
"Siap papa, tenang saja, Galang akan jadi jagoan yang hebat kayak papa. Besok kita balapan, Galang pasti menang kok!" sahut Galang dengan lancarnya, Risma mengulum senyum dengan jawaban anak laki lakinya yang memang punya sifat cuek, mirip papanya.
"Papa ketemu lawannya sekarang." celetuk Risma sambil meringis dan Pandu hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Clara hanya diam di kamar, hanya bisa berbaring, tidak boleh melakukan aktifitas apapun.
Kandungannya sangat lemah dan bermasalah.
Air matanya jatuh, hatinya selalu merasa bersalah dan pikirannya selalu teringat dengan sikapnya dulu, dimana ia begitu angkuh ingin menguasai Pandu dari istri pertamanya.
"Risma, maafin aku!
Mungkin ini hukuman atas apa yang sudah aku lakukan padamu dulu.
Sungguh aku menyesal, aku benar benar menyesal, Ris!" lirih Clara yang sudah terisak dengan bayangan masa lalu.
Bu Desmita yang baru saja masuk ke dalam kamarnya Clara, kaget saat mendapati sang anak yang tengah terisak.
Bu Desmita dengan tergesa-gesa memasuki kamar Clara dan meletakkan mangkok yang berisi bubur untuk makan siang anaknya.
"Kenapa kamu nangis begini, Ra?
Ada apa? Cerita sama ibu, nduk?"
Bu Desmita menatap lekat ke arah anaknya, cemas kalau kesehatan Clara semakin menurun dan berakibat fatal untuk janin di dalam kandungan nya.
"Apa yang kamu pikirkan, iling nduk!
Ingat calon anakmu, kamu harus sehat, kamu harus kuat. Jangan terlalu banyak pikiran apalagi stres." Bu Desmita memeluk Clara dengan lembut, mengusap rambut nya dengan penuh kasih sayang seorang ibu.
"Bu!" Lirih Clara dengan nafas tersengal, air mata semakin deras mengalir, membuat Bu Desmita kian panik dengan sikap putrinya.
"Bu! apa semua ini karena dosaku sama Risma?
Aku belum mendatanginya untuk meminta maaf, sehingga ujian demi ujian ini terasa begitu berat. Apa benar begitu, Bu?" lirih Clara dengan air mata yang belum berhenti mengalir.
Bu Desmita tersentak, dan juga mulai memikirkan ucapan anak perempuannya, dan hatinya juga ikut membenarkan apa yang Clara katakan.
"Bisa saja begitu, nduk!
Cobalah, bicarakan sama Suamimu.
Gimana baiknya, memang seharusnya kamu mendatangi Risma dan langsung meminta maaf padanya, agar sakit hati di masa lalu bisa benar benar termaafkan. Cobalah bicarakan dengan Sandi!" sahut Bu Desmita bijak, dan menyarankan anaknya untuk menemui dan meminta maaf kepada Risma. Mungkin dengan begitu, Clara bisa kembali menjalani hidup tanpa harus dibayang Bayangi rasa bersalah dan dosa di masa lalu.
"Aku akan bicara dengan mas Sandi nanti, Bu!
Setelah mas sandi pulang dari kantor.
Semoga mas Sandi juga mau mengerti dan mengabulkan keinginan untuk bertemu Risma." lirih Clara sendu, sambil menahan isakan, dadanya terasah begitu sesak.
"Insyaallah, Sandi pasti mau mengerti dan mengijinkan, apa lagi ini menyangkut masa depan dan kebahagiaan kalian nantinya.
Sekarang makan dulu buburnya. Mumpung masih hangat!" balas Bu Desmita lembut dengan tatapan iba pada putrinya yang selalu merasa tertekan dengan kesalahan yang dibuat di masa lalunya.
"Clara gak enak makan, Bu! rasanya mual!" sahut Clara yang terlihat sangat lemah dan pucat.
"Kamu harus isi perutmu, Ingat ada nyawa yang kini di dalam sana. Enak gak enak, kamu harus paksa makan, demi kesehatan calon bayimu." Bu Desmita berusaha membuat Clara kuat dan legowo menjalani kehamilannya yang benar benar menyiksanya.
