Suami Satu Malam

Suami Satu Malam
Tatapanmu


Suami Satu Malam 95


Oleh Sept


Rate 18 +


Wajah pucat Jane berubah memerah, ia sangat malu. Terlalu nyaman tidur dipeluk Rayyan, membuat Jeandana terlena. Mungkin sudah lupa, kalau sekarang sedang di rumah sakit.


Wanita itu pun bergegas melepaskan tangannya, membiarkan Rayyan bangkit dan beranjak dari ranjangnya.


Rayyan sendiri masih merasa tidak enak. Namun, bagaimana lagi. Toh, Jean itu istrinya. Tidak apa-apa kan mereka terciduk di atas ranjang yang sama? Hanya saja, mungkin tempatnya yang kurang pas.


Dengan canggung Rayyan pun mempersilahkan sang dokter untuk memeriksa kondisi Jeandana. Sedangkan ia sendiri, ke kamar kecil sebentar. Ingin membasuh wajahnya terlebih dulu.


Beberapa saat kemudian


"Bagaimana kondisi istri saya, Dok?"


Dokter tersebut kemudian tersenyum ramah.


"Harus istirahat total ya, Pak. Meski pagi ini sudah membaik dari sebelumnya, Saya tetap sarankan Bu Jeandana tetap bed Rest."


Rayyan mengangguk malu-malu. Tatapan sang dokter membuatnya tidak enak hati. Ia seolah ditatap bagai tersangka yang harus dicurigai.


"Baik, Dok. Terima kasih."


Dokter itu pun balas mengangguk. Kemudian pamit keluar. Ganti mengecek kondisi pasien yang lain.


KLEK


"Kamu dengar apa kata dokter tadi?" ujar Pak Perwira begitu pintu tertutup.


Pak Perwira menatap galak pada Rayyan, meski hatinya tidak memendam benci pada anak menantunya itu. Hanya saja mungkin sudah jadi karakternya Pak Perwira. Tatapan terkesan selalu tegas. Beda kalau menghadapi sang putri. Pria itu cenderung melunak. Apalagi kini putrinya yang tangguh malah terbaring lemah. Pak Perwira pun mencari-cari orang untuk disalahkan.


"Iya, Pa ..." Rayyan kemudinya mendekati Jean.


"Pulang di sini kita pindah ke rumah mama ya? Aku khawatir kalau ninggalin kamu sendirian di rumah," tambah Rayyan lagi.


"Kan ada bibi, dan banyak lainnya?" protes Jeandana.


"Jen ... nurut sama suamimu!" potong Pak Perwira.


[Tumben papa dukung Rayyan]


Jean menatap papanya yang mengangguk sambil mengedipkan mata padanya.


"Papa juga merasa lebih lega kalau kamu tinggal dengan mertuamu itu, Jean. Apalagi suamimu suka pergi-pergi!" tambah Pak Perwira. Sembari tangannya mengusap kepala Jean dengan sayang.


Karena semua bilang begitu, Jean pun tinggal ikut. Apalagi papanya yang menyuruh.


***


Sesuai rencana, begitu Jean keluar dari rumah sakit setelah tiga hari dirawat, mereka langsung pulang ke kediaman Wiratmaja. Mama Sarah sudah menyiapkan kamar Rayyan yang sebelumnya.


Sedangkan Radika dan keluarga kecilnya, mereka sudah menempati rumah barunya. Bila sebelumnya Elvira yang sempat tinggal di sana, kini ganti Jean dan Rayyan.


"Sini, Mama bawa!" seru mama Sarah ketika Jean masuk ke kamar lama Rayyan.


"Makasih, Ma."


"Anggap rumah sendiri, ini juga rumah kalian."


"Sudah Ray! Letakkan di situ saja. Biar bibi yang bereskan. Kalian pasti capek. Istirahat dulu ... Mama ambilin minuman ya."


"Nggak usah, Ma. Nanti Jean ambil sendiri." Jean mencegah sang mama mertua repot-repot.


"Udah ... kamu rebahan saja. Ingat dokter bilang apa."


Jean jadi tidak enak sendiri. Ia pun akhirnya menurut.


Selama tinggal di sana, belum ada masalah sama sekali. Semua berjalan mulus, Jean mendapat istirahat cukup, perhatian yang lebih dan banyak kasih sayang di sekitarnya.


***


Senin pagi, sudah satu minggu Jean tinggal di sana di kediaman keluarga Wiratmaja. Pagi ini Rayyan sudah siap-siap mau berangkat kerja. Tapi sebelum ngantor, seperti biasanya ia memulai rutinitas pagi dengan membawa sarapan untuk Jean ke kamar.


"Besok jangan bawa ke kamar ya, aku sarapan di luar saja." Jean tidak enak, masak makan saja dianter ke kamar.


"Nurut sama dokter Rai, biar kamu pulih. Aku pingin lihat kamu strong lagi!" jawab Rayyan sambil tersenyum jahil.


Membuat Jean tidak bisa marah, wanita itu langsung membuang muka untuk menyembunyikan senyumnya. Rayyan jadi gemas, Jean si wanita kanebo kering kalau tersipu malu, bikin hatinya jadi ngilu. Duh ... Rayyan kelihatan sudah tidak sabar membolak-mbalik wanita tersebut.


"Sini ... aku bisa makan sendiri."


"Ish, nurut ya! Buka mulutnya ... haaaak!" Rayyan meminta Jean membuka mulut.


"Ray! Aku bukan anak kecil!" jelas saja Jean menolak.


"Siapa bilang kamu anak kecil? Ibu dari anakku ... Ayo kesayangan aku .. haaak!"


Buuukkkk


Jean menepuk lengan suaminya. Pipinya sudah merona, dia benar-benar merasa malu. Melihat Jeandana salting, Rayyan kembali usil.


"Apa mau sarapan yang lain?"


"RAIII!"


Rayyan terkekeh. Gemas, ia kecupp pipi Jean kanan dan kiri.


"Cepet pulih ya ...!" bisik Rayyan di sela-sela ia memberikan kecupann.


Jean mendongak, menatap wajah suaminya lekat-lekat. Terlihat lembut dan tulus. Rayyan jadi ingin memakannya.


[Jangan menatapku seperti itu, Jean]


Rupanya, tatapan Jean pagi itu membuat Rayyan berdesir.


[Ingat Ray! Bed Rest!]


Bersambung





Mengandung Iklan hehehehe