
"Wah enak banget, siapa yang masak ini?
Pasti kamu ya, Ma? Makasih ya, masakan kamu memang gak ada tandingnya, selalu enak dan selalu buat aku ketagihan." Pandu memuji istrinya di depan mertua dan anaknya, Risma langsung merona dengan senyum bahagia, Bu Fatma pun ikut bahagia melihat keharmonisan rumah tangga sang anak, tak lagi khawatir dan merasakan cemas seperti dulu. Kini di matanya, Pandu adalah sosok suami yang bertanggung jawab dan mencintai istrinya. Doanya sebagai ibu selalu melangit untuk kebahagiaan dan kebaikan anak anaknya.
Setelah selesai makan, Pandu menghabiskan waktunya menemani kedua anaknya bermain di halaman belakang. Risma duduk di kursi teras belakang memperhatikan kedekatan ayah dan anak yang tengah asik bermain sepeda.
Tawa dan wajah ceria kedua anaknya adalah sumber bahagia dan ketenangan hatinya, hingga mampu melawan rasa sakitnya dan membuka pintu maaf atas kesalahan yang suaminya pernah perbuat.
"Haus, Ma!" teriak Cinta dengan terus memutar dengan sepedanya, mengejar papa dan adiknya. Risma tersenyum dan mengambilkan air es dari botol yang tadi sudah ia bawa dari dapur, menuangkannya dalam gelas dan menyerahkan pada putrinya yang diminta untuk turun dulu dari sepedanya.
"Turun dulu, mbak! ayo sini minum dulu!" teriak Risma dengan lembut, Cinta langsung turun dan di ikuti oleh Galang juga Pandu yang juga haus dan ikut meneguk air es yang ada di atas meja.
"Istirahat dulu ya, nak! papa capek!" Pandu menjatuhkan tubuhnya di lantai dan meluruskan kakinya yang diikuti oleh Galang dan Cinta. " Iya, Pa! cinta juga sudah capek, habis ini mau mandi dulu!" sahut cinta dengan mengipas ngipaskan tangannya. "Galang juga! main main air saja habis ini!" sahut Galang yang tak mau kalah dari kakaknya.
"Boleh! Tapi keringatnya biar ilang dulu ya! istirahat dulu!" sahut Pandu menatap kedua anaknya bergantian.
"Ini makan pisang gorengnya dulu, sudah dibuatkan nenek sama mbk Romlah. Ada pisang goreng dan mendoan." tiba tiba Bu Fatma muncul dengan membawa pisang goreng dan mendoan yang masih panas ke dalam piring. Diletakkannya di atas meja, dan membuat Cinta juga Galang berteriak senang.
"Makasih nenek!" Cinta mencium pipi neneknya manja dan di ikuti oleh Galang yang langsung melonjak senang, karena pisang goreng selalu jadi makanan favorit keluarga Risma.
"Iya sayang, sama sama." balas Bu Fatma lembut dan mengusap pucuk kepala Cinta dan Galang bergantian.
"Makasih Bu, ini enak sekali.!" Pandu ikut berkomentar dan menyomot pisang goreng di piring dan memakannya dengan begitu lahap, membuat Risma tertawa.
Kebersamaan sederhana adalah kunci dari keharmonisan sebuah keluarga, sesibuk apapun seorang suami, jika mampu meluangkan waktunya untuk menemani anak istrinya meskipun hanya beberapa jam saja, akan mampu mengeratkan perasaan cinta dan kasih sayangnya pada keluarga. Memahami hati sang istri dan perduli dengan apa yang anak anak butuhkan. Cintanya dan kasih sayangnya. Sehingga godaan yang datang dari luar akan begitu mudah ditangkis, karena hatinya sudah mendapatkan rasa nyaman bersama keluarganya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Setelah membersihkan diri, Pandu ganti menikmati waktu berdua dengan istrinya di dalam kamar. Sedangkan kedua anaknya tengah menonton televisi di ruang keluarga yang ditemani neneknya.
"Ma! Sehat?
Gimana kabarnya calon Dede, sehat juga kan?" Pandu meraih tubuh istrinya dan mengecupnya mesra, melepaskan kerudung yang menempel di kepala sang istri, menggerai rambutnya dan menghirup wanginya.
"Alhamdulillah sehat, doain ya, semoga baik baik saja dengan keterbatasanku ini. Aku janji, akan berusaha semampuku untuk menjaga buah cinta kita!" sahut Risma yang memejamkan matanya, menikmati sentuhan lembut sang suami.
"Aku rindu! Apa aman?" sambung Pandu yang sudah tak lagi bisa menahan keinginannya untuk mengambil haknya pada sang istri tercinta.
"Insyaallah, Aman!" sahut Risma dengan senyuman manis.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
"Makasih sayang, Kamu memang luar biasa!" Pandu memuji istri nya dengan begitu memuja, Risma tersenyum dan meletakkan kepalanya di atas dada bidang sang suami.
