
Suami Satu Malam 52
Oleh Sept
Rate 18 +
Hari sudah menjelang malam, bulan menggantung indah di atas sana. Bintang-bintang bertaburan menghiasi langit gelap, menemani malam-malam sepi Elvira.
Tadi sore Rayyan sudah mengantar Zio dan Zia, mereka ingin ketemun sama opa dan omanya. Vira tidak tahu, selepas pulang dari kediaman Dirgantara, Rayyan mengajak mereka jalan-jalan. Sejak suaminya dinyatakan tewas, Elvira memang memilih menyibukkan diri.
Ia ingin melupakan sosok Radika yang tidak bisa dihapus dalam hatinya. Sembari menemani anak-anak tidur, bulir bening terus saja jatuh dan menyeberangi pipi. Wanita itu sedang mengenang kejadian lima tahun silam.
Flashbacks
"Nggak mungkin!" teriak Elvira histeris. Ia tidak percaya apa yang mama Sarah katakan. Mertuanya itu mengatakan bahwa Radika ditemukan tewas.
Jasadnya tak berbetuk karena hancur. Namun, sudah dilakukan beragam tes untuk mengevakuasi serpihan mayat yang hancur karena sebuah ledakan. Dan datanya positive. Radika Dirgantara, anak pertama dari keluarga Wiratmaja Dirgantara itu sudah dinyatakan tewas.
Kabar mendadak itu bagai sengatan petir yang langsung menghujam tepat pada jantung wanita tersebut. Langit Elvira runtuh, dunianya terbelah. Hatinya hancur tak berbetuk. Bagi Vira, kehilangan Radika bagai kehilangan separuh hidupnya. Radika pergi, membawa sejuta luka di hati.
Hingga tubuhnya menyerah, Elvira harus dirawat di rumah sakit berbulan-bulan. Hampir tiga bulan ia dirawat di sebuah rumah sakit. Dan selama itu, yang selalu merawat adalah kedua keluarganya. Keluarga Pramana dan Wiratmaja.
Kematian Radika pun membuat Rayyan shock, memang mereka tidak dalam hubungan yang baik. Apalagi setelah accident pemukulan Radika secara brutal. Tapi, sejak itu pula ia sadar. Bahwa selama ini ia salah. Membuang berlian demi butiran debu. Membuang barang branded demi batang KW.
Lama-lama hubungan yang terlanjur rusak mulai membaik. Apalagi setelah kelahiran Zio dan Zia. Elvira sedikit demi sedikit mulai lupa. Lupa akan luka hatinya. Namun, ketika si kembar mulai bisa bicara dan mulai memanggil mama, hatinya terenyuh.
Anak-anak itu belum melihat sosok ayah mereka, mereka lahir tanpa ayah. Si situ Elvira kembali terpuruk. Raganya kembali ambruk. Memang benar kata orang, kebanyakan penyakit itu bersumber dari pikiran.
Elvira yang dulu sangat sehat bugar, kini gampang down, rentan sakit karena rasa sedih yang terlanjur melekat dan tidak mau pergi. Sekuat apapun ia melupakan Radika, hatinya justru semakin sakit.
Untung ada Rayyan, pria yang sudah berubah perlahan itu, kini begitu peduli dengan anak-anaknya. Hingga mama Sarah sendiri yang menyebutkan kata papi bila Zio dan Zia main ke rumah omanya. Hingga keduanya terbiasa, dan keterusan sampai sekarang.
"Nggak apa-apa, kan?" tanya mama Sarah sambil mengengam tangan Elvira kala itu.
Elvira sedikit berat hati. Namun, ketika melihat Zio dan Zia begitu lengket pada omnya itu, Elvira pun hanya diam saja. Tidak melarang maupun mengijinkan.
Tidak memiliki sosok ayah, membuat si kembar begitu manja bila bertemu dengan Rayyan. Akhirnya, anak-anak itu pun jadi sangat dekat.
Flashbacks End
***
Hotel Emperor
"Tuan! Tuan mau ke mana?" Richard panik ketika melihat Radika keluar dari kamar hotel.
"Bukankah aku sudah menyuruh kalian pergi?" Radika melirik tajam.
"Tuan ...!"
"Mana kunci mobilnya?" Radika menatap dengan dingin.
