Suami Satu Malam

Suami Satu Malam
DRAMA ARWAH


Suami Satu Malam 59


Oleh Sept


Rate 18 +


"Ma ... Mama!" panggil Elvira begitu memasuki ruang tamu, terlihat sepi. Yang ada hanya bibi yang sedang membersihkan rumah.


"Bi, mama ke mana?"


"Di taman belakang, Nya. Sebentar ... Munah panggilin," ucap Maemunah. ART paling cantik di kompleks itu.


"Nggak usah, bi! Biar kami ke sana."


Elvira menolak halus, kemudian ia mengajak suami serta anak-anaknya.


Dari tempatnya berdiri Munah terus saja memperhatikan. Dia tidak kenal dengan Radika, sebab 4 tahun ini dia baru bekerja di rumah itu. Menggantikan bibinya yang sakit.


Sambil berjalan, Radika terus saja menatap sudut demi sudut rumahnya yang ternyata masih sama seperti saat lima tahun lalu. Tidak ada perubahan besar, hanya saja ada kamar tamu yang sepertinya sudah direnovasi. Sepertinya itu kamar anak-anaknya jika menginap di rumah oma dan opanya.


"Apa mereka sering ke sini, Vir?" tanya Radika ketika ketika mereka melewati kamar tamu saat akan ke taman.


"Nggak juga, paling sebulan sekali. Lebih sering ke rumah mamaku. Anak-anak suka main dengan Kimora."


"Oh, iya ... Mas tahu itu."


Sambil jalan, mereka masih mengobrol. Bicara tentang apa saja yang mereka lakukan, meskipun Radika sebagian sudah sangat paham dan tahu betul.


"Omaaa!" teriak Zia kemudian melepas gandengan sang mama.


Anak kecil itu begitu antusias ketika melihat omanya. Apalagi, sang oma kala itu sedang membawa sekotak makanan untuk ikan. Pasti mau memberi makan ikan-ikan hias yang ada di samping rumah.


"Oma! Zia ikut!"


Anak itu kemudian menggandeng tangan mama Sarah, mama Sarah belum sadar ada Radika, sebab kehalang pilar besar.


"Ayo sini, kasih makan ikan Oma!"


Mereka pun berdiri di depan kolam yang terkenal akan pembawa keberuntungan tersebut.


Banyak sekali ikan koi mahal yang mama Sarah miliki. Namun, tidak semuanya sih mahal. Ada beberapa yang harganya mulai dari ratusan ribu. Seperti ikan Koi Showa sanshoku, Koi Tancho, Koi Shiro Utsuri, Koi Kumplay Slayer dan banyak lagi yang dikoleksi olah mama Sarah. Lebih tepatnya tuan Wira sih, karena itu adalah hobby Tuan Wira.


"Ma!" panggil Radika ketika sang mama fokus pada ikan-ikannya bersama anak-anak.


Suara yang tidak asing dan sangat familiar itu membuat jantung mama Sarah mau copot, tiba-tiba saja hatinya dag dig dug.


[Ya Allah, apa aku sangat merindukan putraku? Hingga berhalusian bawah dia memanggil namaku?]


Mama Sarah memegangi dadanyaa yang sesak, ia tidak mau menoleh, melihat siapa yang memanggil. Ia pikir itu hanya ilusi.


"Ma!" panggil Radika sekali lagi karena sang mama malah acuh. Ish.


"Mama," panggil Elvira kemudian karena tidak tega suaminya malah dicuekin.


[Jangan biarkan hatiku terus merindukannya, kasian anak-anak ini ... kasian menantuku yang malang]


Mendengar suara Elvira, mama Sarah malah menangis. Kemudian berbalik. Maunya sih menyapa, eh tak tahunya ia malah mendapat dibuat spot jantung.


Mama Sarah mengosok matanya, lalu memakai kacamata yang semula menggantung pada lehernya.