Sedikit demi sedikit Clara memasukkan bubur ke dalam mulutnya, meskipun rasanya ingin muntah, tapi Clara bertahan, dan terus memaksa dirinya untuk makan, demi bayi yang selalu dia nantikan kelahirannya di dunia, dan agar bisa melihat senyum bahagia sang suami yang selama ini terus menekan rasa kecewa, karena Clara selalu keguguran saat mengandung benihnya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Pukul tujuh malam, Sandi baru sampai rumah.
Wajah lelah tersirat dari sorot matanya yang kuyu.
"Baru pulang, mas?" Clara menatap lekat wajah suaminya yang lelah, perasaan bersalah karena tidak bisa melayaninya seperti dulu. Yang selalu menyambutnya dan menyiapkan segala kebutuhannya.
"Iya sayang!
Masih mual?" sahut Sandi yang berjalan mendekati sang istri, mengecupnya lembut. Berusaha menunjukkan kalau dirinya baik baik saja.
"Mas, maafin aku!
Aku belum bisa melayani dengan baik!" lirih Clara sambil menunduk dalam, tersiksa dengan rasa bersalah karena tidak mampu menjadi istri dan ibu yang baik.
"Sudahlah! Aku kan sudah bilang, jangan mikir macam macam dulu. Fokuslah dengan kehamilan kamu. Aku ingin kamu dan calon bayi kita sehat dan baik baik saja. Tak masalah kalau harus aku menyiapkan semua sendiri. Bagiku kesehatan dan keselamatan kalian lebih penting saat ini." sahut Sandi tenang, bersikap lah lembut dan berusaha jadi suami yang baik, agar Clara tidak semakin tertekan dengan keadaannya yang memang rentan keguguran.
"Makasih, Mas!
Aku janji, akan jaga baik baik anak kita! Bismillah!" balas Clara menatap dalam manik mata suaminya. Terlihat begitu banyak be an yang dipikul suaminya.
"Aku mandi dulu ya!" Sandi mengusap kepala Clara lembut, dan beranjak untuk pergi ke kamar mandi, membersihkan diri agar kembali merasa fresh, setelah seharian sibuk mengurus pekerjaan.
Saat keluar dari kamar mandi, Sandi melihat Clara yang tengah termenung, dengan posisi menyender pada bahu amben.
Sandi paham, seperti apa hati sang istri, pasti sama sakitnya dengan dirinya saat ini.
"Jangan ngelamun gitu, sudah minum obatnya?" Sandi tersenyum dan mendekati istrinya, duduk disamping sang istri dan membawanya ke dalam dekapan.
"Ada apa?
Sepertinya ada yang begitu mengganggu pikiran kamu! Katakan, barangkali aku bisa membantunya!" Sandi mendekatkan dirinya untuk memahami perasaan sang istri agar tidak semakin tertekan dengan pikiran pikiran buruknya.
"Mas Sandi gak makan?" sahut Clara ganti bertanya tanpa menjawab pertanyaan suaminya.
"Tadi sudah makan diluar, sekalian meeting. Sudah kenyang!" sahut Sandi jujur dan mengusap lengan istrinya berulangkali.
"Mas!" Clara mendongakkan kepalanya, menatap suaminya dengan perasaan campur aduk. Berusaha memberanikan diri, untuk mengatakan apa yang ada di pikirannya saat ini.
"Iya, kenapa?
Katakan apa yang jadi beban pikiran kamu, Clara!
Aku gak mau, kamu semakin tertekan dengan pikiran pikiran buruk kamu itu!" sahut Sandi dengan tatapan dalam ke arah sang istri yang tetap bergeming dari menatap suaminya.
"Aku ingin bertemu dengan Risma, Mas!" Lirih Clara dengan menahan isakan. Sandi yang terkejut dengan apa yang diucapkan Clara, langsung mengerutkan keningnya.
"Kamu yakin, Ra?"
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Kasih sayang yang salah
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
Happy ending ❤️