Suami Satu Malam

Suami Satu Malam
Mode Siaga


Suami Satu Malam 49


Oleh Sept


Rate 18 +


Setelah meluapkan amarahnya dengan mengupat sang suami, Elvira langsung mematikan ponsel saat itu juga. Sekarang, ganti dirinya yang tidak mau menjawab panggilan telpon dari siapapun. Meskipun itu dari Radika, suaminya. Padahal, sudah seminggu ini ia tidak mendengar kabar dari pria tersebut. Tapi, begitu Radika telpon, ibu yang sedang hamil itu malah marah-marah tidak jelas.


Rahangnya mengeras, sepertinya ia sudah siap menghajar pria itu. Pria yang tujuh hari tujuh malam ini membuat hidupnya tidak tenang. Malamnya terasa panjang dan membuatnya resah. Tidak adanya sosok Radika di sisi, nyatanya membuat Elvira merasa begitu kehilangan.


Lima menit pun berlalu, sambil melirik ponselnya dengan perasaan kesal campur marah, tapi sesungguhnya kangen. Namun, Elvira menepis rasa di dadanyaa itu. Ia mau memberikan pelajaran pada sang suami. Agar tidak melakukan hal seperti ini lagi.


Tok ... tok ... tok ...


Elvira menoleh, ia menatap pintu besar yang diketuk dari luar tersebut. Ingin cuek dan acuh, tapi malah ketukan itu berulang tanpa henti.


"Masuk!" ucap Elvira ketus. Marah kepada Radika, Jean yang kena awan panasnya. Nasib!


Jean masuk sambil membawa ponsel yang masih menempel di telinganya. Sepertinya ada telpon penting dan mendesak.


"Nona, ada panggilan dari Tuan Radika, Tuan ingin bicara penting pada Nona," seru Jendana sembari mengulurkan ponsel milik bodyguard tersebut.


Tidak bisa menghubungi Elvira, Radika langsung menelpon penjaga istrinya tersebut. Pria itu menjadikan Jean sebagai konektor antara ia dan Elvira. Ini semua karena Elvira mematikan ponselnya.


"Nona," panggil Jeandana lagi karena Elvira terlihat enggan mengambil ponsel milik Jean.


Seketika Elvira tersenyum getir, "Katakan padanya! Aku tidak mau bicara!" ketus Elvira. Wanita itu menolak berbicara. Sudah dikuasai oleh api amarah yang siap membakar.


Elvira kemudian malah menggambil kain tebal tanpa motif. Berbaring, kemudian menarik selimut untuk menutupi seluruh wajahnya. Pokoknya ia sedang marah, merajuk, ngambek pada suaminya tersebut.


"Tapi, Nona ...!" Jeandana jadi bingung sendiri. Menghadapi BUMIL (Ibu-ibu hamil) rupanya sangat merepotkan. Lebih baik mengejar maling jemuran tetangga, dari pada menghadapi satu orang seperti Elvira. Mau dikerasin tapi istri Bos. Mau dilunaki tapi bikin gregetan. Jeandana hanya bisa menarik napas panjang.


"Tolong tutup pintunya, kamu tahu letak pintunya, kan?" usir Elvira halus.


Semakin pusing lah si Jendana, sambil berjalan menuju pintu kamar ia berbicara pada Radika lagi. Dan Elvira memasang telinganya dengan tajam, wanita itu hendak menguping.


"Maaf, Tuan. Nyonya tidak mau bicara," ucap jean di telpon. Sembari ia terus berjalan.


"Loudspeaker!" perintah Radika tegas.


Seketika Jeandana langsung putar balik, ia berbalik dan meletakkan ponselnya di atas nakas. Agar suara Tuan besarnya itu terdengan oleh ibu juragan.


"Jean! Letakkannya ponselnya di dekat Vira!" titah pria tersebut.


"Baik, Tuan ... sudah!" ucap Jean.


Sedangkan Radika, pria itu mulai tidak bisa fokus mendengarnya suara dari seberang telpon, karena di dekatnya sangat bising.


"Hallo ... Halooo?" terdengar Radika teriak-teriak. Ia sama sekali tidak mendengar apapun, karena deru helicopter yang sudah menunggunya.


Tut ... Tut ... Tut ...