"Mas! kemarin kamu sempat bilang mau ganti nomor ponsel, ada apa?" Risma teringat dengan ucapan suaminya yang bilang akan mengganti nomor ponsel yang sudah bertahun tahun dia pake.
"Ada sesuatu yang membuat aku sangat tidak nyaman, Ma! Aku akan ceritakan, tapi Janji, kamu nya gak akan marah dan aku harap kamu gak salah paham." sambung Pandu dengan menatap istrinya lalu mengecup pucuk kepalanya dengan begitu lembut.
"Tergantung." sahut Risma singkat dan membuat Pandu gelisah.
"Iya, iya! aku akan dengerin dan mencoba untuk paham. Yang penting kamu nya jujur, itu poinnya, Pa!" kembali Risma melanjutkan bicaranya, karena tau suaminya cemas dengan jawabannya yang singkat.
Sebelum memulai cerita, Pandu menghembuskan nafasnya dalam. Tangannya mengusap lembut kepala sang istri.
"Kemarin pas papa ada acara makan bareng temen temen di salah satu restoran di Bandung, secara gak sengaja ketemu sama teman sewaktu masih SD dulu. Namanya Erna, dulu pas masih SD dia itu gendut dan pendiam. Makanya kemarin pas ketemu kaget dan gak mengenali.
Tapi Erna kenal papa dan menyapa papa, sekarang katanya dia jadi model. Memang berubah sih, dulu yang gendut, sekarang terlihat seksi dan cantik." Pandu bercerita dari awal tanpa ada yang ia tutupi, namun saat mendengar kata cantik dan seksi membuat Risma langsung melepaskan diri dari pelukannya dan berganti dengan posisi membelakangi.
"Ya ampun, Ma! ada apa, kok aku di punggungi gitu? belum selesai loh ceritanya." Pandu bingung dengan sikap Risma yang tiba tiba berubah.
"Terus saja puji teman kamu itu, kamu suka kan dia seksi dan cantik, bilang saja, Pa!" sahut Risma dengan suaranya yang jutek.
"Ya Alloh, Ma! sumpah, papa gak ada niat apapun dan juga gak tertarik sama dia sedikitpun. Istri papa saja sudah sangat cantik dan jauh lebih seksi, ayolah Ma, kan papa cerita, biar gak ada salah paham nantinya." balas Pandu yang gemas dengan sikap Risma yang cemburu.
Risma kembali memutar tubuhnya menghadap ke arah Pandu yang menyambutnya dengan senyuman dan langsung mengecup keningnya.
"Dengarkan dulu ya! aku gak mau kemunculan dia membawa salah paham dalam hubungan kita." kembali Pandu menegaskan dan membuat Risma mengangguk, berusaha untuk mengerti dan mendengarkan penuturan suaminya.
"Aku sudah menolaknya saat dia meminta nomor ponselku dan meninggalkan dia begitu saja di restoran.
Tapi sepertinya dia memang cerdik, dia meminta salah satu teman untuk membuat grup, dan nomorku pun dimasukkan. Benar saja, setelah itu dia terus menghubungiku, sampai sampai aku memblokir nomornya, tapi dia selalu berganti nomor baru lagi dan begitu seterusnya.
Akupun juga sudah langsung keluar dari grup, tapi nomor kan terlanjur sudah dia tau, jadi cara satu satunya untuk menghindarinya, ya itu, buang nomor dan ganti dengan nomor baru. Jujur, aku gak mau menyakiti kamu lagi, Ma! Cukup aku melakukan kesalahan yang membuatmu menderita, dan itu tidak akan lagi aku ulangi. Maafin aku ya!" Pandu bercerita tanpa mengurangi dan menambahkannya. Berharap dengan kejujurannya ini membuat hubungan rumah tangganya bebas dari kesalahpahaman, ketika Erna nekad menemuinya di Madiun, karena Pandu tau bagaimana ambisiusnya Erna terhadap dirinya.
"Makasih ya, makasih sudah jujur dan menjaga hati buat kami. Semoga dia tidak lagi menganggu kamu, Pa! Karena aku tidak akan tinggal diam!" sahut Risma mengeluarkan isi hatinya.
"Bebas! Istriku bebas melakukan apapun pada orang yang ingin menganggu suaminya ini. Karena aku tau, istriku ini sangat cerdik dan punya insting kuat kalau sudah berurusan dengan hati. Semoga kita bisa terus sama sama bergandengan dan saling menjaga cinta yang ada, sampai nanti kita tua." balas Pandu dengan kerlingan nakalnya. Risma pun paham dengan maksud suaminya. Merekapun kembali mengulang pendakian dengan saling menumpahkan rasa yang sama sama memuja satu dengan yang lain.