Suami Satu Malam

Suami Satu Malam
Good News


Suami Satu Malam 90


Oleh Sept


Rate 18 +


Hari yang cerah, secerah wajah Rayyan saat duduk di meja makan sambil menunggu sarapan buatan Jeandana. Mereka sudah damai, meski masih kaku, Jean rupanya sudah mulai luwes. Bahkan ia sekarang sedang beradu dengan spatula, Teflon dan kompor.


Ya, ini pertama kalinya Jean bergulat dengan peralatan dapur. Lucu sih, biasanya wanita itu bersiap siaga dengan senjataa di tangan. Kini malah memegangi spatula layaknya SpongeBobb.


"Jean ... duduklah. Biar Bibi yang masak!" ucap Rayyan.


Rayyan tidak sabar, ia akhirnya menyusul Jean ke dapur. Sambil mengusik wanita yang fokus masak tersebut.


Padahal cuma spaghetti kemasan, praktis tinggal seduh. Tapi, ribetnya bukan main. Jean sejak tadi melihat video, bagaimana step by step yang harus dikerjakan.


[Ternyata lebih mudah merakit boommm dari pada memasak]


"Sana ... jangan ganggu!"


"Ish .. udah masak ini aja! Lebih mudah!" Rayyan membuka laci. Mengambil bubur ayam kemasan yang tinggal seduh juga.


"Ayolah ... Jangan ganggu aku."


"Itu terlalu lembek!" celetuk Rayyan yang melirik ke atas kompor.


Huufffh


Jean langsung mendorong suaminya hingga ke meja makan.


"Plisssss ... duduk! Biarkan aku fokus!"


"Oke!"


CUP


Jean kontan tersenyum saat Rayyan mengecup pipinya singkat. Sambil berbalik menuju dapur, wanita itu hanya bisa geleng kepala.


[Ada apa denganku?]


Jean memegangi pipinya yang terasa hangat. Apa ia mulai tersentuh? Apa hantinya mulai balik arah? Entahlah ... Jean hanya merasa tiba-tiba senang begitu saja.


[ASTAGA! Pastakuuu!]


Buru-buru Jean mematikan kompor. Benar kata Rayyan, lembek!


Dengan enggan, Jean memasak pasta lembek itu.


"Bagaimana rasanya?" tanya Jean dalam hati. Ia mencolek sedikit bumbu saosnya.


[Enak sih ... tapi!]


Jean melihat tampilan spaghetti buatannya yang sama sekali tidak ada estetikanya itu.


***


"Gak udah dimakan! Kita pesan makanan saja!" Jean menarik piring yang dipegang erat oleh Rayyan.


"Apa, sih! Sini ... biar aku coba dulu!" Rayyan menarik lagi piring berisi spaghetti buatan Jeandana.


HAPPP


Perlahan Rayyan mulai mengunyah.


[Rasanya kok aneh?]


Rayyan mencoba memakannya, sambil sesekali tersenyum tentunya. Ia mau membuat Jean senang karena makan masakan perdana istrinya itu.


Aneh sih, karena texture jadi aneh. Terlalu lama dimasak, jadi terasa lumer di lidah, harusnya enak. Berhubungan lembek banget, rasanya jadi sedikit enek. Demi Nyai, pria itu makan sampai habis.


Sementara itu, Jean memperhatikan sambil mengerutkan dahi.


"Jangan terusin kalau nggak enak!"


Jean bangkit lalu mengambilkan air.


"Kata siapa gak enak? Enak kok ... cuma terlalu matang saja."


"Aku sepertinya harus les masak."


"Jangan repot-repot, biar dapur diurus bibik!" cegah Rayyan.


"Lalu aku harus ngapain, Ray? Kamu kerja ... aku malas jika hanya rebahan di rumah."


"Berkebun! Mending berkebun!" Rayyan memberikan ide. Sebuah ide yang membuat Jean manyun.


Mending pegang pistolllll dari pada mainan sekop sama bunga-bunga. Jean bukan gadis manis yang suka bunga. Dia lebih suka olah raga panahan, berkuda, boxing, renang, atau menembakk. Jadi, bukan gayaanya harus main-main dengan bunga mawar, melati, tulip, anggrek dan lainnya.


"Aku tidak suka main bunga!"


Rayyan langsung tersenyum mendengar celetukan Jean.


"Lalu kamu suka apa? Panahan? Menembakk? Mancing di tengah samudera? Berkuda? Ayolah Jean! Stay at home ... dan lagi, aku sudah memiliki rencana untukmu."


[Rencana apa maksudnya?]


Jean mengubah tatapannya menjadi penuh rasa curiga. Ditatap seperti itu, Rayyan malah tersenyum penuh arti.


***


Begitulah kehidupan rumah tangga keduanya, mereka hidup berdampingan. Sesekali ada krikil kecil, beda pendapat atau adu argument setiap ada kesempatan. Namun, tidak ada konflik besar yang membuat hubungan mereka renggang.


Menikah karena terpaksa, rupanya konsep pernikahan yang cukup menantang. Karena hingga sekarang, baik Rayyan maupun Jeadana, keduanya belum saling mengutarakan perasaan masing-masing.


Sudah 100 malam mereka habiskan bersama, tapi Rayyan belum juga mengatakan bahwa ia mencintai istrinya itu. Hubungan mereka seperti hanya atas dasar kebutuhan. Ya, karena sama-sama sudah dewasa. Rayyan pikir kata cinta hanya untuk ABG saja.


Tiga bulan awal pernikahan Rayyan dan Jeandana


"Jean, mau aku antar ke rumah papa atau di sini saja?" tanya Rayyan yang melihat Jean merapikannya baju-bajunya dalam koper.


"Di sini saja."


