
Suami Satu Malam Bagian 38
Oleh Sept
Rate 18 +
"It's oke! Gak usah minta maaf. Kita bisa mencoba lagi. Lagian juga baru bulan pertama. Gak apa-apa!"
Radika meraih tubuh Elvira, memeluknya dengan hangat. Melihat ekpresi kesedihan istrinya itu, ia jadi tidak enak sendiri. Ingin menghibur, Radika pun mengusap punggung Elvira. Karena Radika sadar, kadang impian tak sesuai realita.
"Tidak apa-apa! Udah, nggak usah sedih lagi!"
Dilepasnya tubuh Elvira, kemudian memegang kedua pundak sembari menatap dalam-dalam.
"Keep smile! Mas nggak mau lihat wajah sedih seperti ini lagi!"
Mata Elvira malah berkaca-kaca, kemudian melingkarkan lengannya pada pinggang suaminya yang rata tersebut. Cukup lama keduanya berpelukan, dan baru lepas saat perawat datang.
Dengan lesu Radika menarik diri, kemudian menemui dokter bersama Elvira.
[Nggak hamil, ngapain konsul segala?]
[Perut kambuh lagi, astaga! Ini kenapa bisa mendadak mual lagi?]
"Vir, Mas ke toilet dulu!"
Elvira mengangguk, ia pun berjalan bersama suster untuk menemui dokter.
Singkat cerita, Elvira sudah berbaring di ranjang rumah sakit. Hanya dokter dan seorang perawat. Sedangkan Radika belum kembali. Dan saat perutnya sedang diolesi gel, pintu ruangan malah terbuka.
[Nggak hamil kok dibawa ke ruang dokter kandungan?]
Radika masuk dengan hati yang terus mengerutu. Saat masuk, ia jelas kaget. Kenapa Elvira di USG.
[Apa mungkin memeriksa kesuburan?]
Kepalanya terus menduga-duga. Tidak mau senang, takut kecewa seperti beberapa saat yang lalu. Tapi, wajahnya nampak bingung ketika dokter tersebut tersenyum padanya dan memberikan ucapan selamat.
"Congratulations! She's carrying a Baby ... baby twins!"
Seperti tersengat alisan listrik pendek, Radika dibuat terkejut akan ucapan selamat dari dokter di depannya. Ia terlihat shock, dan menatap dokter serta Elvira secara bergantian.
"look at this!" seru dokter obgyn berambut pirang tersebut.
Ia meminta Radika memperhatikan layar yang memperlihatkan dua titik sebesar biji timun tersebut.
"Twins?" tanya Radika seolah tidak percaya.
"Yes of course!" Dokter itu menjawab sambil menahan senyum. Ia ikut senang dengan ekpresi bahagia campur terkejut dari keluarga pasiennya itu.
"Are you serious?" Ia masih saja belum yakin.
Radika kemudian mendekati ranjang, ia mengusap wajah Elvira. Memegang pipi istrinya itu.
"Kamu tadi ngeprank, Mas?"
Bukannya menjawab, Elvira diam saja. Namun, tidak bisa menyembunyikan senyumnya.
"Ya ampun, Vira! Sejak kapan kamu jadi jahil seperti ini?"
Cup Cup Cup
Tidak peduli ada dokter di sana, ada perawat juga sih. Radika malah cuek saja, seolah semua pada ngontrak. Dengan wajah gembira ia mengabsen seluruh muka istrinya. Dikecupnyaa satu persatu, dari kening hingga turun ke bibir.
[Astaga! Kenapa dia sangat semangat sekali?]
[Tadi pagi sepertinya dia pucat, lesu dan tidak ada gairahh. Eh ... ini kok semangat 45?]
Ehem ... ehem
Dokter pun berdehem, membuat Radika langsung melepaskan Elvira. Dengan wajah sumringah, ia mengucap terima kasih pada dokter tersebut.
***
Pulang dari Rosemary's Hospital, mereka bukannya langsung ke Villa. Tapi malah ke hotel.
Misisipi International HOTEL
"Kok ke sini?" Dahi Elvira mengkerut ketika mobil berhenti tepat di depan sebuah hotel bintang lima.
Bukannya pulang ke Villa, mereka malah ke tempat lain. Jelas saja Elvira mulai bertanya-tanya. Calon ibu muda itu terlihat begitu penasaran.
"Kamu lagi hamil, Vira! Mas gak mau nanggung resiko! Di villa terpencil seperti itu. Kita di sini saja, Mas akan siapin semua, lalu pulang."
Elvira cuma mangut-mangut.
"Ya udah, terserah Mas Dika saja," ucapnya pasrah.
"Bagus!"
Radika mengusap kepala Elvira. Mereka kemudian check in, dan beristirahat di salah satu kamar di sana. Ketika sampai di dalam, baru juga masuk. Radika kembali merasakan mual-mual. Elvira sampai tidak tega. Saat suaminya masih di kamar itulah, ia menghubungi Irene.
