
"Maaf ya, aku harus pergi bekerja lagi. Terimakasih sudah ingat sama aku." balas Pandu tetap bersikap ramah namun biasa saja.
"Aku kan minta nomor telepon, kok gak diberi sih!" Erna kesal dan semakin membuat Pandu tidak nyaman.
"Maaf, saya lupa nomor watshap pribadi saya. yang sering saya bawa ini nomor kusus untuk rejan kerja saja, maaf sekali lagi." sahut Pandu menjelaskan.
"Sombong banget kamu sekarang, Pandu!
Aku sayang sama kamu, aku mau kok jadi yang kedua?" balas Erna masih dengan gaya genitnya.
"Maaf, aku hanya ingin menjaga hati istriku. Maaf ya!" sahut Pandu tegas dan tersenyum tipis ke arah Erna yang terlihat mematung.
Erna tak mau menyerah, bahkan semakin nekad mendekat ke arah Pandu dan membuat teman teman Pandu saling melempar tatap.
"Aku tidak biasa di tolak. Aku tak percaya, kamu bisa menolak wanita secantik aku. Banyak laki laki yang bertekuk lutut demi meraih cintaku. Tapi kenapa kamu tidak sedikitpun mau melirikku, Pandu?
Baiklah, tak perlu kamu menikahi ku, cukup kamu jadikan aku selingkuhan kamu, akupun rela. Sepertinya jauh lebih menyenangkan, karena selingkuhan akan jauh lebih dicintai, benar bukan?" Erna mendekatkan wajahnya pada Pandu, dan Pandu nampak mengepalkan kedua tangannya menahan ledakan emosi di dadanya akan ulah Erna yang dianggapnya sudah melebihi batasannya sebagai seorang wanita. Sebelum membalas ucapan Erna, Pandu memejamkan mata dan menarik nafasnya kasar, mengatur nafasnya yang mulai berdetak tidak normal karena kesal.
"Cukup! Tolong jaga batasan kamu, Er!
Aku tidak nyaman bahkan tidak suka dengan sikap kamu ini, jangan merendahkan dirimu dengan mengejar laki laki yang bahkan hatinya sudah di penuhi wajah istri dan anak anaknya.
Aku tidak perduli seberapa cantiknya kamu, bagiku, istriku dirumah jauh lebih cantik dari wanita manapun. Aku sangat mencintai istriku, jadi tolong jangan rendahkan dirimu dengan bersikap seperti ini. Permisi!"
Pandu memutar tubuhnya dan segera meninggalkan tempat yang membuat dadanya memanas, menahan rasa kesal karena sikap tak tau malunya Erna. Langkah tegapnya yang di ikuti oleh ketiga temannya, membuat Erna mematung melihat kepergian sang pujaan.
Tak biasa di tolak dan tak mau kalah dengan keinginannya. Erna masih tak ingin menyerah dengan usahanya menaklukkan hati Pandu dengan caranya.
"Seberapa cantiknya istri kamu itu, Pandu?
Sampai sampai kamu menolak ku seperti ini.
Lihat saja, kesetiaan dan cinta kamu itu, pasti akan aku buat luntur oleh pesonaku. Erna tak akan menyerah, apa lagi dengan laki laki dingin dan tampan seperti kamu!" Erna tersenyum miring, dan mulai menghubungi sahabat dekatnya saat di SD dulu.
"Feb! bikin grup buat teman teman kita SD yuk, kamu punya kontak teman teman kita kan?
Kita bikin acara reunian." Erna mengirim pesan di aplikasi watshap nya pada Febri teman akrabnya dulu sampai sekarang.
"Wah ide bagus itu.
Tapi tidak semua aku punya kontaknya, hanya beberapa saja yang punya!
Tapi gak papa, nanti kan pasti ada yang lain tau, dan bisa saling masih informasi." balas Febri yang langsung merespon chat dari Erna dengan sumringah.
"Oke, sip!
Laksanakan, Feb.
Kumpulin saja teman teman kita, dan obrolin jalan kita akan reuni, soal biaya dan tempat biar aku yang nanggung nanti!" balas Erna semangat, yakin dengan begini, pasti akan bisa mendapat nomor Pandu dan mencari informasi tentang Pandu Aditama yang selalu jadi ambisinya dari dulu.
"Oke, siap cantik!" balas Febri dan langsung membuat grup untuk teman teman SD nya dengan memasukkan beberapa kontak yang dia tau, yang lainnya bisa menyusul dari informasi teman teman yang lainnya.
