
Suami Satu Malam 48
Oleh Sept
Rate 18 +
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tapi Radika masih belum pulang. Elvira yang sedang hamil, ia mondar-mandir layaknya setrika. Berjalan ke sana ke mari, wajahnya terlihat gelisah karena Radika tanpa kabar.
Sejak tadi ia menghubungi pria tersebut. Namun, ponsel Radika tidak aktive. Hanya ada jawaban dari operator bahwa nomor yang ia hubungi sedang di luar jangkauan.
Hingga pukul tiga, Elvira yang baru bisa tidur setengah jam kembali terbangun karena gelisah. Wanita itu kemudian ke luar dari kamar. Ia terhenyak ketika Jean masih di depan kamarnya. Wanita itu duduk sambil memangku laptop.
"Jean .. Apa kau gila? Kenapa kau tidak tidur?" omel Elvira. Meski ia marah karena kejadian tadi, sebenarnya ia merasa tidak enak dengan bodyguard tersebut.
"Tidak, Nona. Terima kasih. Silahkan Nona Vira masuk kembali. Kami tidak akan membiarkan Nona ke luar ke mana-mana!"
Elvira baru sadar, tidak jauh dari sana seorang pria juga sedang duduk dan menatapnya.
[Ada apa ini? Mengapa banyak penjaga dikerahkan? Apa yang terjadi sebenarnya?]
Tidak mau penasaran sampai mati, Elvira pun akhirnya menarik tangan Jean. Membawa perempuan berbadan sangar itu masuk ke dalam kamar utama. Jean pun meletakkan laptop di atas kursi, kemudian ikut masuk karena ditarik paksa.
"Jean ... Katakan! Suamiku di mana? Aku yakin kamu tahu. Sekarang katakan padaku!" pinta Elvira.
"Maaf, Nona. Kami tidak tahu, sebaiknya Nona istirahat."
Jean pun berbalik, ia akan meninggalkan kamar yang identik dengan warna gold tersebut. Lemari yang sangat besar dengan banyak pintu dan handle dari emas 24 karat, ranjang king size dan sangat-sangat besar, furniture yang tidak biasa, dan banyak lagi barang-barang di dalam sana yang biasanya hanya dimiliki oleh kalangan milyader seperti Radika.
"Janan bohong padaku, Jean! Aku istrinya, kamu wajib menceritakan apapun yang kamu tahu tentang suamiku!" paksa Elvira.
"Maaf, Nona. Demi kebaikan Nona sendiri, sedikit lebih tahu, itu lebih baik!"
Kesal, Elvira mengambil bantal dan melempar tepat ke arah Jeandana. Sayang, wanita itu terlalu sigap, hingga hanya dengan satu tangan saja ia bisa mengangkat benda yang dilempat ke arahnya.
Semakin sebal, Elvira menjujukkan wajahnya yang kecewa. Karena ternyata Jean sama sekali tidak bisa diajak kongsi. Wanita itu tidak bisa dibujuk, dirayu dan diancam.
Andai Elvira tahu siapa Jean, bahkan saat langit runtuh pun, wanita itu tetep teguh. Bila perlu ia akan mengigit lidahnya untuk menjaga rahasia yang harus ia simpan. Sadis!
KLEK
Jean keluar dan mengunci pintu dari luar.
Tok ... tok ... tok ...
Kedua matanya langsung membulat sempurna, kakinya langsung melangkah mendekat ke arah pintu. Elvira dengan marah mengedor pintu kamarnya.
"Jean! Apa yang kau lakukan? Berani sekali kau mengunciku?" salak Elvira sangat marah.
Tidak kehabisan akal, karena Jean tidak mau mendengar. Elvira lantas mencari cela. Wanita itu hendak membuka jendela kamar. Namun, ia harus menelan pil pahit. Belum apa-apa ia harus tersenyum kecut. Pintu jendela kamarnya menjadi gelap dan terkunci otomatis dari dalam. Padahal tadi pagi tidak seperti itu.
Kini Elvira merasa benar-benar sudah dikurung dalam miniature istana milik Radika Dirgantara tersebut. Lelah mencari jalan keluar, akhirnya ia pun tertidur di sofa kamar.
***
"Nona ... bangun ... Nona harus makan!"
Suara Jean terdengar samar di telinga Elvira yang mengantuk berat. Sejak semalam ia terjaga, hanya tidur beberapa saat, kemudian bangun lagi dan tidur lagi. Begitulah seterusnya karena insomnianya kambuh.
"Kau mengunciku!" Elvira bangun tidur langsung menyalak. Sudah seperti peliharan Radika yang menyalak saat ketemu penjahat.
Elvira yang baru sadar tersebut, lantas duduk dengan mata melotot. Padahal baru bangun, tapi ia langsung emosional.
"Minum ini dulu, Nona. Setelah itu Nona bisa melanjutkan amarah Nona."
Jean mengulurkan dua butir obat pada istri bosnya tersebut.
