Suami Satu Malam

Suami Satu Malam
Tongkat Hansip


Suami Satu Malam Bagian 28


Oleh Sept


Rate 18 +


Demi kedamaian Nusantara, anak-anak dibawah 18 tahun mundur. Kalau sampai baca, pasti timbilen! Pasti. Yang jomblo jangan ngiler, langsung cari pasangan, sebelum berkarat. Untuk yang sudah menikah dan memiliki pasangan halal, yuk mojok. Selamat berhalu. Peringatan, sebaiknya nyalakan kompor. Hanya saran. Tapi harus dicoba.


***


"Ayo! Kamu mau aku gendong?" wajahnya nampak serius. Namun, pria itu sedang berniat mengerjai Elvira.


Elvira pun langsung mundur. Kakinya reflek mundur begitu saja. Melihat istrinya panik, Radika hanya tersenyum tipis. Pria itu kemudian melepaskan bajunya dengan santuy.


"Kalau masih canggung, Mas duluan. Kalau berubah pikiran, masuk saja! Pintunya tidak aku kunci." Setelah mengatakan hal itu, Radika lantas berjalan menuju kamar mandi.


[Ya ampun ... apa ini?]


Elvira memegangi jantungnya yang serasa meletup-letup.


Lima belas menit kemudian, Elvira masih duduk di sofa kamarnya. Ia sedang menunggu Radika selsai mandi. Tapi, ini kok lama sekali. Ia hanya diam saja, tidak berani memanggil atau bertanya.


KLEK


Baru juga ia membatin dalam hati, yang diomongin muncul dari balik pintu dengan hanya berbalut handuk putih yang dililitkan di pinggang.


[Astaga!] Elvira menjerit dalam hati, ia membuang muka. Menutup mata rapat-rapat.


"Aku tadi menunggu di dalam. Kirain kamu nyusul!" ucap Radika santai. Pria itu kemudian duduk tepat di sebelah Elvira.


"Eh!"


Elvira semakin panik saat Radika mau berbaring di pangkuannya.


"Aku mau mandi!" Elvira mencari alasan untuk menghindar.


"Tadi diajak bareng nggak mau!" cibir Radika.


"Ya sudah! Jangan lama-lama!"


Buru-buru Elvira beranjak, ia mengambil handuk dan langsung ngibrit ke kamar mandi.


[Ya ampun ... ya ampun! Vira!!!! Berapa umurmu? Mengapa kamu nervous begini? Dia hanya Radika!]


[Ya ... hanya Radika! Astaga! Karena dia Radika jadi jantungku gak bisa terkontrol! Ish!]


Elvira menatap cermin besar di depannya, kemudian mengacak-ngacak rambutnya hingga berantakan.


[Mengapa jadi begini, sih? Ke mana Vira yang berani itu? Aduh!]


Elvira mengusap wajahnya yang kusut dengan kasar.


Beberapa waktu kemudian


Kriettttttttt


Dengan pelan sekali Elvira mencoba membuka pintu kamar mandi. Ia berusaha untuk tidak menimbulkan suara sekecil apapun. Dan ia berharap Radika sudah ketiduran. Itu adalah doanya dalam hati sedari tadi.


Sayang, doa Elvira sepertinya langsung dikembalikan dari langit. Karena begitu ia keluar, sepasang mata langsung menatapnya tajam. Seperti srigala lapar, jantung Elvira sampai mau copot karena kaget mendapati Radika sudah menunggu sejak tadi.


"Lama sekali!" komentar pria itu. Dan masih belum memakai pakaiannya. Masih hanya berlapis handuk putih. Sepertinya Radika mau menggoda Elvira. Terlihat dari ujung bibirnya yang menyimpan senyum tersembunyi.


"Oh itu, apa lama? Aku pikir cuma sebentar." Elvira mencoba berkelit. Ia berjalan melewati suaminya. Berusaha bersikap sangat biasa. Namun, seperti tidak kelihatan natural.


"Apa saja yang kamu bersihkan? Mengapa lama sekali?" pancing Radika.


"Biasa ... cuma mandi biasa!" jawab Elvira disertai rasa gugup yang sengaja ia samarkan.


"Kenapa keramas? Nanti saja harusnya!" bisik Radika sembari melepas lilitan handuk di atas rembut Elvira.


[Tetap sadar, Vira! ... kuasai dirimu sendiri]


[Dia hanya Radika! Only Radika! Astaga ... ada apa dengan tubuhku?]


Begitu banyak bisikin yang membuat Elvira tidak bisa berpikir dengan jernih. Semua langsung berdenyut, menyerangnya bersama dengan sentuhan demi sentuhan yang Radika lakukan padanya. Baru juga pria itu bermain-main dengan leher jenjangnya. Elvira sudah meremang.


"Malam ini, kamu milikku!" bisik Radika sekali lagi, sangat pelan hingga membuat Elvira tambah melayang.


"Sssttt!"


"Pindah sana, ya!" Tidak sabar, Radika langsung membopong istri yang baru ia nikahi tadi pagi.


