Suami Satu Malam

Suami Satu Malam
Sudah Isi


Suami Satu Malam Bagian 43


Oleh Sept


Rate 18 +


Pagi itu, setelah olah raga rutin di atas ranjang, dan ritual membersihkan diri, Radika keluar kamar dengan gaya santai. . Setelan kaus warna hitam dan celana kain terlihat cocok saat ia kenakan. Pria tersebut tidak peduli pada dua mata yang sejak tadi mengawasi.


Kalandra memperhatikan rambut kakak iparnya yang basah, ia kemudian menowel Irene yang kala itu duduk sambil memangku Kimora.


"Lihat tu! Kakak ipar kau! Cih ... kasih tahu, masih trimester pertama. Jangan gass mulu! Kasian Mbak Vira!" bisik Kalandra dengan usilnya.


Irene langsung mencubit pinggang suaminya. Pagi-pagi sang suami kok sudah ngajak ribut.


"Ish, sakit!" pekik Kalandra.


"Mora, papi usil banget. Ayoo ... kita kerjain!" seru Irene kemudian meletakkan Kimora di pangkuan papinya. Kalandra langsung terkekeh.


"Muahhh .... muaaahh ... anak papiiii yang enduttt .... CUP CUP CUP!"


Kimora ikut terkekeh, putri kecil Kalandra itu tertawa karena sang papi yang terus mencandainya. Diangkat ke atas, kemudian diciium-ciium sampai Kimora merasa geli sekali. Sedangkan Radika, ia melihat adegan itu sambil membayangkan dirinya.


Dalam bayangan pria tersebut, ia sedang memangku dua anak kembarnya. Bermain-main bersama keduanya. Duh, jadi tidak sabar. Kapan Elvira akan melahirkan dan anak-anak mereka bisa jalan. Lucu dan mengemaskan seperti Kimora.


"Kenapa senyum-senyum sendiri?" ledek Kalandra. Rupanya pria itu sejak tadi melirik Radika yang menahan senyum tidak jelas.


"Ish!" Radika hanya melirik, kemudian duduk di sebelah mereka.


"Mana Mbak Vira?" tanya Irene untuk mencairkan suasana di ruangan itu. Karena kalau ada Kalandra dan Radika, atmosphere menjadi dingin dan kaku.


"Masih ngeringin rambut di kamar," ujar Radika dengan ekspresi datar. Namun, membuat salah tingkah bagi si penanya.


Ehem ehem


Kalandra berdehem, ia menatap sebal kakak iparnya yang sombong amat tersebut.


KLEK


"Nah itu! Sini, Vir!" seru Radika saat melihat istrinya keluar dari kamar. Pria tersebut menepuk sofa di sebelahnya. Meminta Elvira segera duduk di sisinya.


"Moraaa!" panggil Elvira.


Sambil mau duduk, Elvira terlebih dahulu mengulurkan tangan. Ia mengendong Kimora kemudian duduk di sebelah Radika.


"Mas kok jadi nggak sabar ya, Vir!" ucap Radika tiba-tiba.


Mendengar ucapan suaminya, Elvira hanya melirik. Kemudian asik mengusik anak kecil yang mengemaskan dalam pangkuannya itu.


"Tunggu 8 bulan lagi ... trus nunggu setahun biar bisa jalan ... masih lama!" celetuk Kalandra. Dan dibalas Radika dengan mengabaikan adik iparnya itu.


Ia memutar tubuhnya, hingga Kalandra hanya bisa menatap punggung pria tersebut. Melihat dua pria dewasa yang sedang perang dingin, Elvira dan Irene hanya bisa menggeleng kepala. Benar-benar seperti anak kecil. Padahal sudah sama-sama dewasa. Yang satu sudah punya anak, satunya lagi sedang OTW.


***


Ketika matahari sudah mulai meninggi, mama Sarah terus saja menelpon. Kabar kepulangan Radika dan Elvira sudah didengar oleh mama Sarah. Ia kangen dengan Radika. Meminta mereka berdua segera ke rumah.


"Ini mama telpon terus. Kita ke rumah dulu, ya?" tanya Radika saat mereka sudah di dalam kamar, hanya berdua. Karena yang lain sibuk dengan urusan masing-masing.


"Balik ke sini lagi, nggak? Sekalian barang-barangnya," tanya Elvira.


"Bawa aja, tapi nggak usah nginep di rumah. Takut Rayyan ada di rumah!" ucap Radika terus terang. Pria itu masih saja parno dengan adiknya sendiri.


"Terserah Mas Dika aja, deh!"