PLAKKK
Elvira menepis tangan Jean, membuat benda kecil itu jatuh ke lantai.
"Apa yang kamu berikan padaku? Kau mau membunuhh anak-anakku?"
Jean menghela napas panjang, apa-apaan ibu hamil satu ini. Padahal yang ia beri itu adalah vitamin. Mengapa Elvira berpikir yang bukan-bukan pada dirinya?
"Nona! Ini adalah vitamin!"
Jean kemudian memberikan kemasan obat yang masih belum terbuka.
Kesal, Jean langsung membuka satu kemasan obat. Lalu ia memasukkan obat itu dalam mulutnya.
"Saya tidak mati, Nona. Silahkan minum, bila tidak Tuan besar akan marah. Tugas Saya adalah menjaga Nona."
Melihat usaha Jeandana untuk meyakinkan dirinya, akhirnya Elvira pun meminum obat tersebut.
"Terima kasih, Nona. Terima kasih atas kerja samanya."
Mendapat ucapan terima kasih hanya karena minum obat, Elvira langsung menekuk wajah. Ia lalu memasang wajah paling masam untuk bodyguardnya tersebut.
***
Tiga hari kemudian
"Nona! Tetap di sini! Jika Nona memaksa, kami bisa melakukan sesuatu yang tidak Nona sukai."
"Kau mengancamku, Jean?" sentak Elvira frustasi.
"Ini demi kebaikan, Nona."
"Kebaikan katamu? Sudah tiga hari suamiku tidak bisa dihubungi. Kamu suruh aku diam saja? Kau punya senjataa juga, Kan?? Pastiii!!! Tolong!! Cari suamiku ... ini perintah!"
"Nona, tenanglah!"
Jeandana kemudian memberikan obat lagi pada wanita tersebut. Namun, kali ini Elvira langsung mengambil benda itu kemudian membuangnya, lalu menginjakknya sampai hancur.
Jean hanya bisa memejamkan mata, sulit sekali membuat wanita itu tenang. Namun, ia tetap harus membujuk agar Elvira tetap bertahan di mansion tersebut. Karena itu adalah perintah.
Sedangkan Elvira, ketika melihat Jean lengah, dengan gesit ia keluar kamar melewati Jean. Elvira pikir ketika sudah melewati Jean, ia hanya akan menghadapi Richard. Ia salah, Karena Richard menatapnya dingin dengan beberapa ekor binatang yang selalu setia menjaga rumah itu.
Mereka semua menatap Elvira, sepertinya bila tali dilepasnya oleh Richard, mungkin binatang-binatang itu siap menerkam Elvira.
"Kau mau menyerangku, hemm?" tuduh Elvira.
Elvira sebenarnya takut, apalagi melihat gigi-gigi yang menyeringai itu. Mungkin tulangnya akan remuk dengan satu kali gigitan saja.
"Nona, silahkan masuk!" perintah Richard tegas.
[Sialll kau mengancamku! Tunggu nanti! Akan aku balas!]
Elvira berputar arah, ia kembali masuk kamar dengan marah. Sedangkan Jean, ia mengangguk pada Richard. Seolah berterima kasih atas tindakan cekatan rekan kerjanya itu. Mengurus Elvira saat sang pemilik mansion tidak ada, rupanya sangat menguras tenaga dan pikiran mereka.
Hari ke tujuh
Sudah seminggu Radika belum kembali, bahkan ponselnya pun masih tidak bisa dihubungi. Benci, marah dan khawatir. Ketika tanya penjaga, mereka pun tidak mau menjawab. Akhirnya Elvira hanya bisa menahan semuanya seorang diri. Sebab ia juga tidak diijinkan untuk meninggalkan mansion itu. Sempat kabur. Namun, selalu gagal karena sistem keamanan yang begitu ketat.
Bosan, khawatir dan kembali cemas, akhirnya Elvira mengetik banyak pesan untuk suaminya. Tidak peduli ponsel Radika belum aktive. Setidaknya ia butuh tempat sampah untuk mengeluarkan sesak di hatinya.
[Kamu mau membunuhkuu perlahan?]
[Jangan harap aku memaafkanmu saat kamu kembali!]
[Aku akan membuat anak-anak Kita membencimu, jika kamu tidak angkat telponku!]
[Kamu di mana? (Disertai emotions menangis)]
[Pria jahat!]
[Aku tidak akan memaafkan pria sepertimu]
[Hari ini adalah batas kesabaranku ... bila Mas Dika tidak kembali malam ini, aku akan kabur mencari RAYYAN]
Ting ... Ting ... Ting
Mata Elvira terbelalak, ketika melihat centang biru dalam layar ponselnya.
Drettt .... Drettt ....
Smartphone miliknya pun langsung bergetar, dengan dadaa yang sudah terasa sesak, Elvira kemudian mengeser simbol warna hijau.
"Pria brengsekkk!"
Bersambung
Ibu hamil kau bikin bucin Babang!!!