
Suami Satu Malam 71
Oleh Sept
Rate 18 +
[Dia tidak pernah menangis selama ini, apalagi masalah pria. Sepertinya, waktunya sebagai orang tua, aku harus turun tangan!]
Pak Perwira sudah duduk di ruang tamu, menunggu sang ajudan yang ia suruh membawa pria yang terlihat mencurigakan di depan rumah mereka.
Sedangkan Jeandana, ia yang jarang merajuk kini mengelayut manja pada lengan sang papa.
"Apa pria di luar yang membuatmu menangis?"
[Jangan sampai papa tahu, aku memendam rasa pada Tuan Dika. Sampai papa tahu, dia akan sangat kecewa karena aku menyukai suami orang]
Jean mulai gelisah, jujur atau lebih baik bohong saja. Jika ia jujur, maka semuanya akan kena masalah. Apa lebih baik ia korbankan saja sosok Rayyan yang ada di luar rumahnya?
"Jean! Kamu dengar Papa?"
"Hemm!"
"Siapa dia? Mengapa pulang-pulang kau menangis dibuatnya?"
"Bukan siapa-siapa, hanya seorang duda," celetuk Jean yang sudah mengambil pilihan. Ia akan mengorbankan Rayyan saja, tidak mau sang Papa tahu masalah Radika. Rasanya terlalu jahat bila menyeret keluarga yang sudah bahagia tersebut.
"Duda? ASTAGA! Apa tidak ada pria lain? Papa bisa kenalkan kamu dengan pria yang yang lebih dari itu. Sebenarnya Papa sudah lama ingin mengenalkanmu pada temen Papa. Dia baru pulang dari Lebanon! Papa yakin kamu pasti menyukai anak teman Papa!" ucap Pak Perwira dengan yakin.
"Pa! Ini Jeandana! Bukan sitii Nurbaya!" protes Jeandana.
Mana mau ia dijodohkan, apalagi sama sekali tidak pernah kenal sebelumnya. Bagai beli kucing dalam karung. Mending dia jadi perawan tua saja. Toh, tidak segampang itu ia membuka hati lagi. Baru saja hatinya pecah jadi berkeping-keping. Rasanya ia butuh waktu untuk move on.
"Jangan menolak sebelum melihat! Karena kebetulan kamu pulang, besok Papa akan atur pertemuan kalian. Papa tidak suka kamu terlibat dengan duda!"
"Pa!"
"Jangan melawan, coba dulu. Dia seseorang yang mungkin bisa melindungimu setelah Papa tidak ada!"
"Paaa!" Kali ini suara Jeandana melemah. Ia paling tidak bisa membantah kalao sang papa bawa-bawa usia.
Kini, Jean hanya bisa menghela napas panjang. Sembari menunggu ajudan sang papa masuk bersama Rayyan.
Di luar rumah
Rayyan terkejut saat ada yang keluar dari gerbang, sosok pria tegap atletis dan memakai serangam rapi hitam hitam mendekat ke mobilnya.
[Jean! Tak hanya dirimu yang misterius. Sepertinya, seluruh penghuni rumah ini sama saja sepertimu]
Rayyan terus saja mengamati, hingga pria itu mengetuk kaca mobil depannya.
Tok tok tok
.....
Rayyan pun membuka pintu jendelanya, kemudian mencoba tersenyum pada pria yang berwajah tegas tersebut.
[Harusnya kau balas tersenyum, bila ada orang lain yang tersenyum padamu!]
Senyum Rayyan berubah getir saat pria di depannya tidak merubah ekspresinya. Tetap kaku dan terlihat tegas.
"Mari, Tuan. Masuk ... Pak Perwira sudah menunggu Tuan."
[Siapa lagi Pak Perwira? Aku hanya kenal Jeandana!]
"Mari!"
Belom lagi ia hampir saja tersandung, kaget melihat sosok foto besar yang tergantung di dinding ruangan paling depan. Ada foto Jeandana terpampang besar, berdiri di samping kursi. Sedangkan sosok yang duduk di kursi, terlihat seperti bukan sembarang orang.
[Apa aku pulang saja?]
Rayyan jadi melempem, melihat fakta yang baru saja ia dapat. Seragam yang dikenakan sosok pria yang ia duga ayah Jeandana, membuatnya layu sebelum berkembang. Banyak bintang di pakaian seragam pria tersebut.