Radika menarik tangan istrinya, mengusapnya lembut. Kemudian mengecupp punggung tangan yang terasa halus itu. Sikap Radika yang seperti ini, membuat Elvira jadi salah tingkah. Padahal udah dikekep sebulan lebih, rasa canggung kadang senan tiasa datang pergi tanpa permisi. Setelah bermanis-manis di dalam kamar, mereka berdua pun keluar. Pamit sama keluarga Elvira.


"Mas Dika bentar lagi agendanya padat, Ma. Nanti kalau akhir weekend kita ke sini lagi. Iya kan, Mas?" Vira melihat ke arah suaminya. Radika langsung mengangguk dan merangkul bahu Elvira.


"Jangan khawatir, Ma. Kami pasti akan rajin ke sini."


"Hemm ... jagain Elvira ya, Dik!" pesan mama Lina.


"Iya, Ma."


Setelah pamit dengan mama Lina, ganti pamit dengan papa Pram. Pria itu sepertinya berat melepas Elvira lagi.


"Sering-sering telpon Papa!" titah tuan Pram.


"Iya, Pa! Jangan kuatir, kita telpon sampai telinga Papa panas!" canda Elvira. Setelah itu ia memeluk papanya dengan erat.


"Moraaa ... masihhhh kangen!" Elvira memeluk Kimora dengan gemas. Baru ketemu kemarin, sekarang harus pergi lagi. Berat sih, tapi kan dia sudah menikah. Jadi sudah tidak bisa lagi tinggal bersama mereka.


"Kalau ada waktu, main ke tempat kita ya, Ren," ucap Radika sambil mengusap kepala Elvira.


Irene mengangguk, dan tersenyum ramah pada Radika. Beda dengan Kalandra, Irene lebih pro pada iparnya tersebut. Ipar ketemu ipar, mungkin akan jauh lebih klop. Kalau Kalandra, mungkin ia merasa tersaingi. Atau malah cemburu. Karena biasanya ia yang selalu protective pada Elvira. Kini sudah ada suaminya. Dan Kalandra mungkin merasa tersingkir. Mungkin itu perasannya saja. Sebab, pasti di hati Elvira, dua pria itu sama-sama menempati hatinya. Namun, dengan porsi yang berbeda.


Satu, rasa sayang pada keluarga, satunya lagi sayang pada suami. Suami yang membuatnya meremang akhir-akhir ini. Hingga tercipta dua biji mentimun yang tidak sabar untuk dinanti lahir ke dunia ini.


"Kalau ada apa-apa langsung telpon Andra, Mbak!" ganti Kalandra yang berat melepas saudara perempuannya itu.


"Oke, siap!"


Akhirnya mereka meninggalkan kediaman orang tua Elvira.


***


Kediaman Wiratmaja


Sebuah rumah yang besar sudah menanti untuk dimasuki. Mama Sarah sejak tadi menanti kedatangan anak dan menantunya.


KLEK


"Viraaa!"


Pintu baru dibuka, mama Sarah langsung memeluk Elvira.


"Agak gemukan, sayang?" tanya mama Sarah setelah melepas pelukan.


"Biar masuk dulu, Ma!" sela Radika yang masih berdiri di depan pintu.


"Eh ... iya. Masuk ... masuk!"


Mereka bertiga pun masuk ke dalam, dan selama melangkah ke dalam ruangan, mama Sarah terus saja memegangi tangan Elvira. Seolah tidak mau Vira lepas. Jujur, memiliki menantu seperti Elvira adalah sesuatu yang membuat mama Sarah senang dan bahagia. Sebenarnya ia merasa bersalah atas kasus perceraian Elvira dan Rayyan.


Akan tetapi, sekarang ia merasa lega. Karena Radika membawa wanita itu kembali ke dalam rumah itu. Dengan status yang sama, hanya ganti pasangan saja. Aneh memang, tapi itu nyata. Dan mama Sarah tidak pernah mempermasalahkan akan hal itu. Kini, Mama Sarah baru melepaskan tangan Elvira, saat keduanya duduk.


"Ayo, minum dulu!" ucap Mama Sarah. Matanya terus saja memperhatikan paras Elvira.


"Sayang, kamu sepertinya agak gemukan ya. Apa prasangka Mama? Karena nggak ketemu sebulan lebih?" tanya Mama Sarah.


"Lagi isi, Ma!" sela Radika dengan sombong. Lagi-lagi pria itu bersikap sangat congkak.


Tap tap tap


Rayyan turun dari tangga, ia sempat berhenti melangkah saat mendengar ucapan Radika. Bersambung.


Wes isi Ray!!!! Ojo ganggu. Dulu kau buang, jangan kau pungut! Sudah milik orang. Hahahaha