"Aku seminggu loh, perginya."


"Iya, gak papa. Jangan khawatir, ada bibi juga."


Rayyan terlihat berat, rasanya ingin ia wakilkan saja kunjungan kerja kali ini. Seminggu harus jauh dari Jeandana, membuatnya lesu. Padahal ia ingin mengajak istrinya itu. Sayang, Jean kurang fit. Akhirnya, dengan berat hati ia meninggalkan Jean di rumah seorang diri. Nggak sendirian sih, karena ada bibi dan juga security.


"Nanti telpon dokter Irawan kalau badannya gak enakan lagi," pesan Rayyan sambil memegang dahi Jean. Kemarin sempat demam, tapi pagi tadi sudah agak mendingan.


"Iya ... udah ... nanti ketingalan pesawat."


"Baik-baik ya di rumah!"


Jean mengangguk. Ia kemudian keluar rumah mengantar suaminya sampai ke halaman depan.


Da ... da ...


Setelah melambaikan tangan, dan melihat mobil Rayyan menghilang dari pandangan. Jean kembali masuk.


Tidak punya kegiatan, ia hanya nonton TV dan makan. Atau sesekali memukul samsak yang ada di samping rumah.


Bukkkk ....


Bosan, Jean kini merebahkan tubuhnya di gazebo yang ada di belakang rumah.


[Bosan sekaliiii!]


***


Hari kelima kepergian Rayyan ke Hongkong untuk kunjungan bisnisnya.


Jean makin lama-lama semakin bosan, dilihatnya motor sport milik Rayyan. Kebetulan, lama tidak memacu adrenaline, Jean langsung mencari kunci motor di dalam laci.


[YESSS!]


Dengan memakai atribut komplit, jaket hitam, sepatu boots, dan helm bak pembalap professional, Jean keluar dari rumah mengendarai motor sports tersebut.


Ngreng ... Ngrengg ....


WUSHHHH ....


Seperti kucing yang lama dikurung, begitu Rayyan tidak ada, Jean pun berkelana dengan bebas.


Puas adu balap dengan para pengendara jalanan, Jean memacu motornya ke tempat yang lebih menantang. Ia tahu, medan paling asik buat berpetualang.


WUSHHHH ...


Motor itu melesat di atas kecepatan rata-rata, bagai angin. Jean seperti terbang. Kalau ketahuan polisi, pasti Jean akan ditilang.


Tin tin tin


Sebuah mobil Pajerooo sport seolah mengajak adu balap dengannya. Semakin tertantang, Jean makin menambah kecepatan.


Gasss sampai rem blong ....


BRUAKKK


Jean terlempar di atas rerumputan sebelum motor itu berputar-putar dan terbakar. Sebelum menutup mata, Jean sempat tersenyum. Ia seolah sedang membayangkan, bagaimana Rayyan akan memarahi dirinya nanti.


***


Rumah Sakit Medica Tama, Jakpus


Jean sedang tidur di salah satu kamar VIP saat Pak Perwira tiba. Orang tua Jeandana itu sedang menahan kesal karena kok bisa Jeandana terlibat kecelakaan.


[Mana suamimu itu? Istri begini malah plesiran!]


Pak Perwira menatap Jean, sambil terus menghubungi Rayyan. Ia sudah menghubungi Rayyan beberapa waktu yang lalu. Rasanya mau memakan Rayyan karena tidak becus menjaga putrinya.


Pak Perwira ingin sekali seseorang yang bisa ia marahi, karena tidak mungkin marah pada Jean yang masih terbaring tersebut.


"Pa ..."


Pak Perwira langsung memegang tangan Jeandana.


"Kamu membuat Papa jantungnya, Jean!"


"Maaf, Pa."


Pak Perwira menghela napas dalam-dalam, kemudian mengsuap kepala Jean.


"Papa sudah tidak muda lagi, jantung Papa sudah tidak bisa dibuat mainan."


"Maaf, Pa ....!" Jean lalu menarik tangan pak Perwira, dan memeluknya.


***


Pukul sembilan malam, begitu tiba di Bandara, Rayyan buru-buru segera ke rumah sakit. Sejak dalam penerbangan, wajahnya terlihat sangat gelisah.


"Tolong tambah kecepatan, Kris! Kenapa kau jadi lamban sekali!" protes Rayyan.


"Tuan ... ini sudah cepat."


"Tolong minggir, menepi!"


Chittttt


"Rayyan langsung bertukar posisi, kini ia yang menyetir. Kris baginya mengendara sangat pelan.


WUSHHHH


Krisna sampai merasakan mual, karena Rayyan mengendara begitu cepat dan ugal-ugalan.


Begitu sampai di halaman rumah sakit, pria itu langsung lari masuk ke dalam. Rayyan berlari menuju bangsal VIP di mana istrinya dirawat.


KLEK


"Jeannnn!"


Rayyan lega karena melihat istrinya tidak memiliki luka serius, ia sibuk memeriksa seluruh tubuh Jeandana yang masih tidur. Tidak sadar, Pak Perwira sejak tadi melotot ke arahnya.


"Pa ...!" Rayyan langsung menelan ludah.


Kedua pria itu pun bicara di luar.


"Kalau tidak bisa menjaga Jean, lebih baik Jean tinggal dengan saya lagi."


"Jangan, Pa!" sela Rayyan spontan.


"Kenapa dia sampai begini? Ini salahmu! Bagaimana bisa wanita hamil mengendarai motor sport menantang maut begini? Jangan-jangan dia tidak bahagia menikah denganmu?" tuduh Pak Perwira.


Sedangkan Rayyan, pria itu masih mencerna kata-kata papa mertuanya itu. Rayyan shock ...


Bersambung


IG Sept_September2020



.