
Suami Satu Malam 66
Oleh Sept
Rate 18 +
"Vir, ayo pulang!" ajak Rayyan sembari memegang sebucket bunga.
Elvira bergeming, ia masih berdiri tegap menatap kosong pada ombak yang berkejaran.
"Vira! Anginnya terlalu kencang! Jika kau tidak peduli dengan dirimu, setidaknya pedulilah pada janin yang kau kandung!" Kali ini Rayyan bicara lebih tegas. Karena sudah dua jam lebih Elvira hanya berdiri di sana.
"Pulanglah! Aku bisa pulang sendiri," jawab Elvira tanpa menatap Rayyan.
Pria itu kemudian menghela napas panjang, melepaskan jas navi yang ia kenakan. Memakaikannya pada kakak iparnya itu.
"Aku tidak ingin kau sakit!"
"Terima kasih!" ujar Elvira dingin.
"Aku tunggu di dalam mobil, hanya setengah jam ... setelah ini kita pulang!"
Rayyan pun berbalik, pria itu menuju mobil. Meninggalkan Elvira yang masih mau menikmati rasa sepinya setelah Radika pergi. Sudah 2 bulan berlalu, hari ini Elvira pergi ke dermaga seorang diri.
Rayyan yang merasa sang kakak pernah menitipkan Elvira padanya bila terjadi hal buruk para sang kakak, ia pun menemani Elvira meski wanita itu tidak mau. Bahkan bersikap sangat dingin. Bukan karena ancaman Radika dua bulan lalu. Hanya saja, ia merasa tidak nyaman dekat dengan adik suaminya itu.
Elvira sudah mengunci hatinya rapat-rapat. Tidak akan membiarkan seorangpun masuk lagi. Biarlah, dia akan menuai seorang diri. Tanpa seseorang di sisi. Hanya berteman sepi dan sunyi.
Vira pikir, kesedihan cuma sampai di situ. Hatinya kembali dirundung dilema, ketika sebulan yang lalu ia ditemukan pingsan di kamarnya. Kalau bukan bi Surti yang curiga kenapa nyonya besarnya belum keluar, tidak akan ada yang tahu, Vira jatuh pingsan di samping ranjang.
Begitu ke dokter datang, dan memeriksa. Pria berjas itu menyarankan agar Vira pergi ke rumah sakit. Ada yang keras dalam perut wanita tersebut. Dokter itu curiga, jangan-jangan Elvira hamil.
Seperti tersambar petir berkali-kali, Elvira datang ke rumah sakit. Dan benar, kecurigaan dokter sangatlah benar. Karena Elvira sudah hamil 4 minggu. Langitnya kembali runtuh, Elvira sudah tidak mampu membayangkan bagaimana hidupnya nanti. Terlalu tragis dan mengsedih, hingga tidak ada air mata yang tumpah.
Hari itu, Elvira hanya diam saja. Tidak melakukan apapun. Sampai Rayyan ditelpon bi Surti. Karena khawatir kondisi Nyonya besarnya.
Rayyan shock, saat mengetahui Elvira hamil kembali. Apalagi kini Radika benar-benar sudah pergi.
[Mengapa nasibmu setragis ini, Elvira?]
***
Sudah dua bulan berlalu setelah kejadian naas di dermaga tempatnya berdiri kini. Elvira berdiri mematung seorang diri, sesekali mengusap perutnya.
"Mas ... aku datang, bersama anak kita."
Setelah sekian lama lupa cara menangis, kini dadanyaa tiba-tiba terasa amat sesak. Elvira merusak tubuhnya mukai bergetar. Ia menangis sejadi-jadinya. Berteriak kencang menolak takdir yang begitu kejam pada hidupnya.
[Apa aku mati saja, ya ... aku akan datang ke tempat di mana Mas pergi]
Perlahan, Elvira menuruni bebatuan terjal. Tanpa alas kaki ia melangkah, membiarkan kakinya merasakan karang-karang yang tajam. Tidak sakit, sama sekali tidak sebanding dengan rasa sakit karena kehilangan suami berkali-kali.
[Jika kamu tidak ada, untuk apa aku di dunia ini?]
[Aku seperti mayat hidup! Raga tanpa jiwa ... laut ... di sini dia pergi ... sekarang bawa aku menemuinya]
[Aku tidak mampu lagi bernapas, dadakuu selalu sesak saat mengingat kau pergi. Rasanya tidak ada bedanya ... aku hidup atau mati]
[Maafkan aku, maaf karena terlalu tidak bisa lagi bertahan. Maaf karena aku benar-benar lelah]
"VIRAAA!!!!!" reriak Rayyan.
