
"Iya, ini aku!
Aku minta maaf, kalau baru bisa menemui kamu, hari ini, Clara! karena aku harus menghormati kehadiran orang tua Risma dirumah kami.
Aku harap kamu mau memahaminya." sahut Pandu dengan wajah yang terlihat tertekan.
"Iya, Mas! aku sudah siapkan mental ku, jika nanti kamu benar benar mau meninggal kan aku dan lebih memilih keluarga kamu." Sahut Clara datar meskipun air matanya kembali lagi berjatuhan membasahi pipinya, seiring luka yang kian menghujam ulu hatinya.
Pandu menatap Clara penuh dengan rasa bersalah, jika saja dia tak buru buru dalam memutuskan, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Risma maupun Clara tidak akan sama sama terlukai.
Menghembuskan nafasnya dalam dan menatap lekat wajah Clara yang telah basah oleh air mata.
Pandu terdiam sebelum bibirnya mengutarakan maksud kedatangan nya menemui sang istri kedua.
"Clara! Apa kamu bahagia dengan pernikahan ini?
Apa kamu keberatan jika aku lebih condong pada Risma dan anak anakku nantinya?
Jawablah dengan jujur, dari hati kamu yang paling dalam.
Mari kita bicara dari hati kita masing masing." Pandu memulai obrolan dengan serius dan berharap bisa menemukan solusi terbaik.
Clara menatap sendu wajah pria dihadapannya dengan hati yang kian terasa perih, Clara tau, maksud dari semua ucapan Pandu.
"Aku sangat bahagia, Mas! Aku bahagia bisa menjadi istri kamu, di cintai dan menjadi bagian dari hidupmu!
Tapi, aku tak bisa jika kamu hanya memberi waktu sisa, dan hatimu berat sebelah, antara aku dan Risma. Maaf, aku belum bisa iklas." sahut Clara pasti, tak ingin munafik jika memang hatinya tak bisa jika hanya menjadi tempat singgah sementara.
"Aku akan mulai dari awal hubunganku dengan Risma, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk bersikap lebih baik pada istriku dan memperbaiki hubungan kami yang hampir hancur. Untuk itu, mungkin aku akan lebih banyak menghabiskan waktuku bersama Risma dan anak anakku.
Maaf kan aku Clara, aku tak sanggup jika harus kehilangan mereka!" sambung Pandu dengan tegas dan tatapannya dalam menatap perempuan yang terus terisak tanpa mau lagi melihat ke arahnya.
"Jadi, kamu lebih memilih mereka, Mas?
Dan kamu lebih memilih kehilangan aku dari pada Risma?
Apa benar begitu?" balas Clara yang semakin terluka dengan ucapan Pandu.
"Clara, pahami kata kataku dulu. Jangan dulu kamu teriak dan emosi seperti ini.
Aku tak bisa kehilangan istri dan anakku, mereka hidupku, mereka kebahagiaanku. Pun sama dengan kamu, aku hanya minta kamu bisa menerima dan menjalani hubungan ini bersama sama, dan mungkin waktuku dengan kamu tak bisa sebanyak waktuku dengan Risma dan anak anak. Apa kamu paham?" sahut Pandu dengan hati yang sudah lelah menghadapi Clara yang memang ingin menjadi nomor satu.
"Maafkan aku, Mas!
Aku gak bisa!
Lebih baik kita akhiri pernikahan ini. Kembalilah pada istri dan anak anak kamu disana!" Balas Clara ketus, dan sedikitpun tak mau menatap pada Pandu yang mulai frustasi menghadapi sifat keras kepala Clara.
"Iya, sangat yakin!
Kita pisah, lupakan aku. Dan hiduplah bahagia dengan mereka disana!" sahut Clara yang terus memalingkan wajahnya dari Pandu.
"Baiklah, jika memang ini sudah jadi keputusan kamu. Jangan salahkan aku, dan tidak boleh ada penyesalan nantinya.
Aku sudah mengutarakan apa yang menjadi keinginan ku, dan meminta kamu mengerti dan sedikit bersabar. Tapi kamu justru inginkan perpisahan. Aku akan menuruti keinginan kamu, asal kamu benar benar iklas dengan apa yang kamu putuskan ini.
