
"Bermain main dengan selingkuhan suami, ternyata sangat menghibur dan menyenangkan ya, Mbak?" balas Risma sambil membekap mulutnya, takut terdengar oleh Pandu.
Mbak Romlah langsung menganga tak percaya, menatap Risma tak berkedip dengan wajah polosnya.
"Biasa saja, Mbak!" Risma tertawa melihat ekspresi pembantunya yang berlebihan bahkan terkesan sangat lucu di matanya.
"Ma!"
tiba tiba Pandu muncul dan mengubur senyuman sang ratu.
"Iya." sahut Risma datar tanpa ekspresi dan membuat Pandu sedikit tidak nyaman, karena saat melihat senyum lepas sang istri, di mata Pandu Risma terlihat sangat menarik dan cantik.
"Boleh minta tolong?" balas Pandu lembut sambil menatap Risma yang tengah mengernyitkan dahinya.
"Tolong buatkan aku bekal sama masakan yang tadi, karena aku mau memakannya untuk nanti siang, masakan kamu sudah membuatku candu, Ma! Aku suka." Pandu berkata jujur memuji masakan Risma yang memang sangat enak, apa lagi dengan menu yang jadi favorit Pandu, yaitu ikan lele.
Risma memasak lele, dengan tiga macam masakan, goreng lele dengan lalapan nya, sambal Pete lele kemangi, dan bumbu rujak lele. Dan semua itu adalah makanan kesukaan Pandu.
"Baik, Mas. Sebentar aku siapkan!" sahut Risma yang langsung berdiri menyiapkan apa yang suaminya minta.
"Apa masakannya masih banyak, Ma?" sambung Pandu yang ingin membawa bekal lebih untuk diberikan pada beberapa anak buahnya.
"Masih kok, kan tadi sengaja masak banyak." sahut Risma menatap Pandu dengan tatapan menyelidik.
"Kenapa, lihatin nya begitu?
Kalau masih banyak, cukup gak buat sepuluh kotak?
Aku mau kasih juga ke teman di kantor." sambung Pandu serius dengan membalas tatapan sang istri yang langsung juga ikut tersenyum mendengar jawaban Pandu.
"Insyaallah cukup kok, mau dibuatkan?" balas Risma santai dan mulai memasukkan nasi ke wadah kusus untuk bekal Pandu.
"Boleh, asal kamu ikhlas!" balas Pandu dengan senyuman menggoda dan membuat Risma menghela nafas dalam.
Tanpa lagi menyahuti ucapan suaminya, Risma mulai mengambil kotak kotak mika yang memang sengaja dia sediakan jika butuh sewaktu waktu.
Mengisinya dengan rapi, antara nasi dan lauknya dipisah agar bisa dimakan saat jam makan siang nanti.
"Ini, Pa! yang kotak makan buat bekal kamu, yang ditaruh di mika buat teman kantornya kamu." sahut Risma santai dan meletakkan kotak kotak nasi di atas meja makan yang ada di dapur, lalu memasukkan nya kedalam kantong kresek dengan sangat rapi.
"Makasih sayang! aku berangkat dulu ya. Asalamualaikum!" balas Pandu dengan senyuman yang menggoda, dan mencium pucuk kepala Risma lembut setelah acara cium tangan. Risma sempat tertegun dengan perlakuan Pandu yang tak seperti biasanya, sampai sampai lupa belum menjawab salam suaminya.
"Waalaikumsallm, Mas!" Risma menatap kepergian suaminya yang sudah menghilang dibalik pintu.
"Harusnya, kamu lakukan ini sedari dulu, Mas! Bukan saat hatiku belajar untuk tanpa kamu lagi. Tapi sudahlah, aku tak akan larut dengan sikap manis kamu jika kamu masih tetap mempertahankan perempuan itu di hidupmu." Risma menggeleng lemah dan melangkahkan kaki menuju kamar pribadinya, mengambil ponsel dan mencari kontak dokter Abas, karena hari ini adalah hari Risma melakukan periksa ulang dan terapi.
"Hallo, asalamualaikum, dok!" sambung Risma saat panggilan teleponnya tersambung dengan pria tampan di ujung sana.
"Waalaikumsallm, aku menunggu kabar kamu sudah dari tadi. Gimana?" sahut dokter Abas dengan suara baritonnya.