Pria itu panik saat melihat Elvira sudah ada di dalam air laut yang dingin.
BYURRR
Wanita itu sudah pingsan saat Rayyan membopong tubuhnya. Rayyan panik, ia bergegas membawa Elvira ke sebuah rumah sakit yang ada di dekat sana.
Rumah sakit Medical Horizon
"Dokter! Selamatkan dia, Dokter!" seru Rayyan panik. Ia mengiba pada siapa saya yang berjas putih yang ia temui.
Mereka pun langsung membawa Elvira ke UGD. Wanita itu langsung ditangani.
Beberapa saat kemudian.
Dokter itu menepuk pundak Rayyan, kemudian tersenyum tipis. Dari raut wajah dokter tampan itu, sepertinya tidak ada masalah.
"Semua baik-baik saja," ucap dokter Bagaskara tersebut. Kemudian kembali menangani pasien yang lain.
Akhirnya Rayyan bisa bernapas lega, pria itu lalu duduk bersandar. Namun, matanya tidak sengaja menatap sosok wanita yang tidak asing.
"Jean!" gumam Rayyan.
Tanpa sengaja Jendana malah menoleh, kedua mata mereka pun akhirnya bertemu. Jean menundukkan wajah kemudian berjalan ke arah Rayyan.
"Kau ... kau masih hidup?" tanya Rayyan tidak percaya. Dari yang ia dengar Jendana mati bersama Radika.
"Bagaimana dengan Mas Dika? Bagaimana dengan kakakku?"
"Lalu apa yang kau lakukan di sini?"
Rayyan membrondong banyak pertanyaan, hingga Jeandana bingung menjawab yang mana.
"Aku di sini!" kata Radika dingin. Ia terlihat kesal pada adiknya itu.
"Mass ... Mas Dika?"
"Dasar ceroboh! Aku titip sebentar saja dia hampir mati!" cibir Radika.
BUGH
Rayyan langsung menyerang kakaknya. Ia memukuli Radika membabii buta.
"Brengsekkk kau!"
BUGH
Jean mau melerai, tapi Radika melambaikan tangan. Seolah membiarkan sang adik bebas memukuli dirinya.
"Pria brengsekkk!!!"
Setelah memukul, mengumpat, akhirnya Rayyan terduduk dengan lemas.
"Kau kakak paling brengsekkk!" maki Rayyan sepertinya belum puas. Tapi matanya yang mengkilat hitam, kini sudah memerah. Rayyan menangis, pria tampan itu menangis. Ia terharu, akhirnya kakaknya muncul. Ia juga hampir putus asa menghadapi Elvira yang seperti enggan untuk hidup tanpa Radika.
Radika kemudian menghampiri sang adik, meski hidungnya dibuat berdarah oleh Rayyan. Ia malah memeluk erat adiknya itu.
"Makasih, Ray! Terima kasih!" ucap Radika tulus.
Keduanya pun saling berpelukan, melepas emosi jiwa mereka masing-masing.
"Dia menunggumu, dia pasti menyesal ketika ingin mati hari ini!" Rayyan melepas pelukan sang kakak, kemudian menatap pintu ruangan di mana Elvira dirawat.
Radika mengangguk, ia juga menerima uluran tisu dari Jeandana. Mengusap bibirnya yang juga berdarah.
"Brengsekkk juga kau, Ray!" sindir Radika. Pria itu tersenyum tipis saat melempar bekas tisu yang sudah ternoda darah tersebut.
Rayyan ikut tersenyum getir, puas juga bisa memukul sang kakak, tanpa perlawanan. Sebab, bila Radika membalas. Sudah pasti ia yang langsung masuk rumah sakit. Rayyan aslinya lembek seperti jelly.
Karena sudah rindu berat, Radika pun meninggalkan Rayyan dan Jeandana di luar. Ia sendiri akan masuk dan menghukum Elvira, berani sekali mau mati tanpa ijin!
KLEK
Bersambung
Selamat beraktifitas, selamat rebahan, selamat apa saja! Heheheh
Yuk kenalan sama SEPT, yang udah kenal skip aja hihihih
Fb : Sept September
IG : Sept_September2020
Awas iklan