
Suami Satu Malam Bagian 32
Oleh Sept
Rate 18 +
Radika tersenyum getir tak kala mendapati istrinya pingsan. Pria itu lantas membawa tubuh Elvira. Membopong wanita itu dengan gaya bridal style.
"Begini saja kamu takut! Mana gadis pemberaniku?" gumam Radika sembari terus melangkah sampai kamar mereka.
Begitu tiba di depan ranjang, dengan hati-hati Radika menurunkan Elvira. Ia amati wajah istrinya itu. Kemudian keluar sebentar ketika mendengar deru helicopter yang semakin dekat suaranya.
***
Beberapa waktu kemudian.
Kelopak matanya bergerak-gerak, Elvira tersadar dari pingsannya. Matanya menatap langit-langit kamar. Kemudian memikirkan apa yang sudah terjadi. Ia mengingat-ingat kejadian sebelum ia pingsan.
Setelah sadar sepenuhnya, wanita itu langsung membetulkan posisi. Elvira seketika duduk sambil memindai seluruh ruangan. Manik matanya sibuk mencari sesuatu di dalam ruangan itu.
Sambil jinjit, Elvira meninggalkan kamar. Ketika mendengar suara orang-orang bicara. Ia jadi tambah penasaran. Lagi-lagi ia menajamkan telinga. Tapi bukan di depan sebuah ruangan. Namun, di ruang tengah.
Sedangkan Radika, saat ia sedang bicara dengan dua orang di depannya, matanya malah sibuk pada layar ponsel. Dilihatnya Elvira sedang mengintip. Wanita itu tidak menyadari, bahwa sosoknya sudah tertangkap kamera CCTV yang tersambung pada ponsel Radika. Ingin menakuti Elvira, Radika malah dengan jahil mengeraskan suaranya.
"Sudah kau kubur?" tanya Radika dengan suara keras.
Pria berpakaian hitam rapi itu pun mengeryitkan dahi. Thomas yang merupakan anak buah Radika, ia merasa aneh dengan pertanyaan bosnya tersebut. Habis membahas perusahaan kok malah membahas kuburan. Lagian siapa yang dikubur? Thom bertanya-tanya dalam benaknya.
Melihat Thomas kebingungan, Radika lantas mengulurkan ponselnya. Ia mengetik sesuatu. Meminta Thomas ikut bersandiwara dengannya. Seketika, Thomas langsung tanggap. Apalagi ia melirik ada yang mencuri dengar obrolan mereka. Bayangan Elvira tertangkap oleh mata elangnya.
"Sudah, Tuan! Tapi maaf, untuk menghilangkan jejak. Kami tidak menguburnya langsung. Tapi membuangnya ke tengah laut saat berjalan ke mari!"
Radika langsung tersenyum, tiba-tiba saja ia jadi menikmati drama ini.
"Bagus! Singkirkan siapa saja yang menghalangi jalan."
"Baik, Tuan!"
Di sudut lain, Elvira tambah lemas.
[Ya Tuhan! Siapa yang dibunuhh Mas Dika?]
[Apa aku harus pulang? Ya ... aku harus pulang!]
Tidak mau ketahuan, Elvira kembali ke kamar lagi. Ia pura-pura tidur. Nanti rencananya ia mau minta pulang.
***
Setelah yakin Elvira pergi, karena melihat CCTV yang tersambung di tangannya. Radika kembali bicara serius mengenai perusahaan. Sebuah perusahaan yang ia besarkan dengan nama orang lain. Kini saatnya ia mengambil alih.
"Tuan, nona Vira pasti ketakutan."
Thomas berkomentar ketika Radika sibuk memeriksa berkas yang ia bawa.
"Biarkan saja!"
"Saya khawatir, Nona menghindari dan malah kabur dari pulau ini."
"Tidak akan bisa, apa ia mau tengelam dan dimakan binatang buas?" ucap Radika dengan senyum enteng.
"Dia pasti mengira tuan pembunuhh berdarah dingin? Apa ini tidak keterlaluan?"
"Aku bilang tidak apa-apa, kembali fokus pada perusahaan. Katakan pada Mister Donald, mungkin minggu depan aku baru bisa menemuinya."
"Jadi Tuan akan kembali minggu depan?"
"Tidak! Aku masih lama di sini. Tolong handle seperti sebelumnya. Jika ada yang mendesak, langsung ke sini seperti sekarang."
"Baik, Tuan. Dan mengenai Willi, kami langsung menembaknya. Dia mengila, sepertinya ada yang tidak beres. Mungkin ada yang menaruh sesuatu pada makanannya. Karena ia terlihat mendadak liar dan menyerang siapa saja," terang Thomas tentang Beauceron milik Radika yang sejak lama menjaga mansion miliknya.
"Bukan karena dia sudah tua?"
"Bukan! Bukan, Tuan. Kami sudah menyelidiki. Sepertinya ada yang menyabotase."