Bukkkkkk


Keduanya pun mendarat di atas ranjang king size dengan seprai putih polos tanpa motif. Sengaja Radika menyiapkan semuanya dengan sedemikian rupa. Ia ingin menciptakan karya seninya sendiri. Besok pagi, pokoknya seprai itu harus keluar dari kamar dengan kondisi yang tidak sama.


Deg Deg Deg ...


Dadaa Elvira naik turun, jantungnya pun berdegup lebih dari biasanya. Begitu juga dengan Radika. Dia memang terlihat tenang dan sangat professional. Tapi tahukah Elvira, bahwa ini juga kali pertama bagi Radika. Jelas ia juga berdebar tidak karuan. Hanya saja ia lebih pandai menyembunyikan rasa itu. Hingga terlihat yakin dan percaya diri. Semua itu hanya kamuflase belaka. Karena Radika juga gugup.


"Rileks!" tiba-tiba Radika berseru ketika melihat wajah gelisah Elvira. Padahal dua-duanya sudah sama-sama tegang.


Elvira hanya melipat bibir, kemudian mengigit bibirnya. Wanita itu lalu mengangguk pelan.


"Kita pelan-pelan, jangan khawatir!"


Mendengar suaminya berkata begitu, Elvira makin kepikiran. Aduh ... belum lihat saja ia suka takut. Ya ampun... otak ... kenapa otak!! Sudah terbang ke mana-mana. Elvira jadi geli sendiri.


Setttttt


[Ish! Aduh]


Elvira semakin gelisah tak kalah Radika sudah melempar handuk yang sejak tadi jadi perisai terakhir suaminya itu.


Cup


Elvira sudah mati kutu! Radika mengecupnyaa singkat. Suasana menjadi hening, hanya terdengar hembusan napas dari keduanya.


Detika berikutnya, Radika menyisir wajah istrinya tersebut. Diamatinya wajah Elvira dengan dalam. Kemudian ia mengecupnyaa lagi. Namun, di tempat yang lain. Bukan pada bibir, tapi bagian yang lain. Semakin turun, semakin ke bawah. Seperti cacing, Elvira tidak bisa menahan rasa geli yang langsung menyerang tiba-tiba.


Semakin Elvira mengeliat, semakin Radika bersemangat. Jantungnya terpacu, seakan aliran darahnya mengalir lebih deras. Darahnya semakin terasa mendidih, tidak tahan, Radika langsung saya membuka paksa handuk kimono yang masih dipakai Elvira.


"Eh!"


Kaget! Elvira mencoba bangun dan meraih apa saja untuk menutupi tubuhnya. Sumpah, rasanya malu sekali tidak memakai apapun di depan suaminya. Ini adalah pertama kali ia tidak pakai apapun di depan seorang pria.


Setttttt


Elvira mendapat satu bantal. Pas untuk menutupi tubuhnya.


"Ish! Apa yang kamu lakukan? Buang benda itu!" protes Radika. Bantal itu hanya menutupi bukit barisan yang nampak indah bila dipandang.


"Tunggu! Tunggu! Vira malu!" akunya dengan lirih.


"Ishhh!!! Ayolah Vira! Kita sudah dewasa! Mana sabuk hitammu! Astaga! Jangan bilang kamu juga takut dengan ini?" Dengan percaya diri Radika menunjukkan miliknya.


Bukkkkkk


Reflek, Elvira melempar bantal tadi tepat ke tongkat hansip. Membuat Radika terkekeh. Betapa polosnya istrinya itu. Astaga!


[Siallll mengapa seperti itu! Ya ampun ... Vira kamu pasti sudah Gila!]


Matanya tertutup rapat, tapi bayangan tongkat hansip terus saja menempel di pelupuk mata.


Cup


Melihat reaksi ketakutan sang istri, Radika kembali memulai pemanasan. Ia tidak akan langsung ke inti. Karena sepertinya Elvira benar-benar tidak berpengalaman. Sama juga sih seperti dirinya. Hanya lihat di film-film saja. Sama sekali belum praktek. Dan .... kini saatnya uji nyali.


"Eh!!!" Elvira panik. Ia gelisah karena tongkat hansip terasa hangat di atara kedua kakinya.


[Aduh!]


Merasakan tubuh kaku Elvira, Dika kembali mengecupnyaa. Kali ini dimulai dari bibir lagi. Ia menciiumnya, lama ... semakin dalam dan menuntut. Hingga Elvira sulit mengambil napas.


Karena hampir kehabisan napas, Elvira mendorong tubuh Radika. Ia mengambil napas dalam-dalam, napasnya yang semula memburu semakin terdengar jelas. Keduanya saling menatap, kemudian kembali lagi bertautan.


Janda perawan itu kembali dibuat mengeliat, meremang tidak beraturan tak kala tangan Radika meremass-remass. Yakin sudah ada yang lembab, sekali tusukan Elvira langsung meringis menahan sakit.


"Tahan, Sayang!" bisik Radika dengan suara serak.


Jrushhhh ..... Bersambung.


Jangan lupa matikan kompor yaaaaaaaa...


Kaboooorrrr!