
Suami Satu Malam Bagian 29
Oleh Sept
Rate 18 +
Seperti bab sebelumnya, skip untuk di bawah 18 tahun. Nantang baca, didoain timbilen. Yakin deh! Kawasan rawan, hanya untuk mereka yang sudah umurnya cukup. Jangan nyalahin apa-apa, cukup siapin jantungnya!
***
Malam yang sunyi di pulau sepi tanpa penghuni. Gemrisik angin malam yang menyapu pepohonan di sekitar villa, tidak terdengar sampai kamar Radika. Kamar yang kini tidak serapi sebelumnya.
Ada handuk yang berserak, bantal dan guling berserakan. Gelas kosong di atas nakas dan cahaya lampu yang temaram. Benar-benar akan jadi malam panjang untuk pasangan pengantin baru tersebut.
"Mungkin akan sedikit perih! Tapi tahan!"
Cup
Radika mengusap kedua pipi Elvira dengan lembut, kemudian perlahan menempelkan bibir mereka kembali. Ia menyesapnya sebentar, kemudian menarik wajahnya untuk sesaat. Kini ia sedang fokus pada yang lain, yaitu untuk menaman benih, bibit yang ia harapkan akan tumbuh dan berkembang dalam rahim istrinya tersebut.
"Perih!" lirih Elvira.
"Aku tahu, tahan ya ... sempit banget!" bisik Radika sembari mencoba mengalihkan perhatian Elvira. Ia mencoba untuk membuat Elvira lupa perih karena pergulatan mereka.
Dengan sabar, ia kembali membelai wanita tersebut. Kembali membuat Elvira mengeliat dengan jari-jarinya yang sudah kembali professional.
"Mas!!" Elvira mendesis lirih, dan membuat Radika semakin terbakar oleh api gejolak dalam tubuhnya.
Dirasa Elvira sudah kembali memanas, ia pun melakukan lagi kegiatan inti mereka. Naik turun dengan irama yang beraturan, kemudian semakin lama frekuiensinya semakin naik dan naik.
Radika menambah kecepatan, hingga membuat Elvira terbiasa menikmati rasa sakit campur perih tersebut, sebenarnya Radika tidak tega. Namun, ada yang harus ia tuntaskan. Jika tidak, bisa-bisa seharian ini kepalanya akan pusing.
Karena sudah kepalang tanggung, dan juga ada yang ingin keluar di ujung sana. Radika pun langsung saja gasss!!!
"Sayang!!!!" pria itu mendesis.
......
......
.....
.....
Terdengar suara-suara berisik seperti khas malam-malam suami istri ketika olah raga malam. Jangan tanya suara apa itu, yang jelas suara-suara yang membuat resah gelisah.
[Sakit! Rasanya sakit sekali! Aku merasakan seperti kulitku robek! Mengapa sesakit ini!]
[Benda itu memghunjam tanpa ampun, Mas Dika menyerang tanpa jeda setelah membuatku panas tak berdaya]
[Inikah malam pertama? Sakit! Tapi aku menikmatinya!]
[Terima kasih, sudah memberikanku malam pertama yang tidak mungkin bisa aku lupakan!]
Dengan mata yang masih tertutup, Elvira perlahan membuka mata. Ia meraih tubuh suaminya. Melingkarkan lengannya pada leher si pria. Dengan berani pula ia menariknya sedikit, kemudian menciium Radika duluan.
Kaget! Radika membuka matanya lebar-lebar. Terlalu bersemangat karena tindakan Elvira barusan, pria itu pun semakin berkobar.
Dengan semangat 45, Radika kembali memacu gerakannya. Naik turun semakin cepat, tidak peduli lagi pada napas keduanya yang saling memburu. Malam ini adalam milik mereka.
Tidak tahan, tubuh Elvira mengeliat, kuku-kukunya bahkan sudah menghasilkan cakaran-cakaran bak karya seni lukis di punggung bidang Radika. Mengambarkan sensasi sakit dan nikmat campur jadi satu.
Keduanya benar-benar menikmati Nirvana dunia yang selalu dinantikan oleh pasangan suami istri setiap malam. Dan sepertinya, keduanya akan lembur sampai pagi!