Richard menghela napas panjang. Kemudian merogoh saku celana miliknya.
"Tuan mau ke mana? Saya antar!"
"Tetap di sini! Satu kali saja kau melangkah! Aku pecat!"
Richard memejamkan mata dalam-dalam, kemudian berdiri di tempat. Ucapan Radika adalah sebuah perintah.
***
Di dalam sebuah mobil yang dilengkapi anti peluruu, di dalamnnya sudah duduk sosok wanita yang ikut menghilang bersama Radika beberapa tahun silam.
Radika sengaja membawa penjaga paling setia tersebut. Ia berhutang nyawa pada bodyguard cantik itu. Karena Jeandana, Elvira dan janin dalam perutnya akhirnya selamat.
"Bila aku memintamu menjaga Elvira lagi, apa kau terima, Jean?"
"Terima kasih!"
Jean menatap Radika sambil tersenyum tipis. Ia kemudian menatap ke jendela. Kembali ke negara itu, nyatanya membuatnya penasaran. Apa masih ada cinta antara Radika dan Elvira setelah berpisah lima tahun lamanya?
"Kau yakin ini alamatnya?" tanya Radika pada wanita yang duduk di sebelahnya.
Ia adalah pertama kali Radika menginjakkan kaki di rumah istrinya tersebut. Istri yang menganggap ia sudah mati lima tahun lalu.
"Benar, Tuan. Ini Rumah istri Tuan."
KLEK
Radika langsung melepaskan seatbelt, sambil matanya terus mengamati dari luar.
[Mengapa tinggal di sini? Bukankah aku sudah memberimu banyak uang?]
[Jangan katakan kau marah padaku, hingga tidak mau menyentuh sepeser uangku]
Radika berjibaku dengan hatinya, mengapa Elvira tidak mau memakai uangnya. Semua yang ia berikan bahkan tidak tersentuh. El Hotel pun sama sekali tidak pernah dilirik oleh istrinya itu. Apa Elvira sangat marah?
"Jean! Mengapa dia menempati rumah sekecil ini?"
"Ini tidak kecil, Tuan. Bahkan sudah ada kolam renang di dalamnnya!" komentar Jeandana.
"Cih!" Radika berdecak, rumah yang ditempati Elvira sekarang tidak ada apa-apanya. Bahkan lebih luas kandang Beauceron, bullmastiff dan kawan-kawan.
"Kamu tunggu di sini, aku akan masuk. Aku hanya sebentar. Melihatnya dari jauh, jadi tetap di tempat," ucap Radika.
"Baik, Tuan."
***
Di dalam mobil, Jeandana melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah lima belas menit lebih, kok Tuan besarnya belum keluar. Tadi katanya sebentar. Mau lihat dari jauh saja, ish. Dusta!
Di dalam kamar utama, Elvira sedang bersiap untuk tidur. Ia habis menidurkan buah hatinya. Kini gilirannya untuk istirahat. Namun, tiba-tiba korden kamarnya bergerak-gerak. Hembusan angin yang kencang, membuat kain tirai itu ke sana-kemari.
"Perasaan sudah aku tutup?" gumam Elvira. Ia kemudian perlahan mendekat.
Srekkkkkkk
Elvira pun menutup pintunya. Tapi, matanya tiba-tiba malah melihat sosok pria turun dari balkon kamarnya.
"Berhenti!" teriak Elvira.
Elvira yang masih jago bela diri itu pun mengejar sosok tersebut.
Tap tap tap
Radika galau, dia sangat dilema. Ingin berbalik tapi ini belum saatnya. Demi keselamatan keluarga kecilnya itu, ia harus menghindari mereka semua.
"BERHENTI KAU BRENGSEKKK!" teriak Elvira kencang.
Wanita itu melepas alas kakinya, melempar keras tepat ke punggung Radika.
Bukkkkk
Sakit! Bukan karena lemparan sandal Elvira. Tapi karena mendengar suara istrinya itu, dadaa Radika mendadak sesak. Tidak tahan, pria tersebut langsung berbalik. Ia berlari kencang menuju hati yang sudah lama ia tinggal pergi.
Bersambung
Hehehehe
Author Sept mau promo .... Cus baca novel Sept yang lain ya.. pada mau dibaca ama kalian. Hihihh... nyengir kek unta. Kwkwkw