
Suami Satu Malam Bagian 34
Oleh Sept
Rate 18 +
"Gio plissss! Tolong pergi dari sini sebelum orang-orang melihat. Nanti malem aku bakal ke tempat kamu!" Eriska menoleh ke sana ke mati. Ia nampak gelisah memperhatikan keadaan. Untung Rayyan sedang bersama tamu-tamunya. Tapi tetap saja ia masih khawatir kalau sampai ketahuan.
"Janji?" tanya Gio untuk meyakinkan bahwa Eriska tidak sedang berbohong.
"Janji! Nanti malam aku bakal ke tempatmu!"
"Awas kalau tidak datang! Akan kuhabisi dia!" ancam Gio dengan wajah mengerikan.
"Janji! Gue janji!"
Tap tap tap
Eriska terus berdoa dalam hati agar Gio segera pergi dari sana. Dan ketika Rayyan mendekat, Gio sudah menghilang. Lenyap di balik kerumunan para tamu undangan.
"Aku lihat tadi kamu bicara sama seseorang, siapa?"
"Klien!" jawab Eriska singkat.
Ia tidak berani bicara sambil menatap mata calon suaminya. Karena sedang berbohong, takut ketahuan.
"Ya sudah! Acara mau mulai. Ayo!"
Dengan lembut Rayyan merangkul bahu Eriska. Mereka berdua menuju tempat yang sudah disediakan oleh WO yang mereka pilih untuk mengantur acara pernikahan keduanya.
***
Di meja keluarga terlihat mama Sarah tidak bahagia, raut wajahnya seperti orang yang datang ke acara tersebut karena paksaan. Begitu juga dengan tuan Wira. Papa dari Rayyan tersebut juga sepertinya tidak suka dengan pilihan putranya itu.
Selain karena belum lama bercerai, tuan Wira juga kurang suka dengan keluarga Eriska. Entah mengapa, ia memiliki firasat yang kurang bagus pada keluarga calon besannya yang ke dua ini. Lain halnya dengan keluarga Elvira, ia sudah klop.
Sayang sekali, baik Elvira dan sang putra tidak hadir dalam pesta pernikahan Rayyan dan Eriksa. Karena keduanya masih menikmati bulan madu mereka.
Singkat cerita, acara ijab Kabul pun berjalan dengan lancar. Akhirnya Eriska mendapat apa yang ia mau. Yaitu menjadi Nyona Dirgantara karena berhasil menikah dengan Rayyan. Meski mahal atau mas kawin tidak se-Wow milik Elvira, Eriska tetap bersyukur. Asal pernikahan ini tidak gagal, ia merasa sudah aman.
***
"Kami pulang dulu!" pamit Mama Sarah dengan dingin.
"Makasih, Ma! Sudah mau datang dan mendoakan kami!" ucap Eriska dengan senyum yang dibuat sangat manis.
Mama Sarah hanya mengangguk, kemudian memeluk Rayyan. Sepertinya berat sekali melihat Rayyan menikahi Eriska. Filling orang tua kadang samar tapi tepat.
"Papa balik, ya!" ganti tuan Wira yang pamit.
"Makasih, Pa!" Rayyan memeluk papanya dengan hangat.
Setelah keluarga mempelai putra pergi, ganti keluarga Kazoe yang pamit.
"Papa titip Riska!" pinta tuan Kazoe.
"Iya, Pa!"
"Riska! Hubungi Mama kalau ada apa-apa!" sela Nyona Marisa dengan sorot mata tajam.
"Iya, Ma. Pasti!" jawab Eriska ketus.
"Ya sudah, kalian istirahatlah. Mama dan Papa akan segera pulang."
"Hati-hati, Pa?"
Tuan Kazoe mengangguk kemudian pergi bersama Nyona Marisa.
***
Kamar pengantin, kamar khusus yang dihias untuk pengantin baru tersebut.
Bukkkkkkk
Rayyan langsung merebahkan tubuhnya, sedangkan Eriska. Wanita itu pura-pura membuat minuman. Tanpa sepengetahuan Rayyan, Eriska mengambil sesuatu dari dalam tas. Kemudian menaruh serbuk ke dalam minuman untuk suaminya.
Tap tap tap
Eriska berjalan dengan hati berdebar, ia takut bila ketahuan.
"Minum dulu!" ujarnya saat melihat Rayyan malah memejamkan mata. Sepertinya suaminya itu ngantuk sekali.
"Sayang, bangun donk!" Eriska terus saja berusaha membuat Rayyan minum minuman buatannya.
"Hoaaam! Ngantuk banget."
"Minum dulu!" buru-buru Eriska memberikan minuman.
