Suami Satu Malam

Suami Satu Malam
Couple BUCIN


Suami Satu Malam 98


Oleh Sept


Rate 18 +


"Ray ... kau dengar aku? Jangan tutup telponnya. Sungguh aku tidak mau menganggu. Tapi aku tidak tahu harus minta tolong pada siapa lagi. Aku pikir nomormu sudah ganti, ternyata masih sama. Sekali lagi maaf, Ray ... aku sudah tidak bisa berpikir lagi harus ke mana minta tolong."


Jean tetap diam, ia menempelkan benda pipi di telinganya tanpa berkata-kata. Sudut matanya melirik tajam para Rayyan yang tidak fokus pada kemudinya. Rayyan jelas paham. Bahwa Jean betul-betul marah saat ini.


"Ray ... Rayyan... kamu dengar aku kan?"


Seketika Jean mengaktifkan mode loudspeaker.


"Ray, tolongin aku!"


Rayyan langsung menepi, tapi Jean langsung menggeleng pelan. Seolah isyarat mobil harus tetap jalan. Bagai tersandera, Rayyan nurut apa saja mau Jeadana.


"Ray ...!" panggil Eriska di telpon.


"Maaf, Ris. Aku lagi di jalan."


Jeandana langsung melotot. Namun, seketika perhatian keduanya terusik ketika suara Eriska yang tadi memelas berubah meninggi.


"NGAPAIN KAMU KE SINI? PERGI! PERGI!" tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut dan benda pecah.


PYAARRRR ...


Tut Tut Tut


Telpon akhirnya terputus


"Ray, putar balik! Ini tidak beres!" seru Jeandana tiba-tiba. Mendadak insting bodyguard Jean mencuat.


"Sayang, kita tidak boleh ikut campur."


"Nggak ... Ayo putar balik."


"Kamu tidak tahu bahaya apa yang nanti ngincar kamu. Aku gak mau ambil resiko dengan kamu dan baby kita."


"Raiii!"


Rayyan trauma, ia masih ingat adegan dramatis di saat malam pertamanya dulu. Di mana Elvira harus mendapat luka tusukan karena menyelamatkan Eriska. Kali ini ia tidak mau itu terulang dan korbannya adalah istri kesayangannya itu.


"Sorry, Jean. Kamu boleh minta apa aja. Tapi jangan yang ini. Aku nggak bisa taruhin keselamatan kalian."


Jean mengusap wajahnya dengan kasar, ia kemudian memegangi bahu Rayyan.


"Aku berbeda dengan Vira, aku Jean. Ayo, cepat putar balik!" ujar Jean tegas. Wanita itu kemudian merogoh tasnya.


Begitu mengeluarkan sebuah benda dari dalam sana, Rayyan hampir dibuat copot jantungnya.


"ASTAGA! Jean!!"


Chittttt


Rayyan mendadak menekan pedal gas, ia terkejut karena Jean selama ini membawa senjataa ke mana-mana. Wanita itu terlihat cuek saat memerikas peluruu yang ada dalam senjatanyaa itu.


"Jean apa yang kamu lakukan? Kenapa benda itu ada di dalam tasmu?"


"Ini selalu aku bawa ke mana-mana, Ray," jawab Jean santai.


"Jean! Kamu sedang hamil. Jangan macan-macam, sini! Berikan padaku!"


Jean menoleh, ditatapnya Rayyan lekat-lekat.


"Yakin bisa menggunakan alat ini?" tanya Jean seolah mencibir.


Kesal, Rayyan langsung meminta senjataa itu dengan paksa. Tapi ancaman Jean sama sekali membuatnya tidak berkutik.


"Putar balik, Ayo!!!" Jean mengarahkan ujung pistolll tepat ke papi burung.


"Jean! Ngawur kamu!" Rayyan terlihat langsung gusar.


Dan Jeandana tidak bisa menahan untuk tidak tersenyum.