[Ren! Sudah tidur]
Ting
Pesan terkirim, kemudian langsung mendapat balasan.
[Baru bangun, semalam Kimora rewel. Mungkin kecapekan, jalan terus dia. Kan baru bisa jalan, nggak berhenti jalan pokoknya, Mbak Vira gimana? Udah sites?]
Ting
[Ya ampun Irene ... Aku seneng bangettttt]
Ting
[Benarkah? Mbak Vira hamil? Astaga! Tokcer banget itu suami Mbak Vira! Nggak sia-sia dikekep di pulau terpencil. Ya ampun, mama, papa pasti happy dengar kabar ini]
Ting
[Jangan bilang dulu, dalam waktu dekat Mbak mau pulang]
Ting
[Ok! Makasih, Ren]
KLEK
Tap tap tap
Radika berjalan dengan lesu, dilihatnya Elvira sedang memegang ponsel.
"Telpon siapa?"
"Chatting sama Irene."
"Ngomongin apa?"
Belum dijawab, pria itu malah berbalik dan langsung ke kamar mandi.
Huek huekkkkk
"Sepertinya kita butuh sesuatu deh, Mas. Biar perut Mas Dika lebih nyaman." Elvira mengusap punggung suaminya.
"Ya ampun, kenapa ini? Yang hamil kamu kan? Kenapa yang lemes dan mual-mual malah Mas?"
Ditanya seperti itu, Elvira hanya tersenyum. Mana dia tahu.
"Ayo sini! Aku gosokin pakai minyak!"
"Nggak! Mas nggak suka baunya."
"Ish ... dikit aja!"
Akhirnya Radika berbaring, pria itu kemudian diam saja ketika Elvira mengusap perutnya.
"Jangan banyak-banyak!" protesnya.
"Iya!"
Saat Elvira mengosok perutnya, memijit-mijit pelan, Radika malah menatap wajah Elvira tanpa kedip.
"Jangan lihat seperti itu, nanti copot!" terang Elvira mulai jahil.
Setttttt
Radika langsung saja meraih Elvira, berani sekali istrinya meledek. Ia pun memberikan hukuman singkat. Namun, membuat pipi Elvira seketika merona.
BUGH
Elvira memukul lengan Radika, sempat-sempatnya pria itu menyesapnyaa singkat. Kan jadi meremang.
"Aduh! Jangan main pukul!"
"Salah sendiri!"
"Ish! Mana yang salah?"
"Udah, Mas Dika tidur saja. Istirahat! Jangan aneh-aneh!"
"Aneh-aneh? Bikin istri hamil kok aneh-aneh. Tapi ... btw, makasih ya sayang!" Radika menyentuh perut Elvira, masih belum kelihatan hamilnya. Kan masih sebesar biji mentimun. Masih sangat kecil saat ia tadi melihat hasil USG.
"Cepat besar ya kesayangan-kesayangan Papa!"
Cup cup cup
Muahhhhh
Elvira jadi geli sendiri. Sikap Radika sangat tidak biasa.
"Kira-kira mereka laki-laki atau perempuan? Astaga! Kenapa Kita tadi tidak bertanya?"
Elvira langsung terkekeh, sejak kapan janin sebulan bisa diketahui laki-laki atau perempuan? Dasar Radika, membuatnya geleng-geleng kepala.
"Apa kita ke rumah sakit lagi?"
"Ish! Masih sangat terlalu dini, Mas. Rumah sakit manapun jawabannya pasti sama."
"Benarkah? Kamu kok paham betul?" Radika tambah curiga.
"Yang anter Irene pas cek kehamilan saat Kalandra sibuk, itu aku Mas."
"Oh!"
"Kira-kira berapa minggu lagi kita bisa lihat cewek atau cowoknya?"
"Masih lama!"
"Ada nggak obat buat mempercepat? Atau teknologi maju? Kita cari rumah sakit terbaik, mungkin bisa mengetahui lebih dini."
Melihat betapa seriusnya wajah Radika, Elvira hanya bisa terkekeh. Ia kemudian mengecupp pipi suaminya.
"Nggak bisa! Harus sabar menunggu!"
Akhirnya Radika hanya bisa pasrah.
***
Beberapa hari kemudian.
HK International Airport
Elvira dan Radika baru saja transit dari penerbangan satu ke penerbangan yang lain. Keduanya berjalan sambil menggandeng tangan. Lebih tepatnya, Radika yang terus mengengam tangan istrinya itu. Ketika berjalan itulah, tanpa sengaja Radika mengenali sosok yang sedang berjalan ke arahnya.
"Tuan Salim?" sapa Radika saat keduanya berpapasan.
Pimpinan Salim Wijaya Group's tersebut langsung tersenyum ramah, dan menyapa balik dengan hangat. Kedua pria itu pun saling berjabat tangan.
"Kenalan, istri saya!" Radika merangkul bahu Elvira.
"Salam kenal ... Vira!" Elvira mengulurkan tangan.
"Senang bisa bertemu dengan kalian di sini, salam kenal Vira."
Bersambung