"Amankan mansion, sebab mungkin pulang dari sini nanti aku akan tinggal di sana."
"Baik, Tuan."
Radika kembali fokus pada kertas-kertas di tangannya. Oh, rupanya ia tidak menyuruh anak buahnya menghabisi orang, yang ia maksud adalah Willi. Hewan penjaga rumah yang mulai liar dan menyerang tanpa kendali.
Willi sudah tua, dan mungkin waktunya istirahat. Sebab ini bukan kali pertama. Beberapa bulan lalu, Willi sampai membuat salah satu anak buahnya dilarikan ke rumah sakit. Dan bulan sebelumnya juga berhasil menangkap penyusup di tempatnya itu.
***
"Saya permisi, Tuan."
Radika mengangguk, setelah mengantar Thomas ke luar. Ia kembali masuk. Dengan jahil ia memasang wajah menakutkan. Radika melangkah menuju kamar dengan muka datar.
KLEK
Dilihatnya Elvira pura-pura tidur. Dengan iseng, ia naik ke atas ranjang. Memeluk tubuh Elvira yang kaku bagai patung
"Astaga! Dia tegang sekali?" batin Radika ketika tangannya bisa merasakan degup jantung Elvira.
Sedangkan Elvira, ia mati-matian bersandiwara. Padahal jantungnya deg-degan tidak karuan.
"Buka matamu!" ucap Radika yang sudah tahu bahwa Elvira pura-pura.
[Ya ampun, apa dia tahu aku hanya bersandiwara?]
"Buka, atau aku ciummm!"
Seketika kelopak matanya membuka, Elvira terbelalak karena wajah Radika sudah sangat dekat.
"Eh!" hati Elvira menjerit. Kemudian larut bersama sesapan Radika yang berlangsung dengan mendadak.
Radika merasakan penolakan, karena tautan bibir mereka yang terasa dingin tidak seperti sebelumnya. Hangat, memanas dan penuh gejolak. Pelan-pelan ia menarik diri, kemudian merogoh ponselnya. Sepertinya ia tidak mau Elvira bersikap dingin terlalu lama.
"Willi! Dia yang mati!"
Elvira menatap ponsel Radika, merasa aneh. Mengapa Willi seekor binatang. Bukan manusia yang seperti ia duga?
"Kenapa dibunuh?" kata tanya itu akhirnya lolos dari mulutnya. Meski masih merasa tegang.
"Dia hampir mencelakai seluruh penjaga di dalam mansion kita."
Elvira malah bingung, mansion apa lagi? Sepertinya Radika paham, istrinya yang tidak tahu apa-apa itu.
"Habis dari sini, kita tinggal di sana."
Radika mengeser layar ponselnya, terlihat gambaran mansion mewah dengan banyak binatang sejenis Willi yang terpampang di halaman depan.
"Aku tidak suka itu!" komentar Elvira saat melihat betapa banyak koleksi Radika.
"Manusia saja tidak cukup untuk menjaga, Vira! Kau tahu, banyak yang mengincar nyawaku."
Elvira langsung memasang muka serius. "Untuk apa? Jangan katakan kamu mapiaaaa!" Elvira mendadak kesal.
Radika langsung terkekeh.
"Kalau benar kenapa?"
BUGH
Sebuah bantal melayang.
"Kamu sudah kembali rupanya!" cibir Radika saat melihat sorot tajam Elvira.
"Karena istriku sudah kembali! Ayo ... Kita lanjutkan yang tadi malam!" tambah Radika dengan mata mengerling. Ia menatap jahil pada Elvira.
"Tidak bisa! Masih bengkak!" ujar Elvira sebal.
"Benarkah? Aku periksa dulu!"
Ucapan Radika langsung mendapat tatapan yang menghujam. Pria itu kembali terkekeh, dan menyerang Elvira dengan banyak cara.
"Nggak bisa!!!!" Elvira mencoba menepis.
"Bisaa!" paksa Radika, pria itu kemudian mengabsen seluruh wajah Elvira. Memberikan satu cap yang dalam di leher jenjangnya. Kemudian bergerilya seperti biasa.
Sesaat kemudian
[Katanya nggak bisa! Ish ... dipanasi bentar olinya langsung keluar]
Radika menatap dalam pada sosok wanita yang kini dalam kuasanya.
"Mumpung di sini, kita bikin banyak Baby!" bisikan maut itu kembali membuat Elvira tidak berdaya. Karena ketika berbisik, tangan Radika kembali main-main.
Oke, dia kalah. Elvira sudah tidak bisa lagi menolak keperkasaann pria tersebut. Seperti dikejar deadline. Mereka lembur lagi ... lagi lagi ku tak bisa tidur. Bagaimana mau tidur, mereka selalu terjaga untuk edisi cetak anak. Bersambung.
Pengantin baru apa memang seperti itu? Sering lembur.