu beranjak dan mulai membersihkan diri di kamar mandi, berganti pakaian dan merebahkan tubuhnya di samping sang istri. Padahal selama ini, Pandu enggan melakukan semua itu.


Merasa ada pergerakan di ranjangnya, Risma sedikit membuka matanya, dan terlihat ada Pandu yang sudah tidur dengan posisi telentang. Risma tersenyum kecut dan kembali menutup matanya, pura pura tidak menyadari keberadaan suaminya.


Saat Risma akan kembali melanjutkan tidurnya, terdengar suara notifikasi dari ponsel Pandu yang berada di atas nakas tak jauh dari Pandu.


Risma menatap Pandu yang sudah terlelap dengan wajah lelah nya. Ragu saat ingin membuka ponsel sang suami, karena selama menjadi istri Pandu, Risma belum pernah melakukan itu.


Namun rasa penasarannya jauh lebih besar dari rasa takutnya.


Dengan pelan, Risma mulai menggerakkan tubuhnya hati hati, menggeser sedikit demi sedikit badannya, dengan terus memperhatikan Pandu yang tidak merasa terganggu dengan pergerakannya.


Risma berhasil mengambil ponsel Pandu, dan ternyata layarnya terkunci, Risma tidak kehilangan akal, memasukkan angka angka penting yang ada di hidup Pandu. Mulai dari tanggal lahir Pandu sendiri, tanggal lahir anak anaknya, namun nihil, gagal dan tidak bisa membuka kunci layar ponselnya.


Risma berusaha mengingat ingat, lalu memasukkan tanggal pernikahan nya, dan akhirnya layar itu terbuka.


Dengan jantung berdebar, Risma membuka pesan yang dikirim dari kontak yang diberi nama Istriku dengan disertai emoticon love dibelakangnya.


"Mas, aku kangen."


"Mas, besok jadi pulang kan?"


Sederet pesan yang dikirim istri siri Pandu, Risma tersenyum miring, sakit itu pasti tapi tidak ingin lagi larut dengan rasa yang tak semestinya lagi.


Risma lalu mengambil ponselnya dan mulai menyadap ponsel Pandu. Lalu menghapus pesan yang dikirim Clara. Meletakkan kembali ponsel milik Pandu ke tempat semula. Dan memilih kembali melanjutkan tidurnya, namun sebelumnya, Risma menatap ke arah sang suami dengan perasan tak menentu.


"Kamu tega, Mas!


Dan aku akan bersikap lebih tega dari kalian." batin Risma bicara dalam rasa yang tak bisa di gambarkan dengan sebuah kata kata.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Hari Sabtu, harusnya Pandu libur dan bermain dirumah bersama anak anaknya, tapi kali ini Pandu berpamitan sedang ada tugas di luar kota dan akan pulang di Minggu malam.


Dengan memasang wajah tenangnya, Risma pura pura percaya dan mengiyakan ucapan suaminya. Bahkan Risma tidak sedikitpun ingin bertanya apapun perihal kepergian Pandu.


"Apa kamu tidak ingin bertanya aku mau kemana, Ris?" tiba tiba Pandu melontarkan pertanyaan yang membuat Risma semakin hilang rasa padanya, pertanyaan munafik yang terlontar dari mulut suami yang sedang berkhianat.


"Untuk apa, Mas?


Apakah pertanyaan dariku penting?


Lalu apa kamu akan membatalkan kepergian kamu ketika aku akan meminta kamu untuk tidak pergi?


Tidak bukan? Jadi ya, silahkan!" Sahut Risma dingin dan seolah tak perduli dengan tatapan Pandu yang tajam menyorot kepadanya.


"Apakah kamu, sudah benar benar membenciku?


Tak ada lagi maaf dan kesempatan buat aku memperbaiki semuanya?" sambung Pandu masih dengan tatapan tajamnya.


"Kita lihat nanti saja, Mas!


Kita lihat, seberapa besar kamu ingin mempertahankan rumah tangga ini, mempertahankan kebahagiaan anak anak kita. Kita lihat setelah ini. Dan aku baru bisa memutuskan, apa aku akan tetap bertahan atau akan memilih pergi. Kita lihat nanti ya, Pak Pandu Aditama." Risma tersenyum miring dengan sikap dinginnya, membuat Pandu merasa serba salah dan mulai berpikir dengan kalimat kalimat yang dilontarkan oleh istrinya, kalimat ambigu yang membuatnya semakin bingung dengan apa yang ada dipikiran istri pertamanya itu.


"Sudahlah, Ma! Aku tidak ingin lagi terus bertengkar seperti ini. Aku janji akan adil padamu juga Clara, bahkan seluruh gaji sudah masuk ke rekening kamu, aset juga berpindah atas nama kamu dan anak anak, lalu mau apa lagi?" sahut Pandu sedikit geram dan frustasi dengan sikap yang ditunjukkan Risma.


"Apa kamu yakin, Pa?


Kamu yakin, semua milik kamu sudah untuk anak anak?


Apa kamu yakin, tidak ada yang kamu sembunyikan dariku?


Apa kamu sudah benar benar yakin, kalau istri kedua kamu tidak mendapatkan hak nafkah dari suamiku ini?


Jujur, itu tidak mungkin terjadi, Pak Pandu!


Tidak ada satupun perempuan yang akan diam jika tidak dinafkahi, tidak di cukupi!


Aku yakin, suamiku sedang menyiapkan kehidupan mewah untuk istrinya yang lain, karena wanita yang mau dinikahi laki laki yang sudah beristri, hal pertama yang dia lihat adalah kemapanan laki laki tersebut, dan istri muda kamu adalah tipe perempuan yang suka hidup mewah, aku tau itu, karena aku bisa merasakan sebagai sesama perempuan. Jadi berhenti bicara adil disini. Karena sedikitpun aku tidak akan pernah percaya!" Risma dengan tenang dan penuh penekanan mengeluarkan semua uneg unegnya, yang membuat Pandu mematung dengan terus memejamkan matanya, menahan gejolak emosi yang sudah ingin meledak.