
"Wah gak sabar pingin Gendong, laki laki apa perempuan?" sahut Erna antusias dengan senyuman penuh binar.
"Perempuan, baru tiga bulan jalan empat bulan.
lagi lucu lucunya dia.
Nanti kalau sudah bangun, kamu boleh menggendongnya.
Tadi aku sudah siapin masakan buat kamu.
Yuk makan dulu." balas Clara dengan ekspresi bahagia saat menceritakan tentang Dania. Dan mengajak Erna untuk mencicipi masakan yang ia buat kusus menyambut kedatangan Erna.
Clara ngobrol banyak hal dengan Erna, tentang kisah masa lalu dan harapan Erna juga impian Clara. Namun sedikitpun Clara tidak mengungkit tentang masa lalunya bersama Pandu.
Banyak kisah yang Erna sampaikan saat masa masa dirinya yang selalu di bully, dan perasaan sakit hatinya juga dendam masa lalu dari bullying membuat Erna menjadi sosok yang berbeda. Clara merasa tidak mengenali Erna dengan Susi barunya yang penuh kebencian dan ambisi.
Namun Clara memilih diam selama tidak mengusik hidupnya.
Hampir empat jam, Erna dan Clara menghabiskan waktu bersama dengan mengobrol, mengenang masa lalu dan bercanda dengan kelucuannya Dania.
Erna yang biasanya selalu angkuh dan sombong, bisa tertawa lepas dan merasa nyaman ketika berdekatan dengan Clara, yang memang dari dulu selalu bersikap baik dengan Erna, apapun keadaannya Erna. Itulah yang membuat Erna bisa nyaman dan senang bersama dengan Clara.
"Ra! terimakasih ya, dari dulu kamu selalu bersikap baik padaku, mau menerimaku apa adanya, terimakasih, hanya sama kamu aku menemukan kenyamanan dan memiliki sahabat.
Kamu mau kan, kita melanjutkan persahabatan kita yang sudah lama terputus oleh keadaan?
Aku ingin kita seperti dulu, Ra!" Erna mengungkapkan perasaannya pada Clara yang tengah memangku Dania yang sedang minum susu dalam dot nya.
"Iya, Er!
Kita akan tetap jadi teman kok, sampai kapanpun.
Tapi ya itu, aku sudah jadi ibu rumah tangga, waktuku tidak sebebas dulu. Jadi mungkin gak bisa kita bebas jalan kayak dulu.
Kamu ngerti kan dengan maksudku?" sahut Clara apa adanya, karena statusnya yang seorang istri sekaligus ibu, membuatnya tak lagi banyak waktu untuk bersantai atau jalan jalan, meskipun Sandi membebaskan Clara untuk melakukan apapun yang disukainya, namun Clara tidak ingin bersikap yang bisa membuat Sandi kecewa, apalagi hubungan rumahtangga nya juga masih belum baik baik saja.
"Aku mengerti kok, Ra! kamu gak usah khawatir. Kalau aku ada waktu, biar aku yang main kesini. Kita gak harus selalu bertemu diluar. Kalau sekali kali boleh lah ya?" sahut Erna tersenyum dan menjawil pipi Dania dengan gemas.
"Makasih ya, Er! maklum emak emak, harus ijin suami dan mikirin anak kalau mau apa apa!" balas Clara serius agar tidak menyinggung Erna yang kini sudah berubah sifatnya.
"Tenang saja, aku paham kok soal itu!
Oh iya, apa aku masih boleh main kerumah kamu, Ra?
Ya siapa tau nanti aku dapat job di Surabaya, syukur syukur bisa pindah di Surabaya. Jadi ada teman Aku." Erna menatap Clara lekat, mencoba mencari tau ketulusan di mata Clara yang dulu selalu ada untuknya. Dan Erna masih menemukan nya disana, Clara tidak pernah berubah.
"Ya gak papa donk, Er!
Datang saja kapan kamu mau, aku sudah minta ijin ke suami aku, dan dia juga gak keberatan kok. Lagian aku juga gak punya banyak teman di Surabaya." sahut Clara jujur dan merasa senang karena memiliki teman.