Tanpa curiga, Rayyan langsung menengak habis minuman yang berisi obat tidur tersebut. Dan hitungan menit, pria tersebut kembali menguap berkali-kali. Tidak butuh waktu lama, Rayyan akhirnya tertidur juga.
***
Apartment Gio.
[Menyusahkan sekali! Mengapa aku harus ketempat pria gila itu? Kalau aku tidak datang, dia pasti mangan!]
[Apa aku racunn dia, malam ini?]
[Pria brengsekkk! Berani sekali dia menyentuhku saat aku lengah! Ah, sialann! Mengapa jadi seperti ini?]
Tok tok tok
Eriska langsung berhenti mengerutu tak kala pintu di depannya terbuka. Dilihatnya Gio sudah menunggu. Pria itu bahkan hanya mengenakan handuk kimono, dengan segelas botol minuman di tangan.
Pria tersebut mungkin sudah bersiap menyambut Eriska. Wanita yang ia incar sejak lama. Dan kini berhasil mengandung anaknya.
"Aku hanya bisa dua jam di sini! Lakukan apa yang kamu mau! Tapi tolong jangan usik kami!" cetus Eriska dengan wajah masam.
"Apa kau bilang?" Gio mencengkram rahang Eriska dengan keras. Ia tidak suka mendengar kata-kata wanita tersebut.
"Giooo! Aku sudah menikah! Tolong kamu hargain pilihan aku!"
"Wanita jalanggg!!!! Bicara apa kau ini? Mudah bagiku membuatmu menjadi janda! Apa harus ku lenyapkan pria itu sekarang?"
"Giooo! Awas kalau kau macan-macam! Awas jika kau menyentuh Rayyan!"
"Berani kau mengancam?" Gio langsung mendorong tubuh Eriska hingga wanita itu mengadu kesakitan karena membentur sesuatu.
"Aduh!"
"Kau baik-baik saja?" Seperti psikopat, setelah mendorong tubuh Eriska, kini pria itu nampak begitu sangat khawatir.
Marah, Eriska menepis tangan Gio.
"Aku nggak apa-apa!" tepisnya.
"Maafkan aku! Apa aku menyakiti bayi kita?" Dengan lembut Gio mengusap perut Eriska. Pria itu benar-benar psikopat parah. Tidak peduli dengan Eriska yang memasang muka masam. Ia malah langsung menundukkan wajahnya, menciium Eriska dengan lembut.
Wanita itu berusaha menolak, tapi tangan Gio sudah masuk dalam dress yang ia kenakan. Bermain-main dengan benda yang pasti bukan haknya.
Pertama Eriska mundur, menolak dan tidak mau larut bersama permainan Gio. Namun, pria itu begitu terlatih. Hingga lama-lama tubuh Eriska pun bereaksi. Tidak tahan, Gio langsung melepas jubah kimono yang ia kenakan. Ia baringkan wanita hamil tersebut. Menyentuhnya perlahan, dari atas sampai bawah. Ia ciptakan sensasi yang tidak bisa ditolak oleh wanita yang kini terlentang di bawah kuasanya.
Malam ini adalah malam pengantin Rayyan. Namun, diwakilkan oleh pria lain. Eriska tidak sadar, ada kamera yang sedang merekam pergulatann mereka malam ini. Malam yang penuh suara-suara lirih disertai gerakan liar Gio yang membuatnya merintihh.
***
Pagi hari, Rayyan bangun dengan memegangi kepalanya. Entah berapa dosis yang diberikan Eriska. Yang jelas bangun tidur, ia merasakan pusing yang hebat.
[Apa semalam aku ketiduran?]
Rayyan melirik sosok wanita yang tertidur di balik selimut. Saat sedang mengamati Eriska yang terlelap, ponsel di atas nakas terus saja berbunyi.
"Siapa pagi-pagi sudah menganggu?"
Rayyan dengan malas-malasan meraih ponselnya. Pria itu mengerutkan dahi ketika ada pesan video masuk.
[Apa ini]
Sambil mengosok mata, Rayyan pun mendownload file berbetuk video itu karena penasaran.
Hitungan detik, saat baru beberapa saat video berhasil sempurna diunduh. Ia pun memutar rekaman yang memperlihatkan kegiatan biasa dilakukan oleh suami istri tersebut.
Ia masih belum curiga, karena wajah si perempuan tertutup tubuh si pria. Namun, di menit berikutnya, matanya menatap tajam. Ia terbelalak, jantungnya tiba-tiba meletup-letup. Darahnya sudah melonjak sampai ke ubun-ubun. Dengan kasar, ia menyibak selimut tebal yang menutupi tubuh Eriska.
"Bangun!!!! Wanita brengsekkk!"
Bersambung.
Waduh!