
"Berati kamu betah di Surabaya!
Tinggal saja di Surabaya, biar kita juga sering ketemuan." sahut Clara dengan tawa lirihnya, karena tak mungkin meminta sesuatu yang tidak harus dilakukan oleh sahabatnya.
"Aku juga inginnya seperti itu, tapi aku harus siap kehilangan pekerjaan yang di Jakarta.
Tapi aku berniat buka usaha di Surabaya, tapi apa ya, kamu ada ide, Ra?"Erna membalas ucapan Clara serius, yakin kalau ingin tatap berada di Surabaya dan punya usaha sendiri.
"Buka butik baju baju muslimah, sekarang lagi musim, banyak yang memakai gamis gamis dengan model modern yang elegan. Gimana?" Clara membalas antusias dengan ide di pikirannya.
"Tapi penampilan aku kayak gini, apa nanti malah gak jadi hujatan?" sahut Erna ragu dan takut kalau akan mengalami bullying seperti dulu.
"Ya kamu berubah dong Er! Coba deh kamu pakai baju yang tertutup, aku yakin kamu akan terlihat sangat cantik dan lebih terjaga. Coba dulu dan rasakan, pasti kamu akan menemukan sesuatu yang membuat hati adem dan merasa nyaman.
Aku tidak ingin memaksa kamu, tapi aku ingin kamu mencobanya lalu rasakan!" balas Clara dengan sangat berhati hati, berharap Erna mau mendengarkan ucapannya, karena bagaimanapun Clara cukup tau seperti apa Erna, Erna hanya butuh dukungan dan perhatian, dia punya sifat yang baik namun semua itu terkikis oleh luka hatinya akibat hinaan yang dia terima semasa sekolah dulu.
Erna diam memikirkan ucapan Clara, dan terbesit di otaknya untuk mencoba apa yang disarankan wanita yang sudah ia anggap sahabat terbaiknya.
"Aku akan kerumah kamu besok siang, kita akan jalan jalan ya, bisa kan?
Hari ini aku mau istirahat dulu, hanya ingin menghabiskan waktu untuk tiduran saja di kamar hotel, karena lusa aku akan kembali ke Jakarta." Sahut Erna dengan pikiran yang mulai goyah untuk mencoba apa yang Clara katakan. Berubah menjadi lebih baik tidak pernah ada salahnya dan juga tak harus menunggu mendapatkan pendamping yang baik. "Mungkin aku akan coba apa yang Clara katakan, semoga aku merasa nyaman dan bisa jauh lebih baik." batin Erna menyugesti diri sendiri.
"Aku ijin dulu ke suamiku ya, nanti aku akan kasih kabar lagi. Karena sekarang aku harus mendapatkan ijin suami sebelum memutuskan sesuatu, tapi insyaallah Mas Sandi akan mengijinkan, karena dia tidak pernah melarang ku melakukan sesuatu yang aku senangi, asal tidak berbuat aneh aneh, yang positif saja." sahut Clara jujur dan tak berani memberikan jawaban sebelum meminta ijin suaminya.
"Iya, aku paham kok.
Kalau begitu, aku tunggu kabarnya ya.
Sudah dulu, aku mau mandi dan istirahat sebentar!" sahut Erna dengan suara tak semangat, nama Sandi tiba tiba mengganggu pikirannya, Takut kalau Sandi yang disebut Clara adalah Sandi yang sama dengan yang ia temui sewaktu di restoran kemarin.
"Iya! selamat istirahat ya, aku juga mau menemani Dania bermain." Clara membalas dengan sikap yang biasa biasa saja, tak menyadari perubahan yang ada pada Erna.
Erna menatap jauh kedepan dari jendela kamarnya. Merasa khawatir jika suaminya Clara adalah Sandi yang kemarin ia temui.
Pasti akan menjadi masalah dengan hubungan persahabatannya dengan Clara. Karena bisa saja Sandi meminta Clara tidak lagi berteman dengan Erna karena perdebatan yang terjadi kemarin.
"Kalau dia Sandi yang sama dengan yang aku temui di restoran waktu itu, pasti Clara akan di larang untuk bertemu lagi denganku, karena aku sudah bersikap melebihi batasan dengan ingin mengganggu rumah tangga saudaranya. Ah sialan! Kenapa hidupku selalu penuh dengan kesialan begini?" Arrrgh.., Erna mengerang frustasi.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
"Mas!" Clara mendekati Sandi yang tengah duduk di halaman belakang dengan secangkir kopi hitam.
"Iya!" datar dan singkat, tanpa menoleh sedikitpun ke arah Clara, Sandi lebih fokus dengan kopi dan juga berkas berkas yang ada di meja.
"Nanti jadi berangkat jam berapa?" Clara menatap lekat ke arah suaminya yang tengah sibuk menyelesaikan pekerjaan nya.
"Jam sebelas, kamu siap siap gih. Paket baju yang kemarin kita beli. Aku nanti saja nyusul, kan cuma ganti baju saja beres, kalau perempuan kudu dandan ini itu dulu." sahut Sandi santai dan mengalihkan tatapannya ke Clara yang tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Aku siap siap dulu ya" Clara meninggalkan Sandi dan menuju kamarnya, siap siap karena akan menemani Sandi di acara pelantikan dikantornya.
Memakai gamis warna gold dengan hijab panjang menjuntai, riasan tipis namun terlihat begitu anggun. Ditambah sepatu high heels dengan warna senada. Clara terlihat begitu sempurna sebagai seorang perempuan.
Sandi membereskan berkas berkas yang berserak di meja, laku memutuskan untuk kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian. Namun netranya tak berkedip melihat penampilan Clara yang begitu anggun. Cantik dan mempesona siapa saja mata yang memandangnya.
"Clara!" Sandi mendekat dan meraih pinggang istrinya, dengan spontan mencium pundak sang istri, menghirup aroma wangi di tubuh Clara. Memabukkan!
Clara yang terkejut dengan sikap Sandi, hanya bisa mematung dan menahan napas karena sentuhan sentuhan suaminya yang tak biasa.
Sandi semakin dibuat mabuk oleh pesona istrinya sendiri. Dan memberanikan diri mengecup kening dan turun ke bibir, hingga tautan tautan dari bibir keduanya menjadi bersama nafas yang sudah memburu cepat.
"Masih ada waktu satu jam." bisik Sandi di telinga Clara. Dan Clara pun paham dengan maksud suaminya. Clara tak menyia nyiakan kesempatan yang sudah ditunggunya berbulan bulan.
Penyatuan itu akhirnya terjadi dengan begitu cepat dan singkat, hingga membuat mereka saling tersenyum penuh kelegaan.
"Kita mandi, dan ganti bajumu dengan yang lain. Karena yang itu sudah kusut." Sandi berdiri dan menuju kamar mandi membersihkan diri. Sedangkan Clara tersenyum dan tak tau apa yang tengah ada di hatinya.
Saat diranjang Sandi begitu memabukkan, namun sikapnya berubah dingin setelah hasratnya terpenuhi. Namun Clara berusaha untuk menerima dan memahami kepribadian suaminya yang memang belum stabil menerima kehadirannya.
"Aku akan berjuang untuk mendapatkan hatimu kembali, mas!
Karena aku tidak ingin gagal lagi dalam mempertahankan rumah tanggaku." lirih Clara dengan senyuman tipis dan mulai memunguti pakaian yang berserakan dan memakai baju lalu menuju kamar mandi yang ada diluar kamar dan membersihkan diri. Karena waktu sudah hampir menunjukkan pukul sebelas siang.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Kasih sayang yang salah
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
Happy ending ❤️