"Setengah jam lagi, insyaallah aku sampai rumah sakit, Mas Pandu baru saja berangkat ke kantor." balas Risma terus terang.
"Baiklah, aku tunggu. Kamu hati hati." sahut dokter Abas lega.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
"Sarapan dari istri, bagi ya sama teman teman." Pandu tersenyum merasa bangga memamerkan masakan sang istri yang bahkan belum pernah ia lakukan selama ini, dan itu membuat teman temannya sedikit heran dengan perubahan Pandu yang terlihat lebih ceria.
Pandu memasuki ruangannya, dan memulai aktifitasnya, namun nampak ponselnya tengah bergetar dan menampilkan nama Clara di ponsel milik Pandu yang tergeletak di atas meja kerjanya.
"Clara." gumam Pandu mengusap wajahnya kasar, bahkan dirinya lupa jika belum menghubungi istri keduanya sama sekali sejak waktu itu.
Sebelum mengangkat panggilan telepon dari Clara, Pandu menghembuskan nafasnya dalam.
"Hallo Asalamualaikum." sapa Pandu mengawali obrolan dengan sang istri siri. Tau, pasti clara akan protes dan marah padanya.
"Waalaikumsallm, belum bicara apapun, terdengar Clara sudah terisak di ujung sana, dan membuat Pandu mengerutkan wajahnya bingung.
"Kenapa kamu, sayang? kok tiba tiba nangis?" sambung Pandu yang tak mengerti dengan tangisan Clara.
"Jahat kamu, Mas!
Masih tanya kenapa?
Kamu itu keterlaluan tau gak sih?" kembali suara isakan Clara terdengar dengan amarah dari setiap kalimatnya.
Pandu menghembuskan nafasnya kasar, tak mengerti dengan pemikiran wanita yang baru dinikahinya.
"Ada apa?
Kamu marah, karena aku tidak jadi menemui kamu kemarin?
Maafkan aku sayang, maaf ya!
Aku harus menemani Risma dan anak anakku pulang. Dan aku tidak bisa menghubungi kamu, karena hape aku dipegang sama Risma, aku hanya tidak ingin membuat Risma semakin terluka lagi, aku harus menjaga perasaan nya. Aku harap kamu bisa memahami posisiku Clara!" sahut Pandu tenang bahkan tanpa rasa bersalah karena sudah mengabaikan Clara dengan sejuta prasangka pada wanita keduanya.
"Tega kamu, Mas! Jahat kamu!
Aku juga istrimu loh, aku juga mau kamu perlakukan sama seperti Risma, bukan terus kamu minta untuk mengerti dan mengerti.
Kamu bahkan semalaman asik menghabiskan malam panas dengan istri yang katanya tidak kamu cintai itu, sedangkan aku menangis dan resah menunggu kabar dari suamiku. Jahat kamu, benci aku sama kamu!" balas Clara dengan segenap kekesalannya.
"Clara, aku tidak suka kamu bicara kasar dan keras seperti ini. Semarah apapun Risma, dia tidak pernah bicara dengan nada tinggi padaku. Dan kamu juga harus ingat, Risma itu istriku jadi wajar kalau aku bersama dengan Risma. Beda kalau aku dengan wanita lain, kamu boleh tak suka dan marah padaku. Jaga sikap kamu, Clara. Kenapa kamu jadi egois begini?" Pandu sedikit kesal dengan sikap clara yang egois dan tak bisa menghargainya sebagai seorang suami.
"Kamu bentak aku, Mas?
Kamu tega ya sama aku?
Kamu tak perduli dengan perasaan aku, jahat kamu, Mas!" Clara kembali terisak seiring rasa sakit dihatinya karena Pandu sudah bicara kerasa pada nya.
Pandu memilih diam tak menanggapi emosi Clara, karena tau kalau akan jadi panjang urusannya. Memilih untuk memberikan waktu agar Clara menenangkan dirinya dulu dan merenungi kesalahan nya, bagaimana seharusnya bersikap jadi seorang pada suaminya.
"Tenangkan diri kamu dulu, Clara!
Setelah itu kita baru bicara, karena kalau kita bicara dalam keadaan emosi dan marah, yang ada hanya pertengkaran. Aku akan kerja dulu, nanti aku hubungi kamu lagi." Pandu mematikan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Clara terlebih dahulu, dan itu semakin menyakiti hati Clara yang kembali menangisi nasibnya
Asalamualaikum."