Jrushhhh
Jrushhhh
Jrushhhh
Entah sudah berapa kali tusukan, yang jelas sepertinya Radika sudah tidak tahan lagi. Rahangnya mengeras, matanya terpejam. Dan .....
"Sayang!"
.....
Keduanya pun sama-sama menegang. Dan untuk pertama kalinya, akhirnya semburan lava pijar langsung memenuhi rahim Elvira. Cebong-cebong calon benih sultan itu langsung saja meluncur ke wadah yang sudah disediakan.
Bukkkkkk
"Astagaaa! Begini rupanya rasanya!" batin Radika saat mengecupp dahi istrinya.
"Sakit, Vir?"
Ditanya begitu, Elvira malu. Ia hanya menengelamkan wajahnya dalam-dalam ke pelukan Radika. Hangat, nyaman dan merasa aman di dalam dekapan pria tersebut.
"Maaf ya! Punya kamu sempit."
BUGH
"Aduh!" Radika terkekeh.
Sedangkan Elvira, pipinya merona karena malu. Ia langsung saja meninju Radika karena terus saja meledek.
"Kita jeda sebentar, tapi nanti sambung lagi, ya?" pinta Radika.
[Astagaaa! Sudah loyo begitu mau nambah?]
Elvira terus saja berjibaku dengan hati kecilnya.
"Vir! Jangan tidur!" protes Radika yang tidak mendapat tangapan dari Elvira saat diajak bicara.
"Hemm!"
"Hemmm apa? Baru satu nih," protes pria tersebut. Namun, dengan nada bercanda dan menggoda.
"Iya, Mas! Ish!" Vira masih fokus pada rasa perih yang berdenyut di bawah sana. Tapi suaminya malah mau lagi.
"Nanti Kita bikin banyak anak ya, Vir!"
Elvira spontan mendongak, dan ia malah langsung dapat kecupann bertubi-tubi. Terlihat sekali bahwa milyader tersembunyi itu kini sedang dilanda virus bucin.
"Bentar, Mas. Aku haus ... dan mau ke kamar mandi. Rasanya lengket."
Radika mengangguk kemudian melepaskan lengannya yang sejak tadi memeluk tubuh Elvira.
[Aduh, apa-apaan ini? Buat gerak kok sakit begini?]
"Vir? Kamu oke kan?" Radika khawatir saat Elvira mau turun dari ranjang malah kelihatan kaku saat berjalan.
"Gak apa-apa! Iam okey!!!!!" jawab Elvira tanpa berbalik menatap suaminya.
Melihat Elvira yang jalan seperti bebek, Radika tersenyum geli. Pria itu kemudian mengambil handuk dan memakainya. Setelah itu ia berjalan ke arah Elvira, dengan sekali gerakan, Radika membopong tubuh Elvira ke kamar mandi.
"Udah! Udah ... turunin di sini!"
Setttt
Setelah turun, Elvira dapat kecupann lagi.
"Aku tunggu di luar! Kalau udah selesai panggil saja!"
"Ish!"
KLEK
Elvira lantas menutup pintu, sambil menepuk pipinya. Ia menatap kaca besar di depannya, tiba-tiba tersipu malu saat ingat kejadian barusan.
[Elvira jangan gila]
Wanita itu menggeleng keras saat terbayang-bayang tubuh tegap itu berada tepat di atasnya. Yes, sudah tidak perawan lagi. Elvira seperti orang gika betulan, ia tersipu dan tersenyum penuh kemenangan di dalam sana seorang diri.
Sedangkan Radika, pria itu kini berkacak pinggang saat menatap ranjang yang berantakan. Sudut bibirnya tertarik, menyiratkan seutas senyum puas atas apa yang sudah ia hasilkan.
Matanya terlihat sombong saat menatap bercak darah di atas kain polos tersebut. Sekali tarikan, ia langsung membawa sprai bersejarah itu. Ia masukkan ke dalam keranjang. Kemudian mengambil satu lagi yang baru, yang siap ia nodai lagi malam ini.....
Lembur ya gaes. Lima ronde!!!
Kuat!!!!
Bisa!!!!
Wkwkwkwkwk
Jangan inget malam pertama masing-masing.... wkkwkwk berapa ronde bukkkkk? Hahhahahahah