"Ayolah sayang ... aku rasa mantan istrimu sedang mengalami kesulitan."


[Apa lidahnya kesleo ... sejak kapan dia bisa bilang sayang?]


"Coba katakan sekali lagi!?"


"Hah?"


"Katakan sekali lagi, nanti aku anter kemanapun kamu mau."


"Ish ...!"


"Ayo."


"Huufffh ... Ayo jalankan mobilnya, SAYANG!"


Mbremm ....


WUSHHHH ....


Rayyan meluncur balik ke rumah sakit dengan mata berbinar-binar. Tidak sia-sia selama ini ia memberikan tetapi ucapan sayang agar Jean mau mengatakannya juga.


***


"Sembunyikan benda itu, Jean."


"Hem!"


Mereka berdua kembali ke tempat di mana terakhir bertemu dengan Eriska. Lewat informasi dari suster, mereka tahu di mana Eriska berada. Eriska sedang menunggu putrinya yang dirawat di salah satu bangsal anak-anak.


"Aku rasa ini tempatnya!"


Jean akan memegang knop pintu, tapi Rayyan langsung menarik lengannya lembut. Sambil menggeleng ia bilang, "Jangan!"


KLEK


Akhirnya Rayyan yang membuka, ketika mereka melangkah masuk, Rayyan kaget karena Eriska sudah tersungkur di sudut ruangan. Sedangkan ranjang di kamar itu sudah kosong.


Jean langsung memasang sikap siaga, meski hamil ternyata ia masih sigap juga. Ia periksa seluruh ruangan. Kosong, hanya ada Eriska yang sepertinya sudah pingsan.


Rayyan yang semula ingin menenggok kondisi Eriska, seketika mundur. Ia berbalik dan menegang lengan Jean.


"Jangan berada di sini, ayo keluar!" Rayyan sudah mulai gelisah.


"Rai, singkirkan tanganmu. Kamu menghalangi aku!"


Rayyan sepertinya ketakutan sendiri. Tidak peduli pada ucapan Jeandana, ia langsung membopong tubuh istrinya keluar dari kamar tersebut.


Bayangan masa lalu mendadak muncul dalam benak Rayyan. Seketika ia membayangkan hal buruk akan menimpa istri dan calon anaknya. Tidak mau itu terjadi, ia bopong tubuh Jeandana hingga menjauh dari TKP.


"Raiiii ... turunkan aku!" teriak Jean yang kemudian menjadi pusat perhatian para tenaga medis di sana.


Setelah sampai agak jauh, dan melihat bangku taman, masih di dalam area rumah sakit. Rayyan akhirnya mendudukkan Jean di atas bangku taman tersebut.


"Serahkan pada polisi, aku tidak mau kamu terlibat."


"Raiiii ... kamu meragukan kemampuanku?"


Rayyan menggeleng.


"Aku percaya pada kemampuanmu, Jean. Tapi tidak dengan hatiku ...!" Rayyan mendekat, membuat tubuh keduanya begitu dekat.


"Aku bisa gila kalau terjadi hal buruk padamu," bisik Rayyan sambil mengusap lembut kepala Jeandana.


Jean menelan ludahnya sendiri.


[Apa kamu begitu mencemaskan aku, Ray? Dasar Playboy]


Jean tersenyum dalam pelukan Rayyan.


"Jean ...!"


"Ya ..."


"Jangan main senjataa lagi, ya?"


Jean langsung melepaskan diri. Ia mendongak menatap Rayyan.


"Lalu main apa?"


Keduanya malah saling terkekeh. Sama-sama kerasukan setann bucin. Setann Bucin Mesummm ....


Bersambung



Setelah mereka tamat .... ada gantinya lohh.... belum up. Masih nabung Bab ya. Doain lancar jaya ya mak-mak online kesayangan ....


Ig Sept_September2020


Terima kasih untuk supportnyaaaa ...