
Suami Satu Malam 51
Oleh Sept
Rate 18 +
"Seret dia!" titah Morgan sembari kakinya menendang tubuh Radika.
Darah segar mengalir perlahan membasahi lantai, sebuah peluruu sudah bersarang dalam tubuh Radika yang saat ini tengah terkapar tak berdaya. Apa ini adalah akhir dari pria yang pernah berlagak mirip Yoyo apa Cecep tersebut?
***
Di belahan bumi yang lain.
Ketika Radika ada di titik antara hidup dan mati, Elvira justru mulai terbangun. Ia sudah tidur di kamarnya sendiri. Begitu tersadar dan membuka mata, ia langsung bergegas turun dari atas ranjang.
"Tolong, Nona. Tetap di tempat!" seru Jeandana yang langsung mendekat. Ia menatap tajam, sebuah peringatan keras yang harus Elvira patuhi. Padahal selama ini, Jean tidak akan berani menatap tajam istri bosnya tersebut.
Elvira tidak peduli, ia menepis tangan Jeandana yang berniat menghalangi jalan. Dengan gusar Jean keluar kamar. Namun, langkahnya langsung terhenti. Kakinya gemetar saat melihat sosok mayat bersimbah darah di ruang tengah.
Tv hancur, aquarium pun sama. Semua ikan-ikannya terkapar mati. Para Arwana itu harus menjadi korban penyerangan yang mendadak dan jadi arwah.
Sedangkan Richard, pria itu sedang diobati, lengannya terluka. Sepertinya terkena tembakan.
Elvira dengan perasaan yang campur aduk memindai seluruh isi ruangan. Ia rasa sudah pingsan berjam-jam, hingga melewatkan pertempuran yang terjadi.
"Siapa sebenarnya kalian?" tanya Elvira dengan bibir bergetar.
"Nonaaa!" teriak Jeandana ketika melihat seseorang hendak membidik istri Bos tersebut.
DUARRRR
Tubuh Jean langsung terkapar, ia menjadikan dirinya sendiri sebagai perisai bagi Elvira. Sebuah janji sudah ia tepati, menjaga Elvira. Itu adalah sumpah profesinya, sebuah sumpah yang ia ucapkan dengan bangga. Akhirnya, bodyguard itu tersenyum menatap Elvira sebelum menutup mata.
Ada hari-hari di mana seperti mimpi buruk, di dalam mansion Radika, hidup Elvira mulai seperti di neraka. Pasca pertumpahan berdarah itu, Elvira mencoba menghubungi Kalandra.
Malam harinya, Elvira dijemput paksa oleh keluarganya. Ia bahkan belum tahu, Jeandana selamat atau tidak. Richard juga tidak bisa berkutik, karena Kalandra membawa banyak personnel polisi ke mansion tersebut.
***
Lima tahun kemudian
Jakarta, di sebuah Mall di tengah kota. Sepasang anak kembar berjalan mengekor pada seorang pria. Dua-duanya terlihat sama-sama merajuk.
"Papi, Zio nggak mau makan dulu. Mau mandi bola! Titik!" Zio merajuk, ia menarik jas pria berbadan tegap, matang dan tampan tersebut.
"Sayang, Kita makan dulu ya ... kasian Zia pasti lapar. Nih ... perutnya sudah bunyi." Rayyan berjongkok, ia kemudian mendekatkan telinganya ke perut Zia Rael Dirgantara, saudara kembar Zio.
"Nggak mau! Zia ... kamu jangan makan terus! Nanti gendut!" celetuk Zio.
Zia melengos, ia ngambek. Anak itu tidak suka dengan Zio. Selalu saja usil padanya.
"Papi! Nanti bilangin Mama! Kak Zio nakal, biar dihukum ... ditaruh kandang buaya!" Zia mengadu pada papinya, kemudian meledek sambil menjulurkan lidah.
Terang saja Zio langsung panas, dengan sebal ia menarik hidung adiknya.
Sedangkan Zio tersenyum puas. Puas karena sudah berhasil menarik hidung saudarinya.
"Ish ... Kita makan, terus mandi bola. Papi janji, ini Papi bisa pingsan kalau cacing di perut Papi gak di kasih makan," bujuk Rayyan.
"Emang ada cacingnya, Pi?" tanya Zio spontan. Ia sangat antusias hingga lupa keinginanya yang mau mandi bola.
"Iya, banyak sekali!" jawab Rayyan sambil terkekeh.
"Ya ampun kasian, Pi. Ayo kita kasih makan cacing-cacing Papi!" Zio langsung menarik tangan Rayyan. Padahal semula ingin main, karena Rayyan pandai membujuk, akhirnya Zio pun tertipu.
Akhirnya mereka sudah duduk sendiri-sendiri di salah satu meja. Mereka hanya bertiga, sedangkan ibu keduanya sedang ada kesibukan.
Rayyan, Zio dan Zia sama-sama makan ayam goreng crispy. Sesuai janji habis makan, mereka pun ke wahan permainan. Habis mandi bola, ganti main yang lain. Pokoke, Rayyan sangan memanjakan keduanya, anak-anak kembar dari kakaknya, Radika Dirgantara.
***
Transylvania, Rumania.
Terlihat seorang pria berdiri dengan tatapan tajam mengarah ke danau di depannya. Ia hanya memakai celana panjang jeans, sedangkan bagian atas tubuhnya dibiarkan terekspose sempurna. Tanpa sehelai benang apapun. Hingga nampak jelas, sebuah bekas luka pada bagian dadaa pria tersebut.
BYURRR
Pria itu langsung menceburkan diri ke dalam danau. Menyelam, menyatu bersama alam. Dan beberapa menit kemudian, ia muncul sembari mengibaskan kepala. Membuat banyak percikan di sekitarnya.
Ya, sosok itu adalah Radika Dirgantara. Pria tersebut merasa saatnya muncul ke permukaan setelah menghilang cukup lama. Selama ini, Dika bersembunyi dari kejaran musuh di perbukitan Sylvan. Di sebuah pegunungan berkabut yang sepi.
"Tuan!" panggil seorang pria dengan membawa selimut tebal. Pria itu kemudian memberikan selimut pada Radika yang naik ke atas. Meninggalkan dinginnya air danau yang seperti air es.
"Sudah kau siapkan semuanya?" tanya Radika dengan wajah dingin. Sambil memakai selimut.
"Semua sudah siap, Tuan."
Radika mengangguk, Kemudian berjalan meninggalkan anak buahnya itu.
***
Bandara International, JKT.
Beberapa saat lalu, pesawat yang Radika tumpangi mendarat dengan sempurna. Radika berjalan keluar Bandara disertai dua orang yang mengikutinya dari belakang.
"Tuan, kita langsung ke mana?"
Radika berhenti melangkah, kemudian menatap Richard.
"Hotel!"
"Baik, Tuan!"
Mereka bertiga langsung masuk mobil yang sudah siap. Bukannya ke mansion yang lama kosong dan tak bertuah. Tapi mereka langsung menuju hotel Emperor.
Sampai di hotel, Radika meminta semua orang-orangnya pergi. Meninggalkan dirinya sendirian di dalam kamar president suit tersebut. Ia kini bersandar di ranjang seorang diri. Sembari menatap kosong pada layar tancep yang memperlihatkan video anak-anak kembarnya. Ada dendam, benci, dan rindu yang mengebu. Bersambung.