
"Bagaimana ceritanya, Erna bisa mendatangi kantormu, Pa?" di sela sela waktu senggangnya saat ngobrol berdua minum kopi di teras belakang Risma menanyakan tentang Erna pada Pandu langsung.
Pandu menoleh menatap istrinya dengan senyuman, meletakkan cangkirnya di atas meja.
"Entahlah, Ma! Aku sendiri juga gak tau bagaimana awalnya, dari mana dia tau alamat kantor. Karena aku juga tidak bertemu dengannya.
Agung yang memberikan informasi kedatangan Erna." sahut Pandu dengan membuang nafasnya kasar.
"Dia sepertinya sangat terobsesi sama kamu.
Hati hati, Pa! biasanya perempuan kayak gitu nekad dan bertindak masa bodoh." Risma menatap dalam ke arah Pandu yang kini tengah tersenyum menatap wajah cantik istrinya yang tanpa polesan. Sejak hamil anak ketiganya, Risma semakin terlihat cantik dan cerah. Dan membuat Pandu semakin mencintai istrinya. Baginya, Erna tidak ada seujung kuku istrinya, dari segi wajah, hati bahkan semua keindahan di berikan pada sang istri.
"Iya, aku tau, Ma!
Makanya, aku ingin berbagi dan terbuka dengan masalah Erna ini dari awal, agar kita bisa mengatasinya sama sama, dan yang terpenting, kamu tidak salah Paham. Itu poin utamanya. Aku gak mau kita ada masalah hanya karena orang seperti Erna!" sahut Pandu dengan menggenggam jemari tangan istrinya penuh dengan kelembutan.
"Iya, Pa! Terimakasih sudah mau berbagi dan berusaha jujur dengan kehadiran perempuan lain. Ini sangat penting untuk kelangsungan rumah tangga kita. Semoga kamu mampu menjaga hati untuk kami, aku dan anak anak!" balas Risma yang tersenyum tipis, ingatannya kembali pada Clara saat Pandu memutuskan menikahinya tanpa sepengetahuan Risma.
"Ma! kenapa?"
Pandu mengerutkan wajahnya saat menyadari perubahan raut muka istrinya yang mendadak murung, bahkan tatapannya menerawang jauh ke depan.
"Gak papa! aku hanya teringat cerita kamu sama Clara. Maaf, hatiku masih merasakan sakit saat mengingatnya kembali." Risma terisak dan membuat Pandu panik dengan penyesalannya.
Pandu langsung bangkit dari duduknya dan merubah posisinya dengan berjongkok di hadapan sang istri, di genggamnya kedua tangan Risma, berusaha meyakinkan dan memberi ketenangan lewat sentuhan dan penyesalan nya.
Maaf kalau perbuatan ku waktu itu begitu melukaimu. Maafkan!" Pandu mengecup punggung tangan istrinya berulang kali, lalu merengkuhnya dalam pelukannya. "Aku menyesal, aku minta maaf! Dan aku berjanji jika itu tidak akan pernah terulang lagi. Percayalah, aku sangat menyayangi kamu dan anak anak. Saat ini dan nanti, kalianlah duniaku, tujuan dan tempatku pulang!" Pandu berusaha untuk menenangkan Risma yang masih terisak dengan mengatakan semua yang menjadi harapannya dalam memperbaiki hubungannya.
"Maaf, aku selalu lemah saat mengingat itu. Insyaallah aku baik baik saja, hanya ada rasa sakit saat mengingatnya. Berikan aku waktu, Pa!" sahut Risma yang masih terisak dalam pelukan Pandu.
"Kita ke kamar, istirahat! Tenangkan dirimu dulu, gak baik buat Dede bayi yang ada di perutmu!" Pandu dengan sabar berusaha memahami perubahan mood sang istri yang mudah berubah.
"Mau aku gendong ke kamarnya?" Pandu mencoba untuk mengembalikan mood istrinya dengan cara menggodanya.
"Risma tersenyum disela tangisnya dengan sikap konyol suaminya. Dan sebelum menjawab, Pandu dengan gerakan cepat dan begitu gagahnya membopong tubuh istrinya berjalan ke dalam kamar.
"Apa apaan sih, Pa! Malu ah kalau anak anak lihat!" Risma terkejut dan berusaha untuk beranjak turun dari gendongan suaminya, namun Pandu tetap membawanya berjalan menuju ke dalam kamarnya dengan senyuman manis dan sikap cool nya, membuat Risma luluh dan jatuh cinta untuk sekian kalinya pada sang suami.
"Anak anak gak akan lihat, mereka sudah tidur. Dan kalaupun lihat ya gak papa, biar mereka tau, Kalau mama dan papanya romantis dan saling menyayangi, ini pemandangan indah untuk mereka, Ma!" sahut Pandu dengan Tatapan lurus ke depan dan membuat Risma tersenyum dalam gendongan sang suami, melabuhkan kepalanya di pundak pandu dan mengalungkan kedua tangannya di leher suami tercinta. Romantis!
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sedangkan dilain tempat, Erna yang sedang menginap di hotel sedang membayangkan kehadiran Pandu yang jadi obsesinya. Wajah tampan dan tubuh atletisnya membuat Erna Semakin tergila gila dengan sosok Pandu Aditama.
"Aku yakin, dengan pesona yang aku miliki, kamu pasti akan jatuh dalam jeratan ku, Pandu!
Besok aku akan mencari tau seperti apa istrimu, sekaligus berkenalan dengan calon maduku." hahahaa Erna tertawa sendiri dengan segala angannya. Menganggap remeh keteguhan Pandu pada kesetiaannya terhadap sang istri. Sekuat apapun Erna menggoda, Pandu sudah menguatkan hatinya hanya untuk mencintai istri dan anak anaknya, apalagi hanya perempuan seperti Erna, yang bahkan sedikitpun tidak ada di kriteria seorang Pandu.
Karena Pandu tidak pernah menyukai wanita yang suka memamerkan auratnya, secantik apapun dia, tidak akan bisa membuat Pandu melirik perempuan itu.