[Oma rasa oma makin tua, harus ganti kaca mata]


[Oma sepertinya harus ke psikiater juga sepertinya]


[Apa karena sangat kangen? Hingga oma berhalusi. Ya ALLAH ... kasian kalian]


Mama Sarah malah memeluk Zia dan Zio bergantian. Ia benar-benar cuek pada Radika.


[Astaga mama! Bahkan dia mengabaikanku]


Radika langsung melipat tangan dan nampak kesal. Ingin disambut dengan rasa yang mengharu biru, tidak tahunya malah mamanya bahkan seolah menganggap ia bagai arwah.


"Oma kenapa nangis? Mana yang sakit? Apa digigit semut?" tanya Zia yang dipeluk omanya sambil terisak.


"Iya, semutnya jahat sekali. Kaki Oma sampai sakit!" Mama Sarah malah bohong.


Sedangkan Radika, ia hanya tersenyum tipis seolah mencibir jawaban ibu yang lama tidak berjumpa itu. Baru ketemu malah dicuekin, Radika tambah kesal.


"Suamimu? Jadi kamu juga melihat arwahnya?"


"Mana ada arwah gentayangan siang-siang?" celetuk Radika yang terlihat sedikit gusar.


"Di-Di-Dika?" bibir mama Sarah bergetar, ia sampai terbata memanggil nama putranya sendiri.


"Jadi ... jadi kamu asli, Nak?"


Radika menghela napas dalam-dalam, ia tidak menyangka. Mama Sarah rupanya sama saja dengan bi Surti.


"Imitasi, Ma!"


BUGH


"Aduhhh!" Radika meringis saat Elvira menonyor lengannya.


Pria itu kemudian terkekeh dan merangkul bahu istrinya. Ia kangen dipukuli oleh istrinya itu.


Melihat Radika memeluk Elvira, mama Sarah tambah yakin, dia tidak sedang halu. Dengan gerakan cepat, ia langsung menghambur dan memeluk Radika erat.


"Paaa! Papa!!! Dikaaa Paa!"


Tuan Wira yang ada di balkon sambil minum kopi langsung melongok ke bawah. Melihat Radika kembali, ia pun mengerjap. Kemudian melepas kacamata, lalu mengosok lensa kacamatanya itu. Jangan-jangan ia salah lihat.


"Pa!" panggil Dika sambil melambaikan tangan.


"Dika?"


Papa pun turun dari sana, ia kemudian menyusul anak serta cucu-cucunya.


"Kamu masih hidup?" tanya tuan Wira sambil memeluk Radika penuh kerinduan.


Sedangkan dari jauh, Rayyan hanya memperhatikan dari tempatnya berdiri. Ia masih memikirkan perempuan yang menyimpan foto Radika.


[Siapa dia?]


[Ke mana selama ini Mas Dika sembunyi?]


[Apa Elvira tahu tentang wanita itu?]


"Piii!" panggil Zio yang melihat sosok Rayyan yang berdiri saja di sana.


Rayyan pun mengangguk, dan tersenyum tipis. Ia berjalan mendekati keluarganya yang baru melepaskan rindu. Ketika ia sudah dekat, dan ikut mengobrol tiba-tiba Rayyan membahas sosok wanita yang tadi. Saat Elvira tidak ada tentunya. Rayyan membahas saat mereka benar-benar hanya berdua.


"Siapa wanita itu?"


"Hah?"


"Aku lihat dia menyimpan poto Mas Dika dalam liontin miliknya."


"Bicara apa kamu, Ray?"


"Jangan sakiti Elvira dan anak-anak!"


"Aku rasa kau sudah lupa tempatmu!" cibir Radika yang mulai emosi.


Keduanya lalu saling menatap tajam.


"Sekali lagi Mas Dika pergi, aku tidak akan menahan diri!"


BRUAKKK


Bersambung


Banteng ngamuk! Ray! Jangan mancing Dika. Mancing itu ditambak, bukannya mancing perkara. Heheheh



Mengandung Iklan .... hihihi


Yuk, kenalan sama SEPT


IG : Sept_September2020


Fb : Sept September