Pria itu sengaja memutus sambungan telpon, kemudian berlari menuruni tangga darurat. Membiarkan pilot dan para anak buahnya menunggu di atap gedung.


Drettt .... Drettt


Ponsel Jeandana kembali berdering dan bergetar, Elvira mau ikut melihat, tapi terhalang dinding gensi yang ia bangun tinggi-tinggi sekali (auto nyanyi).


"Mana Vira?" tanya Radika dengan wajah serius. Yang tertangkap di layar hanya wajah tegas sang bodyguard. Lalu ke mana istri kesayangannya tersebut?


Jean pun mengarahkan camera ponsel ke atas ranjang. Di sana hanya ada gundukann kain selimut, sepertinya Elvira ada di balik selimut itu, tebak Radika dalam sekali tatapan saja.


Sebenarnya ia juga sedang dikejar waktu. Heli sudah menanti dirinya untuk segera naik. Namun, ketika membaca pesan-pesan Elvira tadi, ia tidak bisa mengabaikan lagi. Apalagi pakai ancaman Rayyan. Pria itu kan sangat membenci mantan suami istrinya tersebut. Meski adiknya sendiri, pokoknya Radika gedek banget sama seongokkk daging berlabel Rayyan tersebut.


"Vira! Dengarkan aku!" ucap Radika dengan suara keras.


Setelah menghela napas panjang di balik kain tebal itu, Elvira lantas membuka kain selimutnya, lalu melirik sedikit pada ponsel Jean. Masih dengan muka masam, ia akhirnya saling menatap meski secara virtual.


Di tangga darurat


"Angkat tanganmu!" seru seorang pria berpostur tinggi besar layaknya algojoo.


Pria itu menodongkan sesuatu di balik kepala Radika.


[Apa itu tadi?]


Elvira panik saat Radika langsung memutus sambungan Vcall mereka secara sepihak, padahal mereka belum bicara. Wanita itu sempat mengamati wajah Radika yang berubah tegang. Ditambah ia sempat juga melihat bayangan lengan di balik tubuh sang suami.


"Jean!!! Ada apa ini?"


Elvira mencoba menghubungi lagi nomor itu, tapi sama sekali tidak ada nada sambungnya.


"Jeannn!!" teriak Elvira histeris. Tubuhnya mendadak lemas, perutnya langsung mulas.


"Jean! Antar aku ke sana ... aku mohon Jean!" tambah Elvira, ia menarik baju Jeandana. Meminta pada wanita itu untuk menolong suaminya. Firasatnya tidak enak, ia merasa Radika dalam bahaya besar.


"Nona, tenanglah!"


Jeandana kemudian menghubungi seseorang, ia menjauh sebentar dari Elvira yang masih shock dan histeris.


"Alfa! Ganti!" seru Jeandana. Sambil memegangi earphones yang terpasang di telinga.


"Urgent! Beta! Ganti!" ucap sosok di balik komputer.


Jeandana langsung berlari keluar. Ada keadaan genting, dan ia harus memastikan mansion tetap aman.


"Richard! Nyalakan mode darurat!" seru Jeandana sembari berteriak agar pria itu segera melakukan perintahnya.


Seketika, para penjaga mengeluarkan semua anjinggg di kandang. Mereka semua lalu bersikap siaga. Memegang senjataa masing-masing.


Tap tap tap


Elvira seperti orang kebingungan, melihat suasana mansion yang bisanya sepi kini terlihat menegang.


Richard berdiri di balik pilar, sudah siap dengan posisi menembakk. Sedangkan Jeandana, bodyguard khusus itu langsung menarik Elvira untuk masuk ke ruang bawah tanah.


"Jean! Ada apa ini? Tolong jelaskan padaku, bagaimana dengan suamiku?"


Terlalu berisik, Jean mengeluarkan sesuatu dari balik sakunya. Kemudian dengan cepat mendekatkan benda itu ke wajah Elvira.


Hitungan detik, wanita itu langsung pingsan. Dengan mudah Jeandana membawa wanita tersebut ke dalam ruang bawah tanah. Di mana tempat itu sangat aman untuk Elvira dan calon penerus kerajaan bisnis terselubung milik Radika Dirgantara.


Bersambung