
Suami Satu Malam 96
Oleh Sept
Rate 18 +
[Ish ... sialll]
Rayyan menghela napas panjang, pria itu kemudian memilih mengecupp pipi Jean sebentar lalu pergi.
"Mau ke mana?" cegah Jean yang melihat suaminya gelisah. Dan malah mau pergi begitu saja.
"Sebentar, ya!" jawab Rayyan yang sudah merasakan panas dalam tubuhnya.
Jean pun mulai bertanya-tanya dalam hati. Mau apa suaminya itu? Ya .... mau apa lagi? Coba para readers pikirkan masak-masak ... hehehe
***
4 Bulan Kemudian
Perut Jean sudah membesar. Menuju akhir trimester kedua, Jean sudah tidak seperti sebelumnya. Fisiknya lebih kuat, bahkan kini selalu rutin berolah raga. Tiga bulan pertama sudah terlewati, masa-masa berat itu kini sudah berganti. Jean seolah menemukan jati dirinya yang sempat memudar karena efek ngidam.
Mereka berdua juga masih di rumah mama Sarah. Sebelum melahirkan, mama Sarah tidak mengijinkan keduanya keluar dari kediaman Wiratmaja tersebut. Lalu bagaimana dengan Rayyan? Pria itu seperti lepas dari penjara. Tiga bulan ia tahan-tahan kini ia bisa melakukan apa saja. Namun, tetap harus hati-hati. Semua harus sesuai anjuran dari dokter. Karena tidak mau hal buruk terjadi pada calon anak mereka.
Ketika Rayyan dan Jeandana sedang menikmati masa-masa penantian kelahiran bayi mereka. Lain lagi dengan Radika dan Elvira.
Rumah Sakit Ibu Dan Anak Cinta Kasih, Jakpus.
Ruang Operasi
Di depan ruang operasi, Radika mondar-mandir. Ini adalah kali pertama ia menemani Elvira saat persalinan. Sebab, kelahiran Zia dan Zio dirinya tidak berada di sisi Elvira.
Ya, Elvira beberapa saat lalu ketubannya sudah merembes. Radika panik karena Elvira akan menjalani persalinan. Beruntung mereka sedang melakukan check up rutin. Saat akan pulang, baru sampai basement, eh ada yang basah di bawah sana. Ternyata ketuban pecah.
Alhasil Elvira langsung dibopong Radika masuk lagi ke rumah sakit. Kini, ia sedang menunggu proses persalinan yang harus dilakukan secara Cesar karena tidak memungkinkan melahirkan secara normal. Ada banyak faktor yang mempengaruhi sehingga Elvira harus operasi.
"Dika ... bisa tidak kamu duduk. Mama pusing lihat kamu mondar-mandir!" protes mama Sarah yang beberapa saat lalu baru datang. Dan semakin gelisah melihat Radika yang jalan ke sana ke mari. Membuat vertigo mama Sarah kambuh.
"Dika khawatir, Ma!"
"Vira sudah ditangani ahlinya. Udah ... kamu duduk. Mama tambah pusing lihat kamu."
"Mama juga jangan marah-marah, nanti tensi Mama naik!" sela Pak Wiratmaja yang juga datang bersama mama Sarah barusan.
Oek ... Oek ...
Seketika mereka yang tadi ribut-ribut langsung diam. Terutama Radika, pria itu tidak sabar ingin masuk ke dalam.
KLEK
Begitu pintu terbuka, Radika sang ayah di bayi, langsung bergegas masuk ke dalam.
"Selamat, Pak Dika ... putrinya lahir dengan selamat, sehat dan kenceng nangisnya."
Sambil menggendong putri mereka, Radika mengecupp kening Elvira dengan dalam.
"Maksih, Sayang .... dan Maafin Mas ya Vira ..."
Elvira hanya mengerjap, ia masih tidak bisa bergerak karena efek biuss. Suasana haru pun berpindah ketika Elvira sudah dipindah ke ruang yang lain.
Kedua keluarga kembali bertemu. Mama Lina senang sekali, sambil mengendong anak ketiga Elvira, ia mendekatkan pada si kembar.
"Kenapa mirip sekali sama papanya?" goda mama Lina.
"Kalau mirip tetangga itu yang aneh, Ma!" celetuk Kalandra.
"Tapi ini mirip sekali loh, coba kamu sini Ren. Mama gak salah lihat kan? Hidungnya, dahinya, bibirnya, semua sama seperti Dika."
Irene pun mendekat, "Iya, mirip banget Ma."
Dika pun mengangkat wajahnya dengan percaya diri. Pria itu dengan bangga memperkenalkan anggota baru di keluarga mereka.
"Hallo Oma, Opa, Om, Tante, Kakek, Nenek ... kenalin ... Naomi Kezia Pradika, Aku cantik, kan?" ucap Radika dengan suara sedikit dilebay-lebaykan.
Semua tersenyum, dan satu persatu menyentuh pipi Naomi dengan gemas. Bayi perempuan yang baru lahir itu mendapat banyak perhatian dari sekeliling orang-orang yang menyambut kelahirannya dengan suka cita.
***
"Jangan cepet-cepet, Sayang!" protes Rayyan melihat Jean jalan begitu cepat padahal sedang hamil besar.
Mereka berdua sedang menuju ruang di mana Elvira dirawat. Jean dan Rayyan baru saja bisa menjenguk, karena Rayyan baru pulang dari perjalanan bisnis.
"Ayo ... aku nggak sabar lihat putri mereka."
"Iya, tapi kamu juga lagi hamil besar, Jean! Astaga."
Jean hanya tersenyum kecil, kemudian meraih lengan suaminya. Menggandeng pria itu sambil berjalan menyusuri lorong rumah sakit.
Sedangkan di depan sana, seseorang wanita terlihat tergesa-gesa. Wanita itu berjalan tanpa hati-hati. Hingga hampir saja menabrak perut Jeandana. Untung, Rayyan sigap dan menarik Jean dalam pelukannya.
"Hati-hati kamu!" sentak Rayyan emosi.
Wanita yang kini berambut pendek itu mengangkat wajahnya, ia mendongak karena mendengar suara yang tidak asing. Sebuah suara yang sangat familiar.
"Rey!" ucap sosok wanita tersebut.
Bersambung
Cuss kenalan ...
Instagrammm : Sept_September2020