
Suami Satu Malam 63
Oleh Sept
Rate 18 +
"Bagaimana dengan anak-anak?"
Mata Elvira sudah memerah, ucapan Radika membuatnya kembali nelangsa. Pria itu kemudi mencengkram pundak Elvira.
"Aku tahu, kamu adalah wanita tangguh. Tidak ada lagi yang ingin ku sembunyikan darimu. Pasti ada jalan, Andra juga sudah janji akan bantu semalam."
"Kenapa harus lari dan lari? Ini negara hukum, tidak bisahkan kita meminta perlindungan pada hukum di negeri ini?"
Elvira marah, rasanya tidak mau lagi mereka harus berpisah.
"Vir! Kamu tidak tahu mereka. Mereka bahkan bisa melengserkan pemimpin dari singgahsananya hanya dengan satu konspirasi!"
"Sehebat apakah mereka? Siapa mereka sebenarnya?"
"Kamu tidak perlu tahu. Yang pasti mereka sangat berkuasa ... Ya sudah, sekarang kemasi barang-barangmu. Mari kita tinggalkan rumah ini. Richard sedang menuju ke sini."
Elvira mengusap wajahnya, tidak bisahkan ia hidup normal layaknya orang-orang di luar sana?
***
Tiga mobil sudah berhenti di depan kediaman tuan Pramana. Radika bersiap pergi bersama anak dan istrinya. Mulanya mama Lina tidak setuju, tapi karena Elvira memaksa, dan juga Andra juga ikut bantu nantinya, mama Lina pun merelakan Elvira ikut dalam pelarian bersama suaminya.
Di mobil paling depan, Tim Alfa masih bekerja dengan pelacak yang terpasang di dalam mobil. Sedangkan mobil tengah, sudah ada Richard di depan dan juga Jeandana.
Wanita itu tengah malam dijemput oleh rekan kerjanya di sebuah rumah sakit. Ada misi khusus, luka sedikit di kepala bukanlah apa-apa bagi wanita seperti Jean. Dia sudah dididik secara militer sejak kecil, lahir dari kalangan keluarga perwira membuat Jean memiliki jiwa satrio. Gatot kaca versi wanita.
"Jean! Kepalamu kenapa?" tanya Radika saat masuk mobil, matanya memperhatikan wanita tersebut. Ia kan ingat ucapan Rayyan kemarin. Radika penasaran, apa adiknya bicara benar atau hanya omong kosong.
"Bukan apa-apa, Tuan. Hanya luka kecil."
Richard diam-diam melirik lewat ekor matanya, ia terlihat mendesis pelan.
[Tuan! Jangan perhatian pada Jean! Tolong! Sedikit perhatian, sama dengan memberi secercah harapan]
Sedangkan Jean, ia kembali memasang wajah serius. Mempelajari MAP dan fokus dengan tugasnya.
Lain halnya dengan Elvira, ia beringsut sedikit. Kemudian menowel lengan Jeandana yang duduk di depan.
"Jean, kita belum bicara lebih lanjut. Bagaimana kabarmu?"
"Maaf Nyonya, saya sedang bekerja. Dan saya harus fokus."
Elvira langsung masam. Kemudian menoleh, dilihatnya Radika juga sedang serius dengan gadget di pangkuannya. Semua terlihat serius, hanya si kembar yang terlihat bercanda satu sama lain.
***
Ruma sakit
Rayyan sedang menemui perawat, ia bertanya ke mana pasian yang semalam ia jaga.
"Sus! Ke mana pasien di kamar Anggrek nomor 8 A?"
"Sebentar, Tuan. Biar kami cek."
Rayyan menunggu sambil melihat sekeliling, matanya memindai semua orang-orang yang lalu lalang di sekitar sana. Mungkin ada Jeandana di antara salah satunya.
"Iya, bagaimana Suster?"
"Atas nama Nona Jeandana?"
"Iya, betul."
"Sudah pulang, di sini tercacat sudah meninggalkan rumah sakit sejak semalam."
"Benarkah? Tapi siapa yang mengurus administrasinya? Bukannya dia masih sakit dan pingsan?"
"Keluarganya, Tuan."
"Oh ... terima kasih, Sus."
"Sama-sama."
Rayyan hanya bisa menghela napas panjang, bibirnya lalu tersenyum. Kenapa juga dia peduli. Siapa wanita itu? Kaga penting juga. Namun, setelah di duduk dalam taksi. Ketika menuju tempat derek mobil, ia malah melamun.
"Tuan ... Tuan!" panggil sopir taksi.
"Kita sudah sampai, Tuan." Kali ini driver tersebut menaikkan nada suaranya. Membuat Rayyan bangun dari lamunan.
"Oh, iya."
Rayyan pun turun dari taksi, kemudian ke tempat derek. Di sana mobil miliknya kini bersanding dengan mobil Elvira yang semalam dibawa oleh Jeandana.
Pria itu kemudian menghubungi Kris, meminta sekretarisnya untuk membereskan segalanya. Lalu ia kembali ke rumah. Masih dengan pakaian yang sama seperti semalam. Tiba di rumah, ia langsung membersihkan diri. Melakukan aktifitas seperti biasa.
***
sedangkan di sebuah tempat, Jendana membuka pintu untuk Elvira, kemudian mengendong Zia. Ini adalah pertemuan pertama bagi keduanya, tapi Zia yang emang mudah sekali didekati, mau saja digendong Jean.
Sementara itu, Zio minta digandeng saja sama mamanya. Dan di sebelahnya ada Radika yang menelpon seseorang. Mereka semua pun masuk ke dalam sebuah Villa. Sebuah tempat yang dikelilingi pagar besi, dengan banyak penjagaan ketat.
"Sayang, bawa anak-anak masuk dulu," seru Radika masih sambil menelpon.
"Jean! Jaga mereka!" tambah pria tersebut sambil melirik Jeandana. Jean pun mengangguk.
Ketika Elvira sudah masuk bersama yang lain, Radika sedang menunggu seseorang. Ia sedang janjian juga dengan seseorang yang bisa menyerang pihak lawan. Cukup baginya lari dan bersembunyi. Sesuai anjuran Kalandra, mereka harus mengumpulkan banyak kawan untuk menyerang lawan.
Sesaat kemudian, rombongan mobil datang memasuki kawasan Villa. Para pimpinan pengusaha besar yang cukup memiliki kekuasaan di negara itu, satu persatu mau menolong Radika. Ditambah deru helicopter yang sudah menderu-nderu minta turun.
Terlihat dari layar CCTV yang diperiksa oleh Richard, rombongan pertama, Sinaga datang bersama Narendra. Kakak Moza yang juga memiliki banyak jaringan di luar negri itu pun ikut membantu.
Disusul rombongan kedua yang baru saja turun dari helicopter, Rama beserta para anak buahnya. Jangan pandang remeh ubannya. Meski tidak lagi muda, Rama memiliki jejak kelam yang ditakuti beberapa orang besar di luar sana.
Jaringan Rama lebih besar, ia terkenal lebih kejam dari pada sosok Marco. Rama bahkan bisa membunuhh tanpa menyentuh. Lah ... main santettt... Bukan. BIG NO! Wkwkwkk
Bersambung
Kalau mau tahu siapa Sinaga, Rendra, dan Pria berdarah dingin Rama. Bisa baca "Istri Gelap Presdir" dan "Suamiku Pria Tulen"
Mengandung Iklan wkwkwk
Terima kasih sudah membaca tulisan septt hehe....