Baru di buka grup sudah riuh dengan saling sapa dan bertanya kabar satu dengan yang lain, Erna hanya diam memantau, menunggu ada yang memberikan nomor Pandu dan memasukkan nya di grup.
"Wah, kayaknya ada model terkenal nih di grup ini!" tulis Arip, salah satu teman SD nya yang kini menjadi salah satu anggota polres di Surabaya.
"Iya, betul. Ada Erna ya?" sahut Hari, yang kini juga menjadi anggota polisi yang bertugas di polres Kediri.
"Er! keluar dong, tuh teman teman pada nanyain kamu!" balas Febri dengan emoticon love nya.
Erna tersenyum dengan angkuh dan mulai mengetik mengirim pesan balasan untuk teman temannya.
"Hay semua, apa kabar?
Iya, ini Arip sama hari ya?
Apa kabarnya kalian?" tulis Erna di obrolan grup dan disambut riuh oleh teman temannya yang lain.
"Oh iya, disini ada yang punya kontak teman teman yang lain gak?
Kalau ada list donk, biar aku masukin ke grup.
Biar enak nentuin jadwal buat reuni." ketik Febri yang ikut menimpali obrolan, dan disambut baik oleh teman temannya. Banyak yang memasukkan nomor nomor yang mereka tau, salah satunya nomor Pandu yang dikirim arip di grup.
"Itu, nomor Pandu Aditama kah, Rip?" tanya Febri memastikan karena Febri memang sudah tau rencana Erna menyuruhnya untuk membuat grup ini. Mereka sudah mengobrol dan membuat rencana lewat telepon sebelumnya.
"Yupz! tepat sekali, nona!" balas Arip yang membuat Febri seketika merona tanpa ada yang bisa melihat.
Terimakasih teman teman!" ketik Febri senang, karena nomor Pandu sudah di dapatkan, itu artinya dia akan menerima hadiah tas branded dari Erna sahabatnya sesuai perjanjian.
Obrolan masih berlanjut di dalam grup, saling sahut dan menimpali begitu akrab satu dengan yang lain.
Pandu yang belum menyadari kalau nomornya sudah di masukkan grup dengan teman temannya SD, masih sibuk fokus dengan rapatnya bersama anggotanya yang lain, bahkan tidak sempat membuka ponselnya yang dari tadi terus bergetar tanpa ada suara.
Erna tersenyum penuh kemenangan, ternyata sangat mudah untuk mencari informasi tentang Pandu. Dengan senang hati, Arip mengatakan apa yang dia tau soal Pandu pada Erna yang pura pura menelpon bertanya akrab seputar anak anak yang lain juga.
"Kamu memang pantas untuk di kejar, Pandu!
Tampan, mapan, dan pasti luar biasa. Lihat saja, aku akan mencari cara agar bisa ke Madiun dalam hal pekerjaan, dan menemui kamu secara terhormat agar kamu tak lagi memandang remeh usahaku untuk mendapatkan kamu." Erna berbicara sendiri dengan pikiran liciknya dalam menyusun rencana untuk mendekati Pandu sesuai keinginannya. Tak perduli dan bahkan tak mau tau soal Pandu yang sudah memiliki istri dan anak.
Erna hanya ingin memuaskan dirinya sendiri untuk meraih apa yang ingin di genggamannya tanpa ada penolakan.
Seperti penjelajah waktu yg disedot lorong masa depan..
Menghantarkan pada suatu masa..
Tanpa tau bagaimana kembali..
Kadang menjadi tamu
kadang menjadi tuan rumah
Ada kenangan berkesan tentang yang pernah datang, ditemui dan pergi..
Ada pertemuan indah yang takkan mampu terlerai masa..
Namun lorong waktu terus menukar cerita..
Masa lalu itu takkan luput dari rekaman layar kenangan..
Sepanjang perjalanan dia akan tetap menyala dan doa tetap mengiringinya..
dan terimakasih yang mendalam atas kehadiran dan penerimaan..
Ada ribuan enigma yang belum terpecahkan, tapi kepergian demi sesuatu yang pasti harus terjadi..
Kadang padi harus berpisah dengan sawah demi menjadi beras..
dan sawah harus kosong demi benih baru.
Demikian juga dengan perpisahan yang mungkin berguna untuk pelengkap hidup.
Membungkus hati agar tak basah mata..
Mengubur rindu agar tak menghantui..
Lalu pergi dengan damai tanpa duka..
Namun bukan tak mungkin jalan waktu akan mempertemukan di atas satu titik, dalam duka atau pun suka... entahlah..
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Pembalasan Istri Yang Terhina (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
Happy ending ❤️🔥