
"Ibu hanya ingin kamu bahagia, Clara!
Ibu harap, hubungan rumah tangga kamu dan Sandi baik baik saja, nak!
Ibu tau kamu sudah berusaha untuk berubah dan tak lagi mengingat masa lalu. Insyaallah semua pasti akan baik baik saja. Teruslah berdoa dan pasrahkan segalanya pada Alloh, semoga Sandi segera menyadari kesalahannya yang belum bisa menerima kamu seutuhnya. Bersabarlah, nak!" Bu Imah berusaha untuk membuat Clara tetap bersabar dan memasrahkan semua pada takdir.
Clara tertegun, mendengar ucapan sang ibu. Tak menyangka kalau apa yang berusaha dia tutupi ternyata ibunya ketahui. Clara hanya bisa terdiam, tertunduk malu dengan nasib rumah tangganya yang rumit. Tak terasa air matanya kembali berjatuhan seiring rasa sesak yang kembali terasa menghujam ulu hatinya.
Bu Desmita meraih tubuh Clara dan memeluknya erat, diusapnya punggung Clara dengan lembut.
"Yang sabar, ibu percaya Sandi itu baik. Saat ini dia masih belum bisa menguasai keadaan dan hatinya saja.
Percayalah, saat kamu memutuskan untuk hijrah dan berniat untuk memperbaiki diri. Alloh sudah siapkan apa yang terbaik untukmu di depan sana.
Kamu hanya perlu sedikit bersabar dan belajar ikhlas dalam menerima apapun yang menjadi takdirmu, nak!
Karena tidak semua kesalahan itu tak bisa dimaafkan, apalagi kalau sudah berusaha untuk memperbaiki dan menyesali. Kuat ya, sabar itu kuncinya!" Bu Desmita terus memberi kekuatan untuk putrinya, rumah tangga yang dijalani sang anak memang tidak mudah dengan apa yang pernah terjadi di masa lalunya. Tapi Bu Desmita percaya, jika putrinya sudah menyesali dan ingin berubah memperbaiki kesalahannya di masa lalu.
Saat tengah larut dengan kesedihannya. Terdengar suara mobil yang berhenti di halaman depan rumahnya.
"Ibu akan lihat siapa yang datang, ibu yakin itu suami kamu!
Jika benar, temui dia dan bicarakan baik baik!" Bu Desmita beranjak dan melangkah menuju ke depan.
Terlihat Sandi tengah berdiri di depan pintu dengan wajah lesunya.
"Asalamualaikum, Bu" sapa Sandi saat melihat kedatangan ibu mertuanya, sandi meraih punggung tangan Bu Desmita dan menciumnya takzim.
"Waalaikumsallm, masuklah nak.
Clara ada di dalam, Dania sedang tidur di kamar." Bu Desmita dengan ramah dan tetap bersikap biasa saja, mengajak menantunya masuk ke dalam rumah untuk menemui Clara yang tengah terdiam di ruang keluarga.
"Ibu akan buatkan minuman, kalian bicaralah. Selesaikan apa yang menjadi masalah dalam rumah tangga kalian dengan kepala dingin. Ibu percaya kalian sudah dewasa dan mampu menyelesaikan berdua tanpa harus ada yang menyakiti." Bu Desmita meninggalkan Sandi yang menatap Clara dalam diam.
Clara tidak sedikitpun mau menoleh ke arah suaminya yang tengah memperhatikannya dengan perasaaan bersalah.
Setelah beberapa saat saling terdiam dengan suasana yang canggung. Sandi memutuskan untuk menghampiri Clara yang masih betah membeku di tempatnya dengan tertunduk dalam.
"Clara!
Maafkan aku, aku menyesal sudah bersikap kurang baik padamu selama ini.
Maaf dengan sikap bodohku ini!" Sandi duduk tepat dihadapan Clara yang masih setia menundukkan wajahnya, enggan menatap pada suaminya. Hatinya terlanjur kecewa dengan keegoisan Sandi.