"Okelah kalau begitu!
Aku pamit pulang dulu ya, jangan lupa, hadiahnya di pake. Karena aku belinya kembaran sama punyaku. Kapan kapan kita jalan bareng ya, minta ijin suami kamu dulu!" Erna berniat pulang, karena hari sudah menjelang sore, gak enak terlalu lama mengganggu waktunya Clara yang statusnya sudah bukan lajang lagi.
"Oke, siap! Terimakasih ya, harusnya gak perlu repot repot kasih hadiah gitu, apa lagi harganya mahal, jadi gak enak akunya!" sahut Clara jujur, karena tas yang diberikan Erna harganya cukup mahal, Clara tau dari merk tas tersebut, karena Clara juga sering belanja barang barang mewah jadi mengerti harga saat melihat merk-nya.
"Persahabatan kita jauh lebih mahal, gak bisa diukur dengan uang. Aku banyak hutang budi sama kamu, Ra! Kamu sudah menjadi salah satu orang yang berarti buatku. Kita dipertemukan lagi seperti ini, jujur aku senang sekali." balas Erna dengan menatap dalam ke arah Clara yang selalu tersenyum dengan manis.
Aku juga sangat bahagia, akhirnya kita bisa bertemu lagi dan bisa komunikasi lagi. Semoga kamu segera ketemu jodoh. Aku ingin saat kamu menikah, aku bisa mendampingi kamu." sahut Clara dengan tatapan penuh dengan kasih sayang dan harapan buat sahabatnya.
"Aamiin, semoga! Doain ya, aku bertemu laki laki yang baik, yang iklas menerimaku apa adanya dan bisa membawaku menjadi Erna yang lebih baik dalam segala hal." Balas Erna dengan senyuman tipis dan matanya sudah berkaca kaca, baru kali ini ada orang yang bisa membuatnya bicara banyak hal, bahkan mendoakan soal jodoh, bukan seperti kebanyakan orang yang menganggapnya tak laku mendapatkan laki laki baik karena profesinya.
"Aamiin, insyaallah. Jodoh yang baik diawali dari kita sendiri Er! Perbaiki diri, insyallah kebaikan kebaikan yang lain pasti akan mengikuti. Percayalah!
Maaf bukan maksudku menceramahi, aku hanya ingin sahabatku, mendapatkan yang terbaik, itu saja!" sahut Clara dengan tatapan lembut, mencoba membawa Erna untuk kembali menjadi pribadinya yang dulu.
"Terimakasih, Ra!
Hanya kamu yang mau bicara seperti ini padaku.
Bahkan, keluargaku tidak ada sama sekali ada yang mau mengingatkan aku sepertimu. Terimakasih, Clara.
Aku akan menunggu jodoh terbaikku, dan berubah baik sepertinya. Untuk saat ini, biarlah aku jalani apa yang ada." Erna menatap kosong ke arah luar dimana banyak tanaman hias yang menyejukkan pandangan mata, karena Clara menyukai bunga bunga hias yang dirawatnya sendiri di halaman belakang rumah nya.
"Aku pulang ya, insyaallah sebelum balik ke Kediri, aku akan main kesini lagi, kita jalan jalan ke mall, menyegarkan mata dan senang senang dengan belanja dan makan apa saja yang kita mau.
Aku akan mentraktir mu, Anggap saja cara aku menunjukkan kalau aku sangat berterima kasih dengan kehadiran kamu di hidupku, Clara!
Aku mohon jangan menolak ku!" Erna menatap lekat pada Clara yang juga tengah menatapnya dalam, dua sahabat itu saling diam dan akhirnya saling melempar senyum, Clara mengangguk dan mengucapkan banyak terimakasih, karena Erna begitu menghargai dan senang dengan kehadirannya.
Setelah melepas rindu, Erna kembali dengan mengendarai mobilnya, senyumnya mengembang dengan begitu tulus, seolah kesombongan dan sikap angkuhnya bisa luruh hanya karena seorang Clara Prameswari yang selalu menerima kehadirannya apapun keadaannya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Kasih sayang yang salah
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
Happy ending ❤️