Aku ulangi sekali lagi, apa kamu sudah siap dengan perpisahan ini?
Apakah kamu yakin dengan apa yang kamu katakan barusan?" Sambung Pandu dengan menarik nafasnya dalam-dalam. Berusaha menekan kekesalan di hatinya tersebab sikap Clara yang memang tak bisa mengerti.
"Kamu tenang saja, Pak Pandu Aditama!
Clara tidak akan menyesali keputusan yang sudah diambilnya. Dan aku pun juga sangat yakin dengan yang aku katakan, karena memang aku tak pernah akan sanggup melihat suamiku lebih mencintai istrinya yang katanya tak pernah dicintai olehnya. Tapi aku lupa, bukankah bibir mudah berdusta dan hati siapa yang tau. Jadi, aku mengalah, aku akan mundur dan anggap kita tidak pernah kenal.
Terimakasih sudah pernah mencintaiku meskipun hanya tempat untukmu singgah sementara. Terimakasih, kamu sudah menancapkan luka yang begitu dalam di hatiku. Terimakasih untuk segalanya Pandu Aditama yang terhormat. Sekali lagi, aku mencintaimu dan sekaligus sangat membencimu!" balas Clara yang sudah berani menatap ke arah Pandu dengan tatapannya yang tajam dan penuh dengan kebencian.
Pandu terdiam, terbesit rasa bersalah di hatinya saat melihat Clara begitu terluka. Namun disini Pandu juga harus bisa tegas dan menentukan pilihannya. Dan pilihannya adalah mempertahankan rumah tangganya bersama Risma dan menjadi ayah yang baik untuk kedua anaknya.
"Maafkan aku Clara. Tapi jujur, aku tidak pernah berdusta dengan perasaan cintaku pada kamu. Namun aku sempat kecewa saat kamu nekad datang ke kantor dengan tujuan ingin membuka pernikahan kita, sedangkan kamu tau, abdi negara sepertiku tidak dibolehkan memiliki istri lain tanpa persetujuan istri pertama, dan sikapmu itu bisa menghancurkan aku dan juga keluargaku.
Maaf, jika aku sudah menyakitimu!" Sahut Pandu dengan sorot mata tegas yang ia tunjukkan pada wanita yang masih dia cintai, namun Pandu harus menekan perasaannya demi mempertahankan keluarganya yang lain.
"Baiklah, aku mengerti. Pembicaraan kita cukup sampai disini. Toh keputusan akan tetap sama, yaitu berpisah! bukan begitu?" balas Clara dingin dan mulai menghapus air matanya dengan kasar.
Lalu melangkahkan kakinya keluar kamar, memanggil ibunya dan memintanya untuk menjadi saksi perpisahannya dengan Pandu Aditama.
"Clara! Apa kamu sudah memikirkan ini baik baik, nak?" Bu Desmita menatap iba pada Clara yang terlihat sangat tertekan, namun tak ada yang memang harus dipertahankan, jika hanya saling menyakiti.
"Clara yakin, Bu!
Bantu Clara agar bisa menjalani ini dengan iklas." balas Clara yang berhambur memeluk ibunya dan terisak disana.
Pandu hanya menatap dalam diam kedua wanita yang ada di hadapannya. Perasaannya benar benar kacau, antara tak tega, merasa bersalah, cinta dan wajah Risma yang terluka bersama bayangan anak anaknya yang akan hilang keceriaan jika salah dalam mengambil keputusan.
Pandu berusaha tetap bersikap tenang dan baik baik saja, meskipun sejatinya dia pun tak kuasa melihat air mata Clara yang nampak memilukan. Hatinya ikut terluka.
"Mas!
Lakukan sekarang, talaq aku dengan saksi ibuku.
Setelah itu, pergilah dan jangan pernah kembali lagi. Hiduplah bahagia dengan keluarga kamu."
Clara melepas pelukannya dari sang ibu, dan menghapus air matanya, berusaha bersikap tegar dan tak ingin lagi menangis. Cukup batinnya tersiksa dengan hubungan yang memang hanya bisa saling menyakiti hati banyak orang.