"Aku tau, tak seharusnya aku bersikap seperti ini sama kamu. Dulu sebelum kamu menerimaku, kamu sudah jujur dengan apa yang terjadi padamu di masa lalu, dan aku memaksamu untuk percaya padaku, jika aku akan menerima semua kekurangan dan masa lalu kamu. Tapi justru aku mengingkari semua sendiri dan memperlakukan kamu sebagai penjahat dengan kesalahan yang sudah aku ketahui sebelumnya. Maafkan keegoisanku, aku ingin memperbaiki hubungan ini, kasih aku kesempatan untuk merubah keadaan rumah tangga kita." Sandi mengeluarkan semua yang ada dipikirannya, berharap Clara mau memaafkan dirinya. Dan kembali merajut rumah tangga yang seharusnya.
Clara masih terdiam, tidak tau harus bicara apa. Bibirnya terasa Kelu untuk berucap. Milih diam sambil menenangkan kembali hatinya yang berantakan.
"Clara!
Tolong lihat aku, aku ingin kita memperbaiki semua ini sama sama. Pandu sudah bahagia dengan Risma. Mereka sudah saling memaafkan dan hanya fokus menatap masa depan.
Dan aku ingin, kita pun juga begitu.
Mari kita berjalan ke depan tanpa harus takut dengan bayangan masa lalu. Aku janji, akan jadi suami yang baik dan ayah yang luar biasa buat Dania. Percayalah!" sekali lagi Sandi berusaha membuat Clara mau memaafkan kesalahannya.
Clara mengangkat wajahnya yang sudah basah dengan air mata. Berusaha untuk menerima kesalahan suaminya dan belajar memaafkan kekhilafan Sandi. Berharap rumah tangganya berjalan seperti apa yang di impikannya.
"Maafkan aku!" sekali lagi Sandi memohon maaf dan mengusap lembut wajah basah sang istri.
Bu Desmita tersenyum melihat pemandangan indah di depannya, sejak tadi Bu Desmita mengintip perbincangan anak dan menantunya dalam menyelesaikan masalah.
Berharap mereka bisa bijak dan dewasa dalam menghadapi ujian rumah tangganya.
Setelah melihat anak menantunya kembali baik baik saja, Bu Desmita kembali ke dapur untuk menyiapkan makanan, karena Clara juga belum terisi apapun sejak kedatangannya. Dan yakin jika Sandi pun juga sama, belum makan karena langsung mencari Clara.
Dengan perasaan lega, Bu Desmita memasak masakan yang mudah dan cepat.
Mengambil urusan daging dan memasak rawon yang ditemani dengan sambal dan toge.
Tak butuh waktu lama, masakan sudah tersaji di atas meja beserta minuman hangatnya.
"Ibu sudah masak rawon, ayo makan dulu.
Kalian pasti lapar kan?
Kita makan sama sama!" Bu Desmita menemui anak menantunya dan mengajaknya makan bersama. Langsung di iyakan Sandi maupun Clara dengan perasaan yang sama sama lebih baik dari sebelumnya.
"Rawonnya enak banget, Bu!
Seperti buatan Clara dirumah!" Sandi memuji masakan ibunya dan melirik ke arah istrinya yang terkejut mendengar ucapannya, Clara tidak menyangka kalau Sandi tau jika dirinyalah yang sudah memasak tiap hari untuk suaminya.
"Clara belajar memasak dari ibu, jadi bumbu yang dibuat akan sama seperti yang ibu buat. Makanya rasanya sama, apa lagi jika yang memasak seorang istri, tentu akan jauh lebih enak karena dibuat dari dalam hatinya untuk menyenangkan lidah suaminya. Dan tugas suami memakannya dan menghargai usaha istri. Dengan begitu, hubungan antara suami istri akan terjalin dengan baik dan tumbuh perasaan sayang yang semakin dalam. Ibu harap kalian bisa seperti itu. Saling menghargai pasangan kita." sahut Bu Desmita memberi petuah dan menatap satu persatu anak menantunya dengan senyuman tulusnya.
Clara dan Sandi saking melempar tatap kaku saling tersenyum. Sandi meraih tangan istrinya, digenggamnya erat di bawah meja agar tak terlihat ibu mertuanya. Masih canggung ingin bermesraan di depan mertua.
"Terimakasih Bu, ibu sudah mengingatkan kamu. Insyaallah, kita akan terus ingat nasehat dari ibu. Doakan kami terus Bu, doa ibu sangat berarti untuk kami!" balas Sandi dengan tatapan kagum pada ibu mertuanya yang selalu bersikap lembut dan bijak.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Kasih sayang yang salah
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
Happy ending ❤️