[Sepertinya aku salah masuk rumah]
"Mari, Tuan!"
Ucapan ajudan Pak Perwira membuat Rayyan sadar dari lamunan, pria itu kini malah terlihat kaku saat mereka sudah berada di ruang tamu. Apalagi ada sepasang mata menatapnya dengan tatapan tajam.
"Duduklah!" titah Pak Perwira tegas.
Rayyan kemudian duduk, pria itu kemudian melihat ke arah Jean yang masih duduk di samping papanya.
"Mengapa kamu menguntit rumah kami?" tuduh Pak Perwira lantang. Karena tahu status Rayyan yang duda, ia jadi kurang respect. Putrinya adalah berlian tersembunyi yang berharga. Rasanya tidak mau ia lepas pada pria second seperti Rayyan.
"Om salah paham! Saya bukan menguntit. Saya hanya mau memastikan, Jean pulang dengan selamat," ucap Rayyan.
Ia tidak mau ada salah paham, kalau pria di depannya itu marah. Felling Rayyan mengatakan ia akan langsung masuk rumah sakit.
"Benarkah, Jean? Apa pria ini juga yang membuatmu menangis?" tanya pak Perwira dengan tatapan mengintimidasi pada Rayyan. Yang ditanya Jeandana, yang dapat tatapan suram tapi Rayyan.
[Menangis? Wanita sekuat baja ini bisa menangis?]
Rayyan akhirnya menatap wajah Jeandana lekat-lekat. Ya, memang mata wanita itu sedikit sembab.
"Ehem ... !" Pak Perwira berdehem ketika melihat Rayyan terus saja menatap ke arah putrinya.
"Jangan mengharap apapun dari Jeandana! Saya sudah menyiapkan calon suami yang pantas untuknya. Jadi, tolong ... jauhi anak saya!" ucap Pak Perwira tegas.
Jean yang sejak tadi diam, lantas menatap sang papa.
"Pa! Jean tidak mau! Jean sudah memiliki pria lain di hati Jean!" sela Jeandana yang tidak mau dijodohkan.
Rayyan menelan ludah, ia tahu betul sosok yang dimaksud oleh Jeandana. Pasti pria beristri, yang tidak lain adalah kakaknya sendiri. Namun, pernyataan berikutnya yang dilontarkan oleh Pak Perwira membuatnya tercengang.
"Apa bagusnya duda seperti dia?" sentak Pak Perwira marah sembari menatap ke arah Rayyan. Ia kan punya bayangan, memiliki menantu yang berpangkat dan hebat serta bisa dibanggakan, setidaknya satu level di bawahannya. Bukan pria warga sipil biasa tanpa pangkat, apalagi status duda. Rayyan benar-benar tidak masuk kriteria.
Rayyan masih shock, apa seburuk itu ia di mata ayah Jeandana? Mungkin Pak Perwira belum tahu siapa dia. Meski bukan seorang perwira dengan pangkat bintang yang berjajar di pakaiannya. Dia kan seorang CEO di sebuah perusahaan besar Dirgantara Group.
Putra kedua keluarga Wiratmaja Dirgantara yang tidak kalah jauh pesonanya dengan pria berseraman bintang-bintang yang dibangakan Pak Perwira tersebut.
Rayyan semakin tidak mengerti ketika Jeandana tiba-tiba melangkah dan pindah posisi duduk. Wanita itu malah langsung duduk tepat di sampingnya.
Engan dijodohkan degan pria asing, malas jika harus kencan dan melakukan ini itu. Jean malah membuat Rayyan menjadi alat.
"Papa nggak usah jodoh-jodohin Jean lagi. Kami tadi ada sedikit salah paham, dan pasti itu hal yang biasa dan lumrah saat pacaran. Iya kan, Mas Ray?"
Jean menatap dengan wajah serius ke arah Rayyan sembari kakinya sengaja menginjak kaki Rayyan sebagai kode.
[Sialll! Kau menjebakku!]
Bersambung
Tidak lupa untuk selalu iklan... heheheh
Terima kasih ... jangan lupa jempolnya... terima kasih untuk yang sudah menulis komentar... bikin tambah semangat 45 hihihih... terima kasih banyakkkkk